TRIBUN WIKI
Menelisik Sejarah Sapi di Indonesia, Mulai Diimpor Tahun 1917
Pada 1917, pemerintah Hindia Belanda mengimpor sapi Ongole secara besar-besaran dari India.
Editor: Widi Wahyuning Tyas
TRIBUNBATAM.id - Sapi merupakan salah satu hewan kurban yang bisa disembelih saat perayaan Idul Adha.
Satu ekor sapi bisa dikurbankan untuk tujuh orang.
Selain sapi, hewan lain yang umum dikurbankan yakni kambing.
Lantas, bagaimana asal mula munculnya sapi di Indonesia?
Sejarah Sapi di Indonesia
Pada 1917, pemerintah Hindia Belanda mengimpor sapi Ongole secara besar-besaran dari India.
Untuk menghasilkan sapi dengan kualitas unggul, pada 1936 pemerintah Hindia Belanda mengharuskan semua sapi jantan Jawa dikebiri, sedangkan sapi betinanya harus dikawinsilangkan dengan sapi Ongole yang telah diimpor.
Kebijakan itu pun dapat menghasilkan sapi-sapi unggul hasil persilangan di berbagai daerah.
Usaha untuk mengembangbiakkan sapi juga sudah dilakukan sejak awal 1950-an.
Saat itu Presiden Soekarno tengah mengerjakan tahapan pembangunan bernama Rencana Kesejahteraan Istimewa pada 1950.
Seorang ahli ternak asal Denmark, Prof B Seit tengah memperkenalkan metode inseminasi buatan kepada para dolter hewan di Indonesia.
Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan (FKH LPP) Bogor, tempat Seit bekerja, lantas diserahi tugas pemerintah untuk mendirikan stasiun Inseminasi Buatan di beberapa wilayah sentra peternakan sapi susu.
Para dokter yang telah dilatih kemudian berpencar ke berbagai daerah di jawa dan Bali untuk mendirikan stasiun inseminasi buatan.
Ada yang ke Ungaran dan Kedu di Jawa Tengah, Pakong dan Grati di Jawa Timur, Cikole di Jawa Barat, serta Baturati di Bali.
Pun FKH LPP Bogor sendiri difungsikan sebagai stasiun untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya.
Para dokter hewan itu bertugas melakukan inseminasi.
Sayangnya pelaksanaan program ini tidak intensif, pelayanan inseminasi buatan sifatnya hilang timbul.
Akibatnya masyarakat kurang menaruh kepercayaan dan akhirnya program itu hanya bertahan dua tahun.
Namun balai-balai inseminasi buatan yang didirikan telah berjasa membantu mengembangbiakkan sapi, meski baru sebatas sapi penghasil susu.
Pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto kemudian menganggap program inseminasi buatan sebagai langkah strategis untuk mendongkrak perkembangbiakan sapi peternakan rakyat.
Keberhasilan ekspor kemudian memicu pemerintah untuk menyediakan lebih banyak sapi yang siap dipasok ke luar negeri.
Pemerintah pun kembali menggalakan inseminasi buatan di berbagai daerah.
Ketika melakukan evaluasi pada 1970, pemerintah menyimpulkan bahwa semen atau sperma cair perlu diganti dengan semen baku yang lebih awet dipakai dan dibawa ke berbagai lokasi inseminasi.
Pada 1973, pemerintah Selandia Baru memberikan sumbangan semen beku secara cuma-cuma kepada pemerintah Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, inseminasi buatan telah berhasil mendongkrak perkembangbiakan sapi dalam negeri sejak dekade 1960.
Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor sapi potong pada tahun 1968 sebanyak 34.541 ekor.
Jumlah ini naik menjadi 72.490 ekor pada tahun 1970.
Untuk menyebarluaskan sapi-sapi jenis unggul dan sapi-sapi hasil persilangan, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan Dan Kesehatan Hewan.
Di dalamnya termaktub upaya pemerintah untuk menyebarkan ternak secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Istilahnya “pewilayahan ternak”.
Usaha mengimpor sapi unggulan kembali dilakukan ketika Soeharto mendatangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri, terutama Australia.
Di Tapos, sapi-sapi tersebut hendak dikawinkan dengan sapi-sapi lokal Indonesia untuk mendapat bibit berjenis sapi unggul.
Taun 1978 merupakan tahun terakhir Indonesia mengekspor sapi potong dengan jumlah hanya 400 ekor.
Sejak saat itu, peternakan rakyat lebih banyak memasok kebutuhan daging dalam saja, bahkan keran impor daging dari Australia mulai dibuka.
Tapos tampaknya menginspirasi pengusaha ternak untuk melakukan impor bibit.
Tercatat mulai tahun 1990, Indonesia mulai melakukan impor sapi bakalan.
Menurut ahli peternakan dari Universitas Padjajaran, Sri Rahayu, impor sapi bakalan mulai dilakukan sejak tahun 1990 sejumlah 8.061 ekor.
12 tahun kemudian angka ini melonjak drastis hingga 429.615.
Karena krisis, pemerintah pernah mengurangi impor sapi bakalan pada 1997 sampai 2001.
Akibatnya sapi-sapi lokal terkuras oleh permintaan sehingga dalam kurun waktu yang singkat populasinya menurun drastis.
Pada 2002, Indonesia kemabli meningkatkan impor sapi bakalan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi.
Indonesia sangat bergantung dengan impor daging asal Australia.
Australia merupakan sumber dari 90,06 persen impor sapi hidup dan 46,70 persen impor daging sapi dan jeroan.
Selandia Baru merupakan sumber impor 32,52 persen daging sapi dan jeroan.
Negara-negara lain yang termasuk eksportir daging sapi ke Indonesia, dengan jumlah yang lebih kecil adalah Amerika Serikat dan Kanada.
Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul 'Sapi (Hewan Ternak)'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/sapi-yang-dibeli-presiden-jokowi-di-peternakan-milik-kuncoro-warga-desa-mranggen.jpg)