Point Nemo, Tempat Misterius di Samudra Pasifik & Terjauh di Bumi, Manusia Terdekat Cuma Astronot
Sampai saat ini, para peneliti belum memetakan kehidupan bawah laut di Point Nemo karena lokasinya yang sangat terpencil
Ekspedisi mengarungi South Pacific Gyre
Kapal penelitian milik Jerman, FS Sonne, mengarungi South Pacific Gyre (SPG) pada Desember 2015 sampai Januari 2016.
Kapal tersebut mengarungi samudera sejauh 7.000 km, dari Chile sampai Selandia Baru.
Sepanjang perjalanan, kapal tersebut mengumpulkan populasi mikroba dengan kedalaman mulai 20-5.000 meter di bawah permukaan laut.
Kapal tersebut menggunakan sistem analisis terbaru yang memungkinkan para peneliti mengidentifikasi sampel organik dalam waktu kurang dari 35 jam saja.
“Menariknya, jumlah mikroba yang kami temukan sepertiga lebih sedikit dibanding area lain di samudera. Ini adalah jumlah paling sedikit dari mikroba di lautan,” tutur salah satu peneliti, Bernhard Fuchs yang merupakan ahli mikroba.
Penyebaran dari mikroba-mikroba ini bergantung pada kedalaman air, perubahan temperature, konsentrasi nutrisi, juga keberadaan sinar matahari.
Hal itu semakin meyakinkan peneliti bahwa SPG, terutama Point Nemo, merupakan “gurun pasir di tengah lautan” karena populasi yang minim serta lokasinya yang sangat terpencil.
Artikel ini telah tayang di kompas.com dengan judul Tempat Paling Ekstrem dan Terpencil di Samudera, Dijuluki "Kuburan Roket"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/29-6-2020-point-nemo.jpg)