Selasa, 12 Mei 2026

Jakob Oetama Wafat

Persahabatan Jakob Oetama dan PK Ojong, Dua Sosok Penting Dalam di Balik Lahirnya Kompas

Persahabatan Jakob Oetama dan PK Ojong melahirkan majalah Intisari, cikal bakal Kompas

Tayang:
ist
Begini foto lawas PK Ojong dan Jakob Oetama 

TRIBUNBATAM.id - Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama meninggal dunia pada hari ini, Rabu (9/9/20) di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Sebagai sebuah refleksi atas nilai yang udah diwariskan Jakob Oetama, redaksi Kompas.com menyajikan rangkaian tulisan mengenai perjalanan hidup Jakob Oetama.

Tulisan nggak cuman merangkum perjalanan hidupnya dalam membesarkan Kompas Gramedia yang didirikannya.

Namun, tulisan juga merangkum warna kehidupannya sebagai seorang pendidik, seorang wartawan, dan seorang pengusaha.

Meski begitu, peran terakhirnya selalu dijalani dengan kerendahan hati.

Sebab, seorang Jakob Oetama lebih senang dan bangga disebut wartawan, ketimbang pengusaha.

Bersama PK Ojong, Begini Sejarah Jakob Oetama Mendirikan Kompas: Namanya Pemberian Bung Karno

Berawal dari Intisari

Eratnya persahabatan Jakob Oetama dengan Petrus Kanisius Ojong bisa jadi berawal dari kesamaan pandangan politik dan nilai kemanusiaan yang dianut.

Hal itu juga yang menjadikan Jakob dan Ojong melahirkan majalah Intisari, yang edisi perdananya terbit pada 17 Agustus 1963.

Duet Jakob dan Ojong sepakat untuk melahirkan majalah berlandaskan kemanusiaan, yang berisi saripati ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

Selain itu, Intisari dibuat sebagai pandangan politik keduanya yang menolak belenggu terhadap masuknya informasi dari luar.

Intisari dimaksudkan untuk menjadi pendobrak politik isolasi yang dilakukan pemerintahan Soekarno saat itu. Namun, bukan dengan tulisan yang menyerang, melainkan "tedeng aling-aling".

Ojong dan Jakob merasa perlu hadirnya media yang memuat artikel yang membuka mata dan telinga masyarakat.

Sebuah media yang kaya dengan gaya human story, penuh nilai kemanusiaan. Namun, kehadiran Intisari tampaknya belum cukup.

Sebab, beberapa tahun kemudian duet Jakob-Ojong melahirkan koran yang dimaksudkan dapat menjadi alternatif, pilihan lain dari banyaknya media partisan yang terbentuk akibat kondisi politik pasca-Pemilu 1955 itu. Pada saat, koran itu dikenal dengan nama Kompas.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved