TRIBUN WIKI
Mengenal Suku Laut, Pribumi Asli Kepulauan Riau yang Hidup Berkelana dengan Sampan
Kehidupan Orang laut terbilang sangat sederhana. Mereka yang bermukim di atas sampan hanya ditutupi kajang sebagai pelindung dari panas dan hujan.
Mereka yang bermukim di atas sampan hanya ditutupi kajang sebagai pelindung dari terik panas dan hujan.
Untuk menafkahi hidup, mereka mencari ikan dengan peralatan sederhana, seperti tempuling, tombak dan serampang.
Sejarah suku Laut
Melansir situs resmi Disbud Kepri, Suku Laut mulai menghuni wilayah Melayu-Lingga pada tahun 2500-1500 sebelum masehi sebagai bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua.
Mereka menyebar ke sebagian besar wilayah Sumatera melalui Semenanjung Malaka.
Tahun 1500 sebelum masehi, mereka terdesak ke arah pesisir laut karena adanya arus migrasi besar-besaran oleh bangsa Deutro Melayu.
Melansir situs resmi Disbud Kepri, Suku Laut dulunya adalah kawanan perompak.
Mereka berperan penting dalam kejayaan Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, dan Kerajaan Sriwijaya.
Tugasnya adalah menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, hingga memandu para pedagang ke pelabuhan kerajaan-kerajaan tersebut.
Mereka adalah orang-orang yang setia terhadap kerajaan.
Dulu, saat Kesultanan Malaka jatuh digantikan Kesultanan Johor, mereka meneruskan kesetiannya pada kerajaan tersebut.
Tahun 1699, Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh.
Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Pada 1718, Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya.
Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis, Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor.