Apple Rilis iOS 14.2 Developer Beta Pertama, Apa Keunggulannya?
Apple baru saja merilis pengembang beta pertama iOS 14.2 dan iPadOS 14.2 setelah rilis publik iOS 14.0 minggu ini. Apa keunggulannya?
Editor: Putri Larasati Anggiawan
TRIBUNBATAM.id, CUPERTINO - Apple baru saja merilis pengembang beta pertama iOS 14.2 dan iPadOS 14.2 setelah rilis publik iOS 14.0 minggu ini.
Tidak pasti apa yang berubah dalam pembaruan ini, tetapi mungkin Apple sedang mengerjakan perbaikan dan beberapa fitur baru.
Selain iOS 14.2 dan iPadOS 14.2, Apple juga telah merilis beta pengembang pertama dari tvOS 14.2 dan watchOS 7.1.
Sebelumnya hari ini, perusahaan merilis macOS Big Sur beta 7 dan pembaruan untuk Xcode 12.2 beta yang menyertakan referensi ke iOS 14.2 dan pembaruan lainnya.
Untuk saat ini, pembaruan iOS 14.2 tersedia secara eksklusif melalui portal Pengembang Apple, sehingga mereka yang lebih suka menginstal versi baru iOS melalui sistem Over-The-Air harus menunggu lebih lama.
Versi ini ditujukan secara eksklusif untuk pengembang perangkat lunak untuk menguji aplikasi mereka dan mulai mengadopsi teknologi baru di iOS.
• iPhone 12 Batal Rilis, Pencinta Apple di Batam Ngaku Tak Sabar Menunggu
Pastikan untuk mencadangkan perangkat Anda dan menginstal hanya pada sistem yang siap Anda hapus jika perlu.
Rumor sebelumnya menyebutkan bahwa iPhone 12 akan dirilis bulan depan dengan iOS 14.1, karena iOS 14.0 sekarang tersedia untuk semua pengguna.
Namun, ini menunjukkan bahwa iOS 14.1 mungkin tiba sebelum iPhone baru, yang dapat dikirimkan dengan iOS 14.2, bukan 14.1.
China Mengancam Akan Boikot Apple, Jika Amerika Serikat Memblokir WeChat
Ketegangan antara Amerika Serikat ( AS) dan China terkait sederet teknologi terus berlanjut.
Kali ini, China mengancam akan memboikot Apple.
Ancaman ini dijalankan China, jika Amerika Serikat ( AS) memblokir WeChat.
Ancaman itu disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (28/8/2020), di saat AS terus mengancam pemblokiran WeChat.
Presiden AS Donald Trump bulan ini mengumumkan, mulai pertengahan September bisa jadi WeChat dan TikTok akan dilarang di AS.
Ia menuduh kedua aplikasi itu membahayakan keamanan nasional.
Tudingan itu kian memanaskan tensi antara Washington dan Beijing.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian hari ini menulis di Twitter, "Jika WeChat diblokir, maka tidak akan ada alasan mengapa China harus memakai produk iPhone dan Apple."
Sebelumnya pada Kamis (27/8/2020) Zhao berkata, "Banyak orang China mengatakan mereka mungkin tak lagi memakai iPhone jika WeChat dilarang di AS".
Selain itu ia juga menuduh AS "melakukan intimidasi ekonomi sistematis terhadap perusahaan-perusahaan non-AS" dengan menargetkan aplikasi China.
Ancaman dari China ini juga muncul di tengah ketegangan dua negara dalam berbagai bidang, termasuk aktivitas militer di Laut China Selatan, Hong Kong, dan virus corona.
Sementara itu para pengguna media sosial meluapkan perasaan campur aduk atas peringatan Zhao di Twitter, yang diblokir di China tapi bisa diakses dengan VPN.
"Aku pakai Apple, tapi aku juga mencintai negaraku," tulis salah satu pengguna di Weibo, aplikasi yang mirip Twitter di China.
"Tak peduli seberapa bagus Apple, itu hanya ponsel. Bisa diganti, tapi WeChat berbeda," ujar pengguna lain dikutip dari AFP.
"Orang China modern akan kehilangan jatidiri mereka jika meninggalkan WeChat, terutama para pebisnis."
WeChat yang di China daratan dikenal sebagai Weixin, memiliki lebih dari 1,2 miliar pengguna aktif.
Perintah eksekutif Trump terhadap WeChat memaksa platform itu mengakhiri semua operasionalnya di AS dan melarang warga "Negeri Paman Sam" berbisnis dengannya.
Apple menyumbang 8 persen di pasar ponsel pintar China pada kuartal kedua 2020, menurut Counterpoint Research.
Angka itu jauh di belakang Huawei yang memimpin di "Negeri Panda".
Peneliti di China Ungkap Temukan Kemungkinan Penularan Covid-19 dari Tinja
China melaporkan penemuan virus Corona atau Covid-19 di kamar mandi di sebuah apartemen kosong di Guangzhou.
Penemuan ini dianggap menunjukkan bahwa kemungkinan patogen itu melayang melalui pipa pembuangan.
Lantas apakah mungkin penularan Covid-19 melalui tinja?
Dikutip dari Bloomberg, hal ini kembali mengingatkan insiden serupa yang terjadi 17 tahun lalu, di saat Hong Kong diserang wabah SARS.
Pada Februari silam, jejak SARS-CoV-2 terdeteksi di sebuah keran wastafel dan pancuran air di apartemen yang lama kosong.
Demikian penjelasan peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China dalam laporannya yang terbit bulan ini di Environment International.
Kamar mandi yang terkontaminasi itu berada tepat di atas rumah berisi lima orang yang mengidap Covid-19.
Para ilmuwan melakukan eksperimen simulasi pelacak di lokasi tersebut guna melihat cara penyebaran virus Corona.
Mereka menguji apakah virus Corona benar bisa menyebar melalui pipa pembuangan, dengan partikel kecil virus yang melayang di udara karena tekanan air saat menyiram tiolet.
Mereka menemukan partikel semacam itu, yang disebut aerosol di kamar mandi, yang menyumbang 10 dan 12 tingkat di atas kasus Covid-19.
Dua kasus terjadi di sejumlah lantai apartemen itu pada awal Februari.
Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa partikel SARS-CoV-2 dari tinja dapat melayang ke rumah-rumah melalui pipa pembuangan.
Laporan baru ini mengingatkan kembali pada kasus serupa yang terjadi di Hong Kong.
Tepatnya di sebuah kawasan perumahan Amoy Gardens, nyaris dua dekade silam.
Kala itu, sebanyak 329 penduduk terkena sindrom pernapasan akut atau SARS karena saluran pipa limbah yang rusak.
Sejumlah 42 warga meninggal, dampaknya dinilai menjadi wabah SARS komunitas paling mematikan ketika itu.
"Meskipun transmisi melalui lift bersama tidak dapat dikesampingkan, kejadian ini konsisten dengan temuan wabah SARS Amoy Gardens di Hong Kong pada tahun 2003," kata Song Tang, ilmuwan dari Laboratorium Kunci CDC China untuk Lingkungan dan Kesehatan Populasi serta rekannya dalam penelitian itu.
Menurut direktur Laboratorium Internasional untuk Kualitas Udara dan Kesehatan di Universitas Teknologi Queensland Australia, Lidia Morawska, apartemen di gedung bertingkat dapat dihubungkan melalui sistem air limbah bersama.
Sementara zat padat dan cairan serta gas yang ditandai dengan bau turun melalui jaringan saluran pembuangan terkadang naik lagi jika tidak ada air yang cukup mendorongnya, jelas Lidia.
"Jika ada bau, itu berarti entah bagaimana udara telah diangkut ke tempat yang tidak seharusnya," kata Lidia dalam sebuah wawancara.
Lidia tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Menular Melalui Droplet dari Saluran Pernapasan
Menurut WHO, SARS-CoV-2 utamanya menyebar melalui tetesan atau droplet dari air liur atau cairan dari hidung.
Namun, sejak minggu-minggu pertama pandemi, para ilmuwan di China mengatakan virus SARS-CoV-2 yang terkandung dalam tinja pasien Covid-19 juga dapat berperan dalam penularan.
Februari silam sebuah studi pada 73 pasien Covid-19 di rumah sakit di provinsi Guangdong mendapati lebih dari setengahnya dinyatakan positif virus di tinja mereka.
Aerosolisasi tinja terjadi dengan SARS namun mungkin jarang terjadi pada SARS-CoV-2.
Itu tergantung pada sistem pembuangan limbah, kata Malik Peiris, ketua virologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong.
"Tapi kita harus mengingat kemungkinan itu," tambahnya.
• Apple Watch Series 6 dan Apple Watch SE Resmi Diluncurkan, Ini Spesifikasinya
• Kehebatan Apple Watch Series 6 Fitur Pendeteksi Oksigen dalam Darah, Ada Jam Pintar Versi Murah
• Apple Store Hadir di Marina Bay Singapura dengan konsep Toko Terapung, Begini Penampakannya