Rupiah Kian Perkasa, Terkuat Sejak Era Pandemi Covid-19

Nilai tukar rupiah di akhir minggu berada di bawah Rp 14.000 per dolar AS, alias level terkuat sejak era pandemi Covid-19.

Tribun News
ilustrasi uang rupiah menguat 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah di akhir minggu berada di bawah Rp 14.000 per dolar AS, menjadi level terkuat sejak era pandemi Covid-19.

Jumat (5/6) siang, di pasar spot rupiah menguat ke Rp 13.885 per dolar AS, dibandingkan saat pembukaan perdagangan paginya, Rp 14.075 per dolar AS.

Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede berpendapat berlanjutnya penguatan rupiah karena sentimen domestik menyusul penerapan masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta, yang diharapkan mampu mendorong produktivitas kegiatan ekonomi.

“Jika implementasi PSBB terbatas yang nantinya akan diikuti juga oleh implementasi normal baru dapat berjalan baik tanpa menimbulkan kasus baru lagi di kemudian hari, aktivitas perekonomian pada kuartal III 2020 diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal II,” ujarnya.

Selain itu, dari sisi eksternal, mata uang “greenback” dolar AS juga telah melemah 1,56 persen dalam sepekan terakhir. Pelemahan mata uang paling berpengaruh di dunia itu disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor setelah pembukaan kembali kegiatan ekonomi di berbagai negara Asia.

“Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali yen. Penguatan lebih lanjut dari rupiah juga akibat adanya investor yang memindahkan asetnya dari pasar India, akibat adanya penurunan peringkat (downgrade rating) dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunnya prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif,” ujar Josua.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis rupiah semakin menguat mencermati nilai tukar yang diperdagangkan pada Jumat sore. “Alhamdulilah terus menunjukkan penguatan sejalan dengan pandangan kami bahwa nilai tukar, untuk hari in, masih undervalue sehingga ke depan masih berpotensi menguat,” katanya dalam keterangan pers daring di Jakarta, Jumat.

Adapun perkembangan nilai tukar rupiah yang diperdagangkan bid over hingga Jumat sore mencapai Rp13.855 per dolar AS dan over mencapai Rp13.960 per dolar AS.

Gubernur BI mengungkapkan beberapa faktor yang mendorong rupiah menguat di antaranya inflasi dan defisit transaksi berjalan yang rendah, kemudian perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri, serta premi risiko yang menurun.

Perry menjelaskan tingkat inflasi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2020 merupakan inflasi yang rendah yakni 2,19 persen dibandingkan tahun lalu. Sedangkan perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri untuk surat berharga negara (SBN) saat ini mencapai 7,06 persen untuk tenor 10 tahun.

Halaman
12
Editor: Rimna Sari Bangun
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved