Kamis, 7 Mei 2026

SAHAM

World Bank Naikkan Peringkat Indonesia, Betulkah Sudah Waktunya Optimis di Saham?

World Bank menaikkan peringkat Indonesia jadi negara dalam kategori upper middle income country.

Tayang:
Foto:Dok.Pribadi
Analis First Asia Capital, David Nathanael Sutyanto. 

TRIBUNBATAM.id - World Bank menaikkan peringkat Indonesia jadi negara dalam kategori upper middle income country.

Kenaikan peringkat itu terjadi di tengah isu pandemi Covid-19 yang memukul ekonomi dunia.

Dengan peringat itu apa maknanya? Apakah ini kabar baik atau buruk untuk Indonesia? 

 Berikut ini wawancara Kontan (Tribun Batam grup) dengan David Sutyanto Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas, beberapa waktu yang lalu untuk membicarakan berbagai isu terbaru di pasar finansial

Apakah Anda melihat kenaikan peringkat dari World Bank itu kabar baik atau buruk?

Angka GDP Indonesia memang naik, meskipun harus diperhatikan juga gini ratio Indonesia masih tinggi. Artinya ketimpangan masih sangat lebar, orang yang kaya kaya banget, yang miskin miskin sekali.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Kenaikan ini bisa menjadi apresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan pemerintah selama ini sehingga kesejahteraan meningkat. Harus kita akui, kesejahteraan di Indonesia meningkat kalau dibandingkan dengan 10-20 tahun lalu. 

Tapi kita juga harus hati-hati dengan “jebakan” lembaga asing, karena lembaga asing sebelum adanya krisis kadang suka memberikan apresiasi luar biasa. 

Contohnya adalah yang bikin saya sedikit skeptis adalah IMF bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih cepat pasca Covid, tapi kalau kita lihat angka PMI (Manufacturing Purchasing Manager Index)  sebenarnya kita ketinggalan dengan negara tetangga. Kita baru pulih kemarin 39 itu baru Bulan Juni yang lain itu Mei saja sudah 40 dan 50-an. Jadi kita agak ketinggalan sebulan. 

Lalu kemudian sekarang negara-negara tetangga kita kan sudah berhasil melandaikan kurva Covid-19. Kita kan belum mau landai, kita masih naik terus, kan lucu jadinya. 

Karena pernah kejadian juga di 1998, waktu itu kan kita dikatakan di 1996 akan take off segala macam, landasan GBHN kita kuat dan sebagainya, tahu-tahu kita ambruk. Kalau lihat kenyataannya sekarang kondisi di Indonesia yang dipuji-puji banyak pihak dikatakan akan paling cepat pulih. Ini kan kita kurvanya belum sampai puncak kok, mau pulih bagaimana perekonomiannya.

Inilah 10 Saham Paling Banyak Dibeli Asing Hari Ini

 Ini indikatornya bisa dilihat dari jumlah orang yang dites ya?

Kita di bawah Zimbabwe per 1.000 penduduk, jumlah orang yang dites-nya. Kita di bawah Zimbabwe jauh tertinggal di bawah negara-negara tetangga Asia Tenggara sekitar kita. Dengan Malaysia saja kita jauh. 

Saya bilang kondisi ekonomi bagi kita yang berpikiran objektif sekarang ini adalah kondisi ekonomi yang menarik. Kenapa? Ada terjadi banyak sekali anomali terjadi di pasar. Anomali-anomali inilah yang sebenarnya menarik untuk dilihat. Apakah nanti yang menang adalah optimismenya, Indonesia sangat kuat sangat resilient atau optimismenya itu mengaburkan pandangan kita.

Ada 2 hal yang nanti bisa kejadian, optimismenya yang menang atau optimismenya yang kalah. Kalau kita data secara real, Indonesia kan covid-nya belum ada apa-apanya, jauh dari kata selesai. Pemerintah sudah melonggarkan PSBB data hariannya kan naik terus. Dan itu juga jumlah tesnya belum maksimal dan itu delay-nya juga cukup jauh. 

Sumber: Kontan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved