ADVERTORIAL
BP Batam Gelar Webinar Persiapan Industrialisasi dan Investasi Asing Pasca Pandemi Covid-19
Forum diskusi online membahas topik terkait kesiapan Batam menghadapi industrialisasi dan investasi asing.
Editor: Septyan Mulia Rohman
BP Batam Gelar Webinar Persiapan Industrialisasi dan Investasi Asing Pasca Pandemi Covid-19
TRIBUNBATAM.id. BATAM - Badan Pengusahaan (BP) Batam menggelar Web Seminar (Webinar) bertajuk 'Kesiapan Batam Menghadapi Industrialisasi dan Investasi Asing', Kamis (27/8/2020).
Bertempat di Meeting Room Marketing Center BP Batam, web seminar menggunakan aplikasi zoom ini menghadirkan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, Kepala BP Batam Muhammad Rudi, Ketua KADIN Indonesia untuk Singapura, Michael Goutama.
Kemudian Presiden Direktur PT Sat Nusapersada Tbk, Abidin Hasibuan sebagai narasumber serta Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Usman Kansong selaku moderator.
Forum diskusi online yang diselenggarakan oleh BP Batam ini diikuti kalangan pengusaha, akademisi, dan umum, yang membahas topik terkait kesiapan Batam menghadapi industrialisasi dan investasi asing, merumuskan langkah jitu bagi pemerintah dan para pelaku usaha agar bisa berjalan bersama.
Dalam kesempatan pertama, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso yang dalam hal ini mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, membuka Webinar dengan memaparkan beberapa poin penting.
Di antaranya perkembangan dan dampak pandemi Covid-19 di Indonesia, Surplus Neraca Perdagangan, Integrasi Pengembangan Batam-Bintan-Karimun-Tanjung Pinang, serta 2 KEK di Batam yang telah disetujui oleh Kemenko RI.
“Proyeksi pertumbuhan secara global untuk tahun 2020 berada di kisaran -7,6 hingga -4,9 persen. Sedangkan Indonesia sendiri kita berharap angkanya menunjukkan tren positif, seperti prediksi dari World Bank dari yang tadinya minus, menjadi 0,0 persen,” ujar Susiwijono dalam keterangan yang diterima TribunBatam.id, Kamis (27/8/2020).
Susiwijono melanjutkan, Indonesia mengalami kontraksi ekonomi lebih kecil, yaitu sebesar -5,32% pada kuartal kedua tahun 2020, dibandingkan dengan negara-negara lainnya, terutama ASEAN yang mencapai angka dua digit.
Ia juga mengatakan kemungkinan resesi bagi Indonesia selalu ada, dan bukanlah hal yang baru selama pandemi Covid-19 berlangsung.
“Sebagian besar negara-negara di dunia sudah melakukan resesi, bahkan hampir semua negara di ASEAN akan melakukan resesi. Bahkan Thailand sudah lebih dulu resesi, begitu juga dengan Singapura dan Filipina,” sebutnya.
• Tribun Podcast Batam: Alumni Unrika Beri Tips Antara Kerja, Berorganisasi dan Bekerja
• Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Soroti Open Bidding Pemprov Kepri, Jangan Asal Pilih
Sedangkan pada kuartal kedua, Provinsi Kepulauan Riau mengalami kontraksi -6,66%, yang mana jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan kontraksi ekonomi nasional, yaitu sebesar -5,32%.
Kemudian dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor dan impor relatif terdampak minimal. Namun sektor investasi, konsumsi pemerintah, dan lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) menurun tajam dibandingkan dengan nasional.
“Seperti daerah lainnya di Indonesia, sektor jasa, transportasi, dan akomodasi adalah sektor perekonomian yang paling terdampak di Provinsi Kepri. Namun kita harus yakin dan percaya diri dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski mengalami kontraksi yang cukup dalam, namun masih jauh lebih baik dari negara lain,” kata Susiwijono.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/webinar-bp-batam-persiapan-industrilisasi-investasi-asing.jpg)