Kamis, 7 Mei 2026

Singapura Khawatir Ketegangan AS-China akan Berlanjut Hingga ke Pemilihan Presiden AS Mendatang

Lee berbicara melalui dialog virtual yang diselenggarakan oleh Dewan Atlantik, yakni sebuah lembaga pemikir Amerika, di mana ia menyentuh tanggapan...

Tayang:
youtube.com gov.sg
Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong khawatir terkait ketegangan antara AS-China akan terus berlanjut di luar pemilihan presiden Amerika pada tahun ini. 

Editor: Lia Sisvita Dinatri / Penulis: Lia Sisvita Dinatri

TRIBUNBATAM.id, SINGAPURA - Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong mengatakan pada Rabu (28/7/2020), ia khawatir terkait ketegangan Amerika Serikat (AS)-China akan terus berlanjut di luar pemilihan presiden AS tahun ini. 

Dia menyoroti konsensus bipartisan tentang memperlakukan China sebagai ancaman. 

Melansir Channel News Asia, Lee berbicara melalui dialog virtual yang diselenggarakan oleh Dewan Atlantik, yakni sebuah lembaga pemikir Amerika, di mana ia menyentuh tanggapan negara Asia terhadap ketegangan AS-China.

Ditanya, apakah dia mengharapkan hubungan AS-China membaik setelah pemilihan presiden AS, Lee mengatakan dia sangat berharap hal itu terjadi. Namun, dia mengaku khawatir ketegangan ini akan berkepanjangan, bahkan setelah pemilihan presiden AS.

"Secara historis dalam tahun-tahun pemilihan presiden, hubungan AS-China selalu terjerat dalam kampanye presiden. Dan setelah itu, setelah beberapa waktu ketika pemerintahan baru terbentuk, Anda mulai memahami seperti apa, sebenarnya, dunia ini seperti apa dan keadaan mulai tenang," terang Lee, pada Rabu (28/7/2020). 

Hari Pertama, 1.000 Jamaah Telah Tiba di Mina untuk Memulai Ibadah Haji

"Saya tidak yakin apakah ini akan terjadi kali ini, karena situasinya sangat berbeda dan tingkat animus, dan sedih untuk mengatakan, konsensus bipartisan tentang memperlakukan China sebagai ancaman sangat luar biasa. Saya khawatir itu akan berlanjut melewati pemilihan umum dan jika itu terjadi, saya pikir itu pertanda buruk bagi dunia," sambungnya.

Lee menyebut keadaan hubungan AS-China saat ini sebagai situasi yang tidak menguntungkan, di mana kedua negara tersebut telah mengambil tindakan dan tindakan balasan, dan masalah-masalah tersebut telah menyebar dan menyebar ke semua bidang hubungan.

"Adalah normal di antara dua kekuatan bahwa Anda akan memiliki area di mana Anda memiliki kontradiksi dan area di mana Anda dapat bekerja sama. Tapi saya pikir bagaimana hal-hal telah berkembang selama beberapa tahun terakhir, Anda memiliki banyak bidang di mana tidak hanya ada kontradiksi, tetapi juga ketidakpercayaan yang mendalam dan ini korosif, dan itu membuat hubungan yang sangat sulit menjadi sangat berbahaya," ungakapnya.

"Karena jika itu salah, itu bukan sembarang hubungan bilateral, itu adalah hubungan bilateral paling penting di dunia, antara AS yang sangat kuat dan antara negara dengan seperempat umat manusia. Dan saya tidak berpikir itu adalah konfrontasi yang tidak bisa dianggap ringan," tukasnya. (*) 

Kim Jong Un Sebut, Tidak Akan Ada Lagi Perang Berkat Senjata Nuklir

Resep Donat Katsu, Cocok untuk Pendamping Kopi dan Teman Santai Sore Hari, Pemula Harus Coba!

Ingin Berantas Pengedar Narkoba, Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan Terapkan Hukuman Suntik Mati

Jokowi: We Must Be Wary towards the Second Wave of Covid-19

Arti Mimpi Menangkap Belut Berkaitan Erat dengan Rezeki, Tapi Hati-hati Jika Menangkap Belut Hitam

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved