Kamis, 28 Mei 2026

Korea Selatan Umumkan Starbucks Jadi Klaster Baru Covid-19, Begini Dugaan Transmisinya

Korea Selatan melaporkan klaster baru penyebaran Covid-19 di negaranya. Klaster tersebut adalah Starbucks di Kota Paju, utara Seoul, Korea Selatan.

Tayang:
via hai
ILUSTRASI - Starbucks di Korea Selatan jadi klaster baru Covid-19, ini dugaan penyebarannya. 

Editor: Putri Larasati Anggiawan

TRIBUNBATAM.id, SEOULKorea Selatan melaporkan klaster baru penyebaran virus Corona atau Covid-19 di negaranya.

Klaster tersebut adalah Starbucks di Kota Paju, utara Seoul, Korea Selatan.

Mereka diketahui tetap melakukan kebiasaannya di tengah pandemi virus Corona ini, dilansir Yonhap News Agency.

Hingga 19 Agustus 2020, otoritas setempat mengungkapkan, sebanyak 55 kasus Covid-19 terhubung dengan Starbucks di Paju.

Selain klaster Starbucks, awal bulan Agustus, otoritas kesehatan setempat juga mengidentifikasi lebih dari 15 kasus Covid-19 yang berkaitan dengan gerai kopi Hollys di daerah Gangnam, Seoul selatan.

Catat 332 Kasus Baru, Korea Selatan Laporkan Infeksi Harian Covid-19 Tertinggi Sejak Maret

Ruang ber-AC

Menurut pejabat kesehatan Paju, klaster tersebut dimulai saat seorang pasien yang terinfeksi virus Corona meminum kopi di Starbucks tersebut.

Ia duduk di dekat AC di lantai dua kafe tersebut. Diduga penularan ke orang lain melalui transmisi aerosol.

"Banyak pengunjung tidak memakai masker, dan tampaknya tidak ada ventilasi udara yang baik di kafe, meskipun AC beroperasi karena cuaca lembap," kata Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (KCDC) Korea, Jeong Eun.

Dia melanjutkan, jika infeksi tidak terjadi melalui transmisi aerosol, kemungkinan menyebar melalui transmisi droplet di ruang tertutup.

virus Corona, ia mengatakan, kemungkinan menyebar lewat kontak tangan.

Menyusul tingginya kasus baru, pemerintah setempat kembali menegakkan langkah-langkah pengendalian virus.

Salah satunya adalah menutup fasilitas yang rentan terhadap risiko penyebaran virus, seperti kafe, restoran, dan klub malam.

Meski begitu, kedai kopi dan restoran tidak termasuk dalam daftar fasilitas berisiko tinggi.

Profesor Divisi Penyakit Menular di Rumah Sakit Ansan Univeritas Korea, Choi Won Suk, menegaskan, masyarakat harus berhati-hati terhadap kejadian tersebut.

"Orang perlu berhati-hati saat menggunakan kafe.

Mereka harus mengikuti pedoman kebersihan pribadi, seperti memakai masker dan mencuci tangan," ujar dia.

Peningkatan kasus tertinggi

Sementara itu, Reuters mengabarkan pada Minggu (23/8/2020), Korea Selatan melaporkan peningkatan kasus harian tertinggi terkait virus Corona sejak awal Maret.

Terdapat setidaknya 397 infeksi baru pada Sabtu (22/8/2020), ini menandai lebih dari tiga minggu kasus harian baru Covid-19 di Korea Selatan menunjukkan tiga angka.

Berdasarkan data Worldometers, Senin (24/8/2020) pukul 15.25 WIB, kasus terkonfirmasi positif virus Corona di Korea Selatan sebanyak 17.665 kasus.

Dari total kasus ini, sebanyak 14.219 orang telah dinyatakan pulih dari Covid-19.

Virus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, itu telah menewaskan 309 orang di Korea Selatan.

Akibat Pandemi Covid-19, Penjualan Mi Instan di Korea Selatan Tembus Rekor Tertinggi

Pandemi virus Corona atau Covid-19 turut menghadang Negeri Ginseng, Korea Selatan.

Korea Selatan baru-baru ini melaporkan melonjaknya penjualan mi instan di negaranya.

Bahkan, penjualan mi instan di Korea Selatan melonjak ke rekor tertinggi pada semester I 2020 ini.

Melonjaknya penjualan mi instan tersebut merupakan dampak pandemi Covid-19.

Dilansir dari Yonhap News, Kamis (20/8/2020), nilai penjualan mi instan atau ramyeon di dalam negeri Korsel mencapai 1,13 triliun won atau 950 juta dollar AS, setara sekira Rp 14 triliun (kurs Rp 14.781 per dollar AS) sepanjang periode Januari-Juni 2020.

Angka itu naik 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Data tersebut berasal dari Nielsen Korea dan dipublikasikan oleh produsen mi instan Nongshim Co.

Data penjualan pada semester I 2020 tersebut merepresentasikan rekor tertinggi penjualan selama enam bulan sepanjang sejarah.

"Data pada paruh pertama (tahun 2020) jelas menunjukkan bahwa penjualan mi instan sangat bagus saat krisis.

Penjualan ramyeon secara online naik tajam, berkat meningkatnya konsumsi nirkontak karena Covid-19," tulis Nongshim dalam pernyataannya.

Pihak Nongshim menyatakan, produk mi instannya dengan merek Shinramyeon dan merek lainnya stabil mencatat pertumbuhan penjualan hingga dua digit pada semester I 2020.

Data juga menunjukkan bahwa konsumsi mi instan kemasan gelas (cup noodles) merosot pada semester I 2020.

Ini lantaran menurunnya kegiatan warga di luar ruangan akibat pandemi corona.

Mi instan kemasan gelas menyumbang 34,3 persen penjualan mi instan di Korsel pada semester I 2020.

Angka tersebut turut dari 37,5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pakar: Korea Utara Salahkan Korea Selatan Atas Dugaan Kasus Covid-19 Pertamanya

Korea Utara tampak menyalahkan Korea Selatan atas dugaan kasus infeksi virus Corona atau Covid-19 pertama mereka.

Semua itu berdasarkan penilaian pakar yang dikutip media Perancis AFP pada Senin (27/7/2020).

Pyongyang disebut memanfaatkan kembalinya seorang pembelot dari Korea Selatan untuk mempersalahkan Seoul atau kasus ini.

Pyongyang langsung menerapkan lockdown di perbatasan kota Kaesong yang melaporkan adanya dugaan kasus infeksi Covid-19 yang dialami seorang pembelot yang baru menyeberangi Korea Selatan menuju Korea Utara.

Empat bulan lamanya pihak Korea Utara telah membantah, mengatakan negara itu tidak memiliki satu pun kasus infeksi Covid-19.

Padahal negara itu berbatasan dengan China, yang merupakan pendukung diplomasi utama dan partner dagang Korea Utara, membuat banyak pengamat skeptis.

Pejabat Seoul mengatakan pada Senin (27/7/2020) bahwa pria pembelot itu tidak pernah dikonfirmasi mengidap virus Corona atau menjadi pasien Covid-19 di Korsel.

Pihak Korsel telah melakukan lebih dari 1,5 juta uji virus Corona sebagai bagian dari "pelacakan, tes dan perawatan" masif yang membuat wabah di negara itu berada dalam kontrol yang tepat.

Pakar mengatakan pihak Korea Utara sepertinya sudah memiliki kasus infeksi virus dan Pyongyang sedang mencoba menyalahkan Seoul atas wabah tersebut dibandingkan menyalahkan rekan mereka, Beijing.

Pakar Analis Korea Utara dari eks pemerintahan Amerika Serikat (AS), Rachel Lee mengatakan bahwa, "Korea Utara sednag mencoba menggunakan kembalinya pembelot untuk menyalahkan Korea Selatan atas wabah virus Corona yang sebenarnya sudah terjadi."

Hal itu dianggap Lee bisa mengesankan penjagaan keamanan garis depan Korea Selatan sangat lemah dan bahkan mengklaim bahwa Korsel sengaja mengirim kembali pembelot ke Korut untuk menyebar virus di sana.

Seorang pakar Korea dari Kelompok Krisis Internasional, Duyeon Kim menambahkan bahwa dengan menyalahkan kasus impor dari Selatan, Korut "bisa melegitimasi dan dengan terbuka menerima" bantuan dari Seoul.

Korea Utara juga semakin bisa ke depannya menggambarkan betapa pembelot adalah musuh bagi negara itu.

Sebelumnya, Pyongyang telah berulang kali mengecam tindakan para pembelot dan pemerintah Seoul pada beberapa pekan lalu.

Hubungan Korut-Korsel memanas akibat pembelot kerap mengirim balon propaganda anti-Pyongyang di perbatasan kedua negara itu.

Puncaknya, Pyongyang menghancurkan kantor penghubung 2 negara itu di perbatasan.

(*)

virus Corona Meningkat Tajam, Korea Selatan kini di Ambang Pandemi Nasional

Korea Selatan Catat Lonjakan Kasus Covid-19, Netflix Hentikan Sementara Produksi Kontennya

Industri Hiburan Jadi Klaster Covid-19, Sederet Drama dan Film Korea Selatan Hentikan Syuting

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Starbucks di Korea Selatan Jadi Klaster Baru Covid-19, Ini Dugaan Penyebarannya...".

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved