2 Kipas Raksasa di Masjid Modern Tertua Batam Diklaim Terbesar dan Pertama di Indonesia
Baling-baling kipas masjid ini lebih mirip blade rotator helikopter. Bermaterial alumnium baja ringan, teknologi Jerman dan diproduksi Singapura
Penulis: Dewi Haryati |
2 Unit Kipas Raksasa Masjid Modern Tertua di Batam Diklaim Terbesar di Indonesia. Baling-baling kipas masjid ini lebih mirip blade rotator helikopter. Bermaterial alumnium baja ringan, teknologi Jerman dan diproduksi di MacPherson Rd, Singapura.
TRIBUNBATAM.id, BATAM -- Awal Tahun Baru 1442 Hijriyah ini, Masjid Raya Baitul Makmur di Kawasan Bukit Senyum, Kelurahan Seraya, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, kembali berbenah.
Masjid modern tertua di Pulau Batam ini, sejak 1 Muharram 1442 H pekan lalu, (Kamis 20/8/2020) menambah lagi fasilitas untuk kenyamanan jamaah.
Kipas raksasa berdiameter 12,5 meter, hingga Senin (24/8/2020) sudah mulai rampung.
Menggunakan scafolding dan scraf rangka besi, dua teknisi mulau mengkalibrasi posisi dan tingkat getaran kipas yang diklaim terbesar dan baru pertama kali dipasang di rumah ibadah di Indonesia.
Kipas impor berteknologi Jerman ini, akan melengkapi satu kipas berdiameter 16 meter yang sudah terpasang sejak Juli 2020 lalu.
Kepada Tribun, Ustad Ahmad Riaudi (56), salah seorang pengurus masjid menyebut instalasi kipas raksasa ini sudah memakan waktu hampir dua bulan.
“Semoga, dua-duanya bisa berfungsi normal pada hari Jumat ini,” kata Ustad Ahmad, merujuk momen hari Assyura 10 Muharram 1442 pekan ini.
Informasi yang diperoleh Ahmad dari pabrikan dan supplier di Singapura, kipas raksasa dengan 5 helai baling-baling ini, termasuk pertama di Indonesia.
Baling-baling (blade) kipas masjid ini lebih mirip blade rotator helikopter. Bermaterial alumnium baja ringan, teknologi Jerman dan diproduksi di sekitar MacPherson Rd, Singapura.
Menjawab Tribun, Ahmad menyebut biaya pengadaan kipas yang lebih mirip masjid ini diambil dari dana kas masjid dan bantuan jamaah.
“Kalau yang depan ini sekitar Rp65 juta, kalau yang belakang lebih mahal karena lebih besar,” ujar Ustad Ahmad, usai jamaah Lohor, Minggu (23/8/2020).
Dari pantauan Tribun, unit kipas raksasa ukuran 12,5 meter dipasang di ruang mimbar utama bagian depan.
Sedangkan kipas yang lebih besar, —berdiameter 14,5 meter dengan lima helai baling-baling- dipasang di bagian timur masjid.
Saat uji coba, awal pekan lalu, kipas yang lebih besar bisa menyejukkan separuh jamaah masjid.
Pihak pengelola dan takmir masjid, meyakini kipas raksasa dengan putaran maksimum 81 RBM ini, bisa menggantikan 8 unit pendigin udara dan belasan kipas manual.
Bahkan diklaim, energi yang dipakai kipas raksasa ini hanya setara dengan 3 unit AC.
Tak seperti kipas konvensional yang kontrol dan saklarnya sederhana, kipas Spcacefans ini, dikontrol melalui panel sebesar CPU komputer.
Bukan satu unit, panel itu ada dua. Posisinya di dinding sisi timur masjid, yang jauh dari jangkauan jamaah iseng.
Panel ini juga sekaligus kompatibel dengan alat deteksi pemadam kekabaran (fire controls), menyusuaikan suhu udara di luar ruang dengan kecepatan dan intensitas putaran (remote timers), sekaligus jadi alarm (Building Management Systems).
Masjid Baitul Makmur, termasuk populer di kalangan warga lama di Batam.
Lokasinya strategis dan di ketinggian menjadikan suasana masjid lebih tenang.
Berada di Jl Prambaban, Kelurahan Seraya, antara Batu Ampar, Bengkong, Nagoya, dan Sei Jodoh, di masjid ini jamaah dengan jelas bisa melihat pulau Singapura. Itu jika tak beraawan, atau di pagi hari.
Tahun 2014 lalu, pemerintah kota dan BP Batam menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXV di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Masjid berhalaman luas dan tertata ini pun jadi salah satu destinasi wisata para delegasi, peserta, dan pendukung.
Sekadar diketahui, Senin (24/8/2020) malam ini, event hari besar Islam tahunan level kota ini kembali digelar.
Masjid tertua di Batam ini terletak di Jalan Prambanan, Kelurahan Seraya, Kecamatan Batu Ampar. Seperti nama lokasinya 'bukit', masjid ini berada pada ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan Jalan Raya Batu Ampar.
Masjid ini bernama Baitul Makmur. Suasana asri dan rimbun masih terjaga di area sekitar masjid yang didirikan sejak 1972-1975 itu.
Suara jangkrik dan kicauan burung, akan menyambut kedatangan setiap langkah kaki pengunjung di masjid tertua di Batam ini.
Beberapa masyarakat sekitar sering menghabiskan waktu sorenya dengan berjalan-jalan di area pekarangan masjid. Sekedar melepas lelah ataupun menikmati keasrian alam yang tetap terjaga di sana.
"Masjid ini dibangun sejak 1972 sampai 1975.
Dahulunya kondisi Batam masih hutan belantara. Saat itu yang memegang otoritas masih Pertamina di era Pak Ibnu Sutowo," ucap Imam Masjid Baitul Makmur, Ahmad Riaudi kepada Tribun, Sabtu (7/6/2014).
Sejak 1978, seiring pergantian kekuasaan di Batam, masjid inipun beralih ke aset Otorita Batam, kini BP Batam.
Di masa kejayaannya, banyak petinggi-petinggi di negeri ini yang menyempatkan diri salat berjemaah di sana.
"Para menteri di era Presiden Soeharto pernah salat Jumat di sini tahun 1997. Pak Habibie, Faisal Tanjung, Susilo Sudarman juga pernah," katanya mengenang kejadian beberapa puluh tahun silam.
Bahkan qori internasional Indonesia, Muammar ZA, kata Ahmad, pernah menjadi khatib dan imam salat Jumat di masjid ini.
Masjid Baitul Makmur memiliki luas lahan sekitar 1 hektar dengan luas bangunan sekitar 30 x 38 meter. Masjid ini mampu menampung sekitar 2.000 jemaah.
Dari balik rerimbunan pohonnya, pengunjung dapat menyaksikan hamparan laut luas. Berikut kapal-kapal besar yang lalu lalang setiap menitnya di sana.
Secara kasat mata, pengunjungpun dapat menyaksikan gedung-gedung menjulang tinggi negeri jiran, Singapura yang hanya berjarak beberapa km dari Batam.
Jika beruntung, pengunjung juga dapat menyaksikan riaknya monyet-monyet di sana berlompat-lompat dari satu dahan ke dahan lainnya.
Sekitar delapan tahun tahun, lalu di area sekitar masjid ini memang terdapat lebih kurang 60 ekor monyet. Mereka beranak-pinak di sana. Lantaran sering mengganggu masyarakat, satu persatu monyet itu diusir.
"Dulu memang banyak, adalah sekitar 60 ekor monyet, tapi sekarang tinggal 2. Karena kebanyakan, masyarakat terganggu dengan kehadiran mereka. Terpaksa kami usir," katanya.
Kehadiran masjid ini, sebenarnya mempunyai nilai sejarah besar sepanjang pertumbuhan Kota Batam. Ia menjadi saksi bisu pergantian kepemimpinan Batam di kala itu.
Sayang kondisinya kini kurang terawat. Untuk menjaga kebersihan masjid, pengurus masih mengandalkan sukarelawan.
Begitupun dengan dana pembangunan masjid hanya berasal dari swadaya masyarakat dan infak.
"Seharusnya pemerintah memperhatikan masjid ini. Karena walau bagaimanapun nilai sejarahnya besar," ujar Ahmad yang sudah menjadi imam masjid di sana sejak 1990-an. (zil/dewi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kipas_raksasa_masjid_tertua_di_batam.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kipas_raksasa_masjid-baitul_makmur_seraya.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/masjid-raya-baitul-makmur-batam.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kipas_raksasa_masjid_baitul_makmur_seraya.jpg)