Sabtu, 30 Mei 2026

TRIBUN WIKI

PROFIL dan Sejarah Bright PLN Batam, Perusahaan Pengelola Listrik di Batam

Bright PLN Batam adalah Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Umum (PIUKU) dengan wilayah kerja Batam, Rempang dan Galang.

Tayang:
TribunBatam.id/Istimewa.Dokumentasi bright PLN Batam
Karyawan menjelaskan layanan bright PLN Batam kepada konsumen. 

TRIBUNBATAM.id - Kota Batam dan sebagian wilayah Bintan mengalami pemadaman listrik sejak Kamis (4/6/2020) malam.

Hal ini disebabkan oleh adanya kerusakan salah satu ruas jaringan transmisi PLN Batam akibat tersambar petir.

Hingga Jum'at (5/6/2020) kemarin, sejumlah wilayah di Kota Batam masih harus mengalami pemadaman bergilir.

Pemadaman diperkirakan masih akan berlanjut selama kondisi pasokan listrik di Batam belum stabil.

Seperti diketahui, kebutuhan listrik di Kota Batam dikelola oleh bright PLN Batam.

Profil dan sejarah Bright PLN BATAM

Bright PLN Batam adalah Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Umum (PIUKU) dengan wilayah kerja Batam, Rempang dan Galang.

Perusahaan ini merupakan perusahaan swasta yang kepemilikannya didominasi oleh PT PLN Persero.

Dalam operasionalnya, bright PLN Batam tidak menggunakan subsidi anggaran dari pemerintah.

Melansir situs resmi bright PLN Batam, kiprah pengelolaan ketenagalistrikan untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat Batam awalnya dilakukan oleh Pertamina, tepatnya pada tahun 1971.

Kala itu, Pertamina dipercaya sebagai instansi pertama yang mengelola daerah industri Pulau Batam.

Bermodalkan PLTD yang memiliki daya pasang cukup rendah yakni 2 x 188 KvA, waktu itu listrik hanya bisa dirasakan oleh Pertamina dan perumahan karyawannya saja.

Seiring dengan perkembangan Batam yang mulai meningkat, akhirnya tahun 1976 pemerintah Indonesia membentuk Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB) untuk mengelola kota yang berbentuk Kalajengking ini.

Kepala OPDIPB diserahkan ke tangan Menteri Penertiban Aparatur Pembangunan, JB Sumarlin.

Sejak itu, semua proyek yang dikelola Pertamina diambil alih oleh OPDIPB, termasuk pengelolaan ketenagalistrikan.

Bisnis ketenagalistrikan saat itu dikelola Unit Pelaksana Teknis Otorita Batam (UPT OB).

Kapasitas pembangkit pun masih rendah, hanya sebesar 17,5 MW.

Setelah tugas JB Sumarlin usai, tepat tahun 1978 Ketua Otorita Batam dipegang oleh Prof Dr Ing Bj. Habibie.

Dalam pimpinan Habibie, Batam sudah mulai diarahkan sebagai kota industri.

Listrik sebagai kebutuhan vital dalam industri dan kalangan usaha, tentu membutuhkan pasokan listrik dan mulai saat itu dilakukan pembangunan PLTD di Sekupang dan Batuampar.

Total daya terpasang pada periode 1976-1992 sebesar 45,5 MW dan disalurkan ke daerah Sekupang dan Batuampar.

Perkembangan Batam kala itu pun tak dapat terbendung lagi.

Investor-investor asing sudah mulai melirik potensi yang ada di Batam.

Tak pelak lagi kalau Otorita Batam saat itu cukup kewalahan mengelolanya, sehingga satu persatu dilepas, termasuk bisnis ketenagalistrikan.

Akhirnya, pada 1 Januari 1993 berdasarkan kesepakatan pemerintah dan OB, pengelolaan ketenagalistrikan diserahkan ke PT PLN (Persero) Wilayah Khusus Batam.

Berdasarkan keputusan Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN, selaku Pemegang saham PT PLN (Persero) dalam surat No S-23/M-PM-PBMUN/2000 tanggal 23 Agustus 2000, pada tanggal 3 Oktober 2000, status PT PLN (Persero) Wilayah Khusus Batam berubah menjadi PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (PT PLN Batam) dengan status sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero), sebagai unit mandiri yang mengelola kelistrikan dari hulu sampai hilir.

Pada Juni 2008 PT PLN Batam melakukan rebranding menjadi b’right PLN Batam.

Tahun 2015 Bright PLN Batam  membantu PT PLN (Persero) Wilayah Riau & Kepualuan Riau dengan interkoneksi Batam-Bintan.

Interkoneksi kelistrikan adalah bagian program merangkai pulau.

Tahap awal daya Listrik dialirkan sebesar 20 MW dari Batam ke Bintan melalui gardu induk Tanjung Uban sebagai titik terima energi dari saluran kelistrikan Batam.

Proyek interkoneksi jaringan 150 KV berjarak ± 17,9 KM dari Batam ke Bintan ini digesa untuk menjawab keraguan  PMA yang akan berinvestasi serta untuk menopang pertumbuhan perekonomian provinsi Kepulauan Riau menuju double digit.

Tahap berikutnya, evakuasi daya ditargetkan sampai 75 MW mengalir ke Pulau Bintan.

Sampai dengan akhir 2017, b’right PLN Batam memiliki kapasitas terpasang kurang lebih 623,286 MW dan daya mampu kurang lebih 547,490 MW dengan beban puncak  Batam-Bintan 415 MW.

Di sisi produksi, sejak tahun 2004 b’right PLN Batam menerapkan fuel mix strategy, dan sampai dengan tahun 2011 komposisi pemakaian energi primer tercatat sebesar 59.92% menggunakan bahan bakar gas, 34.82 menggunakan bahan bakar batu bara dan 5.26% berbahan bakar minyak.

bright PLN Batam diberi penugasan oleh PT PLN (Persero) selaku holding untuk membantu program 35.000 MW yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini demi menuntaskan masalah kelistrikan dan menaikkan rasio elektrifikasi di beberapa daerah di Indonesia.

Bentuk partisipasi bright PLN Batam adalah menyediakan pembangkit listrik di beberapa daerah di wilayah usaha PT PLN (Persero) menggunakan Mobile Power Plant (MPP) berbahan bakar gas dengan total kapasitas 500 MW.

Untuk proyek MPP 500 MW bright PLN Batam membentuk unit bisnis agar fokus terhadap proyek tersebut yaitu bright Energy Services (bES).

Visi 

“Menjadi perusahaan energi yang utama di Indonesia”

Misi

“Kami menyediakan tenaga listrik secara efisien dan andal serta jasa lainnya dalam bidang energi untuk meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat melalui pelayanan yang terbaik dan bertumpu pada sumber daya manusia.”

Tujuan Perusahaan

Menyediakan tenaga listrik dan energi lainnya. (TRIBUNBATAM.id/WIDI WAHYUNINGTYAS)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved