Senin, 11 Mei 2026

G30S PKI

Detik-detik Tujuh Jenderal Diculik dan Dibunuh PKI saat Gerakan 30 September 1965

Berikut ini kronologi keganansan Gerakan 30 September atau G 30 S PKI, menewaskan 7 korban Jenderal dan Komandan Berjasa di Indonesia

Tayang:
Tribuntravel.com
Daftar Nama Pahlawan Revolusi Korban G 30 S/PKI 

TRIBUNBATAM.id - 55 tahun sudah gerakan 30 September 1965 atau dikenal G30S PKI berlalu.

Gerakan PKI yang menjadi peristiwa kelam bagi Bangsa Indonesia. 

Peristiwa tragis ini terjadi tepat pada malam ini, 30 September malam 1965.

Aksi prajurit Tjakrabirawa dipimpin Letkol Untung bergerak menculik enam jenderal dan satu orang kapten.

Di antaranya Komandan TNU AD Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal MT Haryono, Letnan Jenderal S Parman.

Kemudian Mayor Jenderal DI Padjaitan, Mayor, Jenderal Sutoyo Siswomiharjo dan Kapten Pieree Tandean.

Jenazah ketujuh pahlawan itu ditemukan di sumur yang disebut Lubang Buaya di Jakarta.

55 Tahun Berlalu, Ada Fakta Baru soal Otopsi Jasad Jenderal Korban G30S/PKI, Dokter Ungkap Hal Lain

Total korban dari keganasan prajurit dibalik nama G 30 S PKI ini menjadi sepuluh.

Tiga korban lainnya yaitu Panglima TNI Jenderal AH Nasution, putrinya Ade Irma Suryani dan ajudan Kapetn Pierre Tandean.

Jenderal Anumerta Ahmad Yani, ditemukan dikubur di Lubang Buaya.

Jenderal Ahmad Yani menjadi sasaran PKI lantaran sangat menentang keberadaan faham komunis di tanah air.

Jenderal TNI Ahmad Yani sempat berdebat sengit saat rumahnya dikepung tentara antek PKI.

Namun, perdebatan itu justru membuat sang jenderal bersimbah darah karena ditembak oleh para tentara tersebut.

Sementara Letnan Jenderal Anumerta Suprapto, ia juga ditemukan di Lubang Buaya.

Sebelumnya Letnan Jenderal Anumerta Suprapto diculik hingga akhirnya dibantai di Lubang Buaya.

Jenderal Anumerta Suprapto menjadi sasaran keganasan PKI lantaran juga pernah meredam PKI.

Ia pernah beberapa kali meredam pemberontakan PKI di berbagai wilayah.

Kemudian ditemukan pula jasad Letnan Jenderal Haryono.

Adapun korban keganasan PKI berikutnya Jenderal Siswondo Parman.

Diketahui ia dibantai lantaran juga menolak tawaran bergabung dengan PKI.

Padahal ia merupakan perwira intelijen yang dekat dengan PKI.

Karena kedekatan itulah Jenderal Siswondo Parman juga dihabisi karena mengetahui kegiatan rahasia PKI.

Disebut-sebut Jenderal Siswondo Parman mengetahui otak pembabtaian dari Gerakan 30 September ini adalah kakaknya sendiri, Ir. Sakirman.

Terhitung korban kelima adalah Donald Isaac Panjaitan.

Donald Isaac Panjaitan adalah perintis TKR (Tentara Keamanan Rakyat) cikal bakal pembentukan TNI saat ini.

Donald Isaac Panjaitan dengan tenang menghadapi prajurit yang akan membunuhnya di hadapan istri dan anaknya.

Setelah dibunuh dengan ditembak, jasad Donald Isaac Panjaitan dibawa ke Lubang Buaya.

Korban berikutnya Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo juga diculik di rumahnya.

Ia dikelabui penculik atas perintah Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno.

Nyatanya ia dibantai di Lubang Buaya.

Kemudian satu lagi korban G 30 S PKI adalah Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo.

Brigjen Katamso diculik pada hari terjadi pemberontakan sedang bertugas di Yogyakarta.

Kemudian dimasukkan ke lubang yang sudah disiapkan gerakan PKI.

Kronologi G 30 S PKI

tribunnews
Sampul Film 'Pengkhianatan G 30 S PKI'. (Istimewa)

Dilansir dari berbagai sumber, Gerakan 30 September atau G 30 S PKI ini menyatakan sendiri sebagai gerakan pengambil alihan kekuasaan dengan kekerasan.

Para tokoh yang berpengarih diburu dan dibunuh dengan sadis.

Hingga akhirnya sebagian tokoh PKI diadili di mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dengan hukuman mati.

Saat itu Ketua PKI DN Aidit dituding merancang Gerakan 30 September atau G 30 S PKI tersebut.

Tak lama setelah itu penangkapan balik besar-besaran anggota PKI yang terlibat itu diburu.

Tak hanya orang-orang yang terlibat dalam gerakan tersebut.

Tetapi juga siapapun termasuk simpatisan terkait PKI atau organiasi-organisasi identik komunis.

Beberapa organisasi terkait simpatisan PKI saat itu di antaranya Lekra, Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, bahkan Gerakan Wanita Indonesia, dan lain sebagainya.

Masyarakat Indonesia saat itu tak tinggal diam, mereka menuntut pembubaran PKI.

Selanjutnya tak lama kemudian, Mayjen Soeharto naik menggantikan Presiden Soekarno.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved