Minggu, 10 Mei 2026

BATAM TERKINI

Covid-19 Ancam 5.100 Pekerja di Dua Pabrik, 130 Karyawan Terkonfirmasi Positif

Sebanyak 130 karyawan perusahaan industri manufaktur di Kawasan Industri Batamindo Mukakuning Batam positif Covid-19.

Tayang:
TRIBUNBATAM.id/SON
Sebanyak 130 karyawan perusahaan industri manufaktur di Kawasan Industri Batamindo Mukakuning positif Covid-19. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, ledakan penularan Covid-19 di kawasan industri di Mukakuning, Kota Batam, akhirnya terjadi juga.

Sebanyak 130 karyawan perusahaan industri manufaktur di Kawasan Industri Batamindo Mukakuning positif Covid-19.

Dua perusahaan asing itu adalah PT Infenion Technologies Batam dan PT Philips Industries.

Di Infenion dilaporkan ada 63 pekerjanya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara di PT Philips, dikabarkan ada 67 kasus positif.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusumarjadi pun meminta agar ke dua perusahaan itu di-lockdown agar kasus tidak semakin meluas.

Sebab, di kawasan industri tersebut ada puluhan perusahan dengan jumlah puluhan ribu tenaga kerja.

Menurut Didi, lockdown sementara selama 14 hari harus dilakukan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Batam untuk memutus penyebaran virus di kawasan industri tersebut.

"Saya sudah kirim surat rekomendasi (kepada Gugus Tugas) agar kedua perusahaan itu di-lockdown sementara," kata Didi kepada Tribun Batam, Selasa (22/8/2020).

Meledaknya kasus di kawasan industri Mukakuning ini sudah dikhawatirkan sebelumnya, Dalam laporan Tribun Batam pada Kamis (17/9) lalu, ada temuan delapan kasus terkonfirmasi positif di kalangan pekerja yang tinggal di dormitori atau mess pekerja Mukakuning dan 60 kontak erat dikarantina.

RSKI Galang Penuh, Pasien Covid-19 Bakal Diisolasi di Rusun BP Batam

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Rudi Syakyakirti kepada Tribun mengakui bahwa ada dua perusahaan yang saat ini menjadi perhatian karena ada beberapa pekerjanya yang positif.

Berbagai upaya, kata Rudi , sudah dilakukan seperti penyemprotan disinfektan ke dormitori dan pabrik secara rutin serta rapid test terhadap kontak erat kasus positif.

Sehari kemudian, jumlah karyawan yang dikarantina bertambah menjadi 153 orang dan 66 orang menjalani tes swab.

Terbaru, dalam laporan kemarin, jumlah kasus yang kemudian diketahui merupakan pekerja dua perusahaan asing itu terus bertambah.

Hingga Selasa kemarin, dua perusahaan itu masih beraktifitas. PT Infineon yang berasal dari Jerman itu masih beroperasi.

Pantauan Tribun, di parkiran perusahaan itu terlihat puluhan sepeda motor milik karyawan terparkir rapi. Di halaman perusahaan juga terlihat tenda putih.

Saat pergantian jam kerja, puluhan pekerja yang terlihat mengenakan masker medis, berseragam hijau tua dan jaket biru, terlihat berjalan beriringan keluar dari pabrik.

Seorang karyawan ketika ditanya Tribun mengaku tertekan oleh penularan virus yang terjadi di perusahaannya.

Namun karyawan yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, penularan yang terjadi saat ini bukan di pabrik tempat ia bekerja.

“Infineon itu ada empat pabrik. Di tempat saya tidak ada,” katanya.

Meski demikian, kata dia, seluruh karyawan Infineon sudah menjalani rapid test dua hari lalu. Menurut dia, karyawan yang terkena virus hanya dari satu pabrik saja.

“Tempat saya negatif senua,” katanya.

Kadinkes Didi mengatakan, rapid test massal tersebut wewenang penuh internal perusahaan.

"Perusahaan melakukannya sendiri," ujar Didi yang mengaku tidak mengetahui perkembangan hasil rapid test tersebut. “Kita tak mendapat laporan,” katanya.

Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin mengatakan, Tim Gugus Tugas sudah menyurati ke dua perusahaan itu untuk memilih dua opsi yang ditawarkan.

Pertama adalah melakukan tes swab kepada seluruh karyawannya atau menghentikan opersional perusahaan selama 14 hari.

Meski demikian, kata Jefridin, surat itu baru bersifat saran. Keputusan dari Gugus Tugas belum ada.

“Besok (Rabu-red) kita rapatkan. Nanti keputusannya bagaimana, tergantung Pak Wali Kota (H Muhammad Rudi) sebagai Ketua Gugus Tugas,” katanya.

Dilema

Kepala Dinas tenaga Kerja Rudi Syakyakirti mengatakan, kasus di dua pabrik itu memang dilema. Sebab, perusahaan memiliki target produksi yang harus mereka jalankan.

Sementara di sisi lain, virus juga tidak bisa dipandang enteng karena ribuan karyawan itu bekerja di ruangan tertutup selama delapan jam.

Bahkan, jika tidak bisa diputus, wabah tersebut bisa menular ke sejumlah karyawan perusahaan lainnya karena mereka umumnya tinggal berkelompok, di dormitori, rumah susun atau tempat kos di sekitar Mukakuning, Tanjungpiayu dan Batuaji.

Menurut Rudi, ada sejumlah opsi yang bisa dilakukan perusahaan. Jika tidak bisa di-lockdown seluruh pabrik, bisa di-lockdown sebagian.

“Jika mereka pempunyai empat pabrik, dua pabrik dulu yang ditutup dan dua pabrik beroperasi,” katanya.

Namun yang penting, kata Rudi, seluruh karyawan harus di-rapid test atau tes swab.

Selain itu, mendisiplinkan seluruh karyawan untuk menghindari kontak dengan orang lain saat di luar perusahaan.

“Kita tak perlu berdebat dari mana asal virus itu, dari dalam atau luar kawasan. Yang penting, saat ini, seluruh karyawan harus diwanti-wanti betul untuk menghindari kontak di luar pabrik,” katanya.

Seorang pekerja di kawasan Batamindo Mukakuning mengaku bahwa temuan virus dalam beberapa hari terakhir di kawasan itu cukup meresahkan.

Pria bernama Fajar itu mengatakan, ia bekerja di perusahaan yang tak jauh dari Infineon dan Philips.

“Ya, kami pada takut. Soalnya, mereka (yang tertular) kan OTG semua (orang tanpa gejala). Kita sering bertemu saat makan di kantin atau bertemu di luar,” katanya. (hsu/dna/yan)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved