Kenapa Batam, Singapura dan Hongkong Harus Waspadai Efek Pilpres Amerika
Trump juga bisa menguntungkan bagi ekonomi kawasan ASEAN. Dilain sisi, Trump kandidat terbaik menahan China dan ambisi globalnya berkembang.
Kenapa Batam Harus Waspadai Efek Pilpres Amerika?
TRIBUNBATAM.id, BATAM — Sembilan pekan lagi, 3 November 2020 mendatang, negara demokrasi terbesar di dunia; Amerika Serikat menggelar pemilu ke-58 untuk memilih presiden ke 46.
Incumbent dari Partai Republik, Donald Trump (74) tengah merintis periode empat tahun keduanya.
Lawannnya; Joseph Robinette Biden (77) dari Partai Demokrat.
Ia mantan wakil presiden ke-49 ini (2009-2017).
Pilpres kali ini jadi perhatian media di Eropa dan Asia.
Khusus di Asia, konflik dagang dan ketegangan diplomatik dengan raksasa baru dunia di Timur; China menjadi alasan strategi kenapa pemilihan presiden kali ini sangat penting.
• Pernyataan Keras Barack Obama, Sebut Trump Tidak Layak Jadi Presiden AS 2020
Ketegangan ini diprediksi kuat akan berdampak ke kawasan ASEAN, khususnya di Singapura dan Batam, yang jadi sentra jasa, industri kawasan.
Edwin Agung Wibowo SE, M.Comm, ekonom yang juga Rektor Universitas Riau Kepulauan (Unrika) menyebut pemerintahan Trump selama tiga setengah tahun pertama yang secara konsisten memprioritaskan kepentingan Amerika di atas kepentingan bersama sekutu tradisionalnya di bawah mantra: Make America Great Again (MAGA), konflik rasis Mei lalu, dan rangkaian pernyataan kontroversi Trump, membuat Trump harus kerja keras di kampanye ini.
Apa dampaknya di Batam dan Singapura?
Dimintai komentarnya, Kamis (19/8), alumnus Macquarie University Sydney, Australia ini, menyebutkan, dampak langsung tak akan terasa. “Batam dan Singapura, hanya akan dapat efek domino, dari korporate dan industri supply.”
Menurutnya, jika Trump terpilih Perang dagang AS dengan China akan terus berlanjut. Hubungan AS-Tiongkok yang memanas, Trump pernah berencana merelokasi sejumlah pabrik AS di Tiongkok ke Indonesia.
Menurut dia jika Trump terpilih kembali, tahun 2020 akan menandai titik balik historis bagi kebijakan luar negeri Amerika ketika - setelah 75 tahun - Amerika mengalihkan pendekatan ekonomi global sebelumnya ke pendekatan yang lebih bilateral.
Namun, Trump juga bisa menguntungkan.
“Batam sebagai kawasan Industri dengan fasilitas dan infrastruktur yang baik dapat mengambil peluang inindengan memanfaatkan Singapura sebagai hub ekonomi kawasan.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/edwin-nata-rektor-unrika.jpg)