Senin, 4 Mei 2026

PILWAKO BATAM

Maju Lewat Jalur Independen, Rian Ernerst Mengaku Tak Gentar Ikut Pilwako Batam

Jumlah dukungan yang sempat susut, tidak menyebabkan Rian Ernest gentar maju ke pilkada 2020 ini

Tayang: | Diperbarui:
DOKUMENTASI
Rian Ernest mengaku tak gentar maju dalam Pilwako Batam melalui jalur independen. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sempat membuat pernyataan akan berpikir dua kali maju ke pilkada di tengah pandemi, Rian Ernest saat ini mengaku masih optimis berlaga di kontestasi Calon Walikota Batam secara independen.

Kendati pada tahap verifikasi berkas, dukungan untuk pasangan calon Rian Ernest dan Yusiani Gurusinga susut 1620 orang, Rian mengaku sebagai penantang, ia harus bekerja 10 kali lebih keras.

Tantangan yang dihadapi Rian dalam kontestasi politik ini cukup besar.

Pertama, ia maju sebagai calon independen yang tidak disokong oleh partai politik. Kedua, modal kampanye blusukan yang sering dijalankannya, agak sukar dilaksanakan selama pandemi Covid-19 ini.

"Saya teringat, saya katakan statement itu sebenarnya sebelum melihat hasil verifikasi administrasi," jelas Rian dalam Tribun Podcast, Jumat (26/6/2020).

Jumlah dukungan yang sempat susut, tidak menyebabkan Rian Ernest gentar maju ke pilkada 2020 ini.

Meski demikian, ia tetap realistis, jalan yang ditempuhnya penuh tantangan.

Selama ini, kampanye Rian hanya dijalankan secara blusukan, yakni bertemu langsung dengan masyarakat, dan membangun koneksi.

Hal itu tentu sulit dilakukan di masa pandemi Covid-19 ini. 

"Blusukan di saat Covid-19 kan kita jadi agak repot, salah satunya pakai masker. Kalau pakai masker kan orang jadi nggak kenal saya juga," ujar Rian.

Namun, jalan kampanye ini akan tetap ia lakukan. Ia mengaku sangat menghindari politik uang, sebab dirinya tidak ingin terbebani dengan keharusan mengembalikan modal kampanye.

"Selain saya nggak punya uang sebanyak itu, saya juga nggak ingin terbebani harus balik modal, dan sebagainya," ucapnya.

Walau demikian, Rian menilai politik uang masih marak diterapkan di Kota Batam.

Padahal menurutnya, perekonomian dapat berjalan lancar apabila disokong oleh iklim politik yang tepat.

Dengan memilih kandidat yang kompeten, jujur dan berorientasi pada masyarakat, maka tujuan kesejahteraan ekonomi dapat mudah terlaksana.

Tersangka Korupsi Izin Bauksit Kena Tipu, Setor Rp 500 Juta, Minta Kasusnya Diamankan

Perayaan Ulang Tahun Lionel Messi saat Pandemi Virus Corona Berakibat Fatal, Sporter Kena Denda

"Kalau pakai politik uang, mental hari pertama pasti balik modal. Saya sendiri punya pengalaman, nggak ada kepentingan macam-macam, dan tidak dibeking oleh elit politik lain," tegas Rian.

Salah satu alasan lain mengapa Rian memilih maju sebagai calon independen adalah, dirinya tidak siap dengan keharusan membayar mahar politik apabila dicalonkan oleh partai tertentu.

Sekali lagi, Rian menyatakan tidak ingin terbebani persoalan demikian. Selebihnya ia juga ingin menunjukkan kepada masyarakat, bahwa maju ke politik tidak semata harus bermodal besar, namun yang lebih penting adalah niat dan ketulusan.

Ungkap Alasan Ikut Pilwako Batam

Calon Wali kota Batam Rian Ernest mengungkap alasannya ikut serta dalam Pemilihan Wali kota (Pilwako) Batam.

Dalam Tribun Podcast, Jumat (26/6/2020), ia mengakui Provinsi Kepri merupakan tanah leluhurnya.

Ibunya lahir dan besar di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Lewat jalur independen, Rian Ernest pun optimis maju di Pilkada serentak 2020 di Kota Batam itu.

"Batam ini kan melting pot ya. Masyarakatnya heterogen, kebanyakan adalah perantau. Dari sensus penduduk pertama di Kota Batam saja, hanya sekitar 6.000 orang yang penduduk asli Batam," ucapnya menggambarkan latar belakang Kota Batam.

Ia melihat potensi Batam sangat besar untuk dikembangkan sebagai salah satu kota termaju di wilayah Barat Indonesia.

Hal ini dilihat dari beberapa indikator, yakni keluasan lahan, lokasi yang strategis dekat dengan Singapura, serta demografi penduduknya yang kebanyakan usia produktif.

"Tetapi, di atas kertas, pencapaian Batam dibandingkan dengan potensi yang dimilikinya cukup buruk," tegas Rian.

Pria yang pernah menjabat staff ahli mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahya Purnama, ini mengaku merasakan panggilan hatinya adalah menduduki jabatan eksekutif dibandingkan legislatif.

"Kalau disuruh milih, saya orangnya tipe eksekutor, jadi lebih senang bekerja dalam ranah eksekutif," ujar Rian.

Sebagai eksekutor, tentu dirinya harus punya gelanggang politik sendiri. Maka dari itu, Rian Ernest memilih Kota Batam sebagai ring tempatnya menjalankan fungsi eksekutif tersebut.

Potensi Kota Batam menurutnya belum dikembangkan secara optimal selama ini.

Tidak lain, hal ini salah satunya disebabkan oleh kebijakan Pemerintah Kota yang dirasa kurang tegas.

Rian menggambarkan polemik taksi online dan taksi konvensional sebagai contohnya.

Duduk perkara masalah kedua jenis taksi ini menurutnya belum bisa terselesaikan di Batam, karena Wali kota belum menegaskan posisinya terkait hal ini.

"Kalau saya jadi eksekutor, jelas, taksi online boleh masuk bandara atau pelabuhan. Bukan karena saya pro taksi online, tetapi demi kepentingan masyarakat luas juga. Supaya lebih ekonomis pilihan transportasinya," jelas Rian.

Meski begitu, bukan berarti dirinya menganaktirikan taksi konvensional.

Menurutnya, di jaman digital yang canggih ini, perlu didiskusikan jalan tengah agar taksi konvensional bisa bergabung dalam aplikasi online sebagai mitra.

Saksikan News Webilog Tribun Batam Sabtu (27/6), Bahas Nasib Pasar Toss 3000 Akibat Pandemi Covid-19

Bupati Anambas Tanggapi Penjualan Pulau Ayam, Ahli Waris Angkat Bicara

Kemajuan-kemajuan seperti itu, menurutnya, bisa dicapai apabila kebijakan tersebut dijalankan oleh personil-personil di dalam birokrasi yang tegas dan kompeten.

Sesuai dengan pandangan tersebut, prinsip kekuasaan politik yang dianut oleh Rian adalah meritokrasi, di mana setiap orang yang kompeten dan berprestasi dapat menduduki jabatan kekuasaan.

"Di semua organisasi harusnya meritokrasi, dia yang bagus, dia yang kompeten, dia yang naik, kan begitu," tambah Rian.

Golkar Lirik Ahmad Hijazi

Partai Golkar menyiapkan lawan untuk bertarung di Pilwako Batam.

Calon alternatif di Pilwako Batam mengarah ke mantan Kadisperindag Batam Ahmad Hijazi.

Dalam Pilwako Batam nama-nama yang mencuat adalah pasangan Rudi-Amsakar Achmad serta Lukita Dinarsyah Tuwo-Abdul Basyid.

Rudi-Amsakar merupakan petahana, sedangkan Lukita Dinarsyah Tuwo-Abdul Basyid merupakan jago yang diusung PDIP, Gerindra dan PKB.

Ketua DPD I Golkar Provinsi Kepri Achamd Ma'ruf Maulana pada Minggu (21/6/2020) menyatakan pihaknya pada Pilwako Batam mendatang akan mengusung calon alternatif.

"Kita mencari sosok alternatif yang bisa didorong, dimana calon itu bisa mengatasi persoalan-persoalan ekonomi," sebut Ma'ruf di tengah kegiatan rapidtes masal yang dilakukan Partai Golkar Keprib di kantor DPD II Golkar Batam.

Ma'ruf mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang berkomunikasi intensif dengan mantan Kadisperindag Kota Batam Ahmad Hijazi untuk di usung di pilkada Serentak mendatang.

"Saya rasa dengan kehadiran Pak Hijazi masyarakat Batam sudah mendapatkan sosok yang di inginkan," ujar Ma'ruf.

Ia menyebutkan dan berkeyakinan Hijazi yang juga merupakan mantan Sekda Provinsi Riau itu bisa mendorong pertumbuhan dan percepatan ekonomi pasca korona nantinya jika terpilih menjadi Wali Kota Batam.

"Dan beliau (Ahmad Hijazi) kita harapkan bisa memberikan recovery ekonomi pasca Pandemi korona," sebutnya.

Dengan kehadiran Hijazi sebagai tokoh yang akan di uusung Golkar nantinya di katakan Ma'ruf selain sebagai poros tengah juga sebagai alternatif bagi masyarakat kota Batam.

Jawaban Rudi Soal Pilkada Serentak 2020

Peta politik Pilkada Serentak untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kepri maupun Pemilihan Wali kota (Pilwako) Batam masih dinamis.

Sejumlah nama telah muncul tetapi hanya beberapa pasang calon yang mendeklarasikan diri sebagai calon.

Sementara beberapa partai politik masih meraba arah koalisi dan dukungan kepada bakal pasangan calon.

Meski tahapan pilkada Serentak sempat tertunda akibat Pandemi korona, tetapi akhirnya di gelar kembali dimana pilkada Serentak akan dilaksanakan pada Tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Salah satu calon yang belum menentukan tegas secara pribadi atau mendapatkan keputusan partai di Pilkada serentak ialah Ketua DPW Partai Nasdem Kepri, Muhammad Rudi yang saat ini menjabat sebagai Wali kota Batam periode 2015 - 2020.

Muhammad Rudi belum mau menjawab gamblang hal tersebut ketika dikonfirmasi.

Ditemui di kantor Tribun Batam, keputusan itu akan muncul di awal Agustus 2020.

Ia menyebutkan dimana dirinya akan maju baik itu sebagai Wali kota Batam kembali atau maju sebagai Gubernur Kepri itu tergantung pada masyarakat Kepri secara umumnya.

"Belum putus, awal Agustus nanti keputusan untuk semua kabupaten kota termasuk rekomendasi untuk Provinsi Kepri. Saya terserah rakyat saja. Kalau mereka ingin saya di provinsi saya jadi gubernur, kalo ingin di Kota Batam jadi Wali kota Batam," sebutnya saat mendatangi kantor Tribun Batam pada Rabu (17/6/2020) malam.

Rudi yang masih malu malu untuk menentukan sikap untuk maju di Pilkada serentak mendatang itu karena dirinya masih menunggu putusan partai.

Meski demikian, Rudi sempat mengungkapkan keinginannya ketika disinggung dari hati kecilnya.

"Dalam hati kecil saya hanya ingin mengabdi kepada rakyat Provinsi Kepri," ujarnya.

Sedangkan untuk istrinya yaitu Marlin Agustin yang Juga di gadang maju di Pilkada Provinsi Kepri nantinya belum dikatakan gamblang oleh Rudi.

"Belum tahu," jawabnya singkat.(TribunBatam.id/Hening Sekar Utami/Alamudin)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved