Kadin Batam Sambut Baik Pembukaan Kembali Loket Visa ke Singapura
Pembukaan loket visa dari Indonesia ke Singapura rencananya akan beroperasi, Kamis (15/10).
Editor: Septyan Mulia Rohman
Kadin Batam Sambut Baik Pembukaan Kembali Loket Visa ke Singapura
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Pembukaan lalu lintas warga antara Indonesia dan Singapura, mulai pekan depan akan memasuki masa menggembirakan.
Secara bertahap pemerintah Indonesia segera membuka kembali layanan loket khusus visa elektronik di Batam dan Jakarta, mulai Kamis (15/10/2020).
Pembukaan jalur kunjungan dan pengunjung terbatas ini, hanya sepekan setelah denyut kehidupan ekonomi, sosial dan keagamaan di Singapura berangsung normal, sejak akhir September lalu.
Kadin Batam Sambut Baik Pembukaan Kembali Loket Visa ke Singapura.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Khusus Batam Jadi Rajaguguk, kepada Tribun, tadi malam, menyambut baik kabar terbaru, sejak lockdown atau circuit breakers di Singapura, berlaku 7 April 2020 lalu, atau 209 hari lalu.
“Ini tentu kabar, baik. Semoga ini bisa membangkitkan lagi ekonomi kita,” katanya kepada TribunBatam.id.
Dia berharap, pembukaan ini juga diikuti dengan penerapan protokol kesehatan ketat.
Jadi mengaku, pihaknya juga masih menunggu kabar lanjutan, apakah kunjungan bagi warga Indonesia ke Singapura, termasuk masa karantina, atau hanya cukup melampirkan hasil uji SWAB/PCR.
Sejak pemberlakuan lockdown atau circuit breakers, 7 April 2020 lalu, kehidupan ekonomi di Batam, juga terimbas parah.
Negara kota yang mengandalkan jasa itu, bahkan sudah mengumumkan resesi ekonomi katana tak adanya pendatang.
Jasa dan perkantoran, pusat bisnis, dan perdagangan dan transportasi terhenti.
Namun, akhir September lalu, kunjungan terbatas luar negeri, bagi kalangan eksekutif termasuk ke Indonesia, mulai diperbolehkan.
Di Singapura, skema kemudahan perjalanan luar negeri ini masih mewajibkan para traveler, untuk mengikuti ketentuan stay home notice (SHN) dan isolasi mandiri, hingga hasil tes lanjutan dilansir kembali.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, Sabtu (3/10/2020) mengungkapkan, pembukaan layanan paspor dan visa kunjungan ini sebagai upaya melobi Singapura agar akses kunjungan terbatas bagi warga Indonesia kembali dibuka.
Dengan layanan khusus itu, warga Singapura mendapat jalur hijau masuk Tanah Air.
“Kami akan menyediakan loket khusus untuk jalur hijau di Bandara Soekarno-Hatta (dekat Jakarta) dan terminal feri di Batam agar mereka tidak bisa bersama-sama dengan yang lain. Kami akan buatkan rute dan papan nama khusus,” papar Yasonna dilansir Channel News Asia.
Kebijakan pembukaan ini terungkap saat jumlah kasus aktif di Corona Virus Disease di Indonesia, masih bertambah 4.007 kasus per 3 Oktober kemarin.
• Ini 8 Fase Normal Sosial PascaCorona di Singapura HIngga Jelang Tahun Baru 2021
• Dari 270 Pilkada Serentak 2020 di Indonesia, Laga Paling Unik Ada di Perbatasan Singapura-Malaysia
Sementara di Singapura, kasus baru hanya tercatat 6 pasien, dan itupun kasus dari luar Singapura.
Di Indonesia, kini ada 299.506 total kasus, 63 ribu dirawat dengan 11.055 warga yang meninggal dunia karena pandemi ini.
Sedangkan di Singpura, tercatat ada 57.800 kasus.
Jika dibandingkan rasio per 1 juta penduduk, maka jumlah kasus di SIngapura 8 kali lebih banyak dibanding di Tanah Air.
Pembukaan layanan administrasi dokumen pelintas batas antar-Negeri Jiran ini, adalah tindak lanjut dari pertemuan antara Menteri Luar Negeri Singapura (MFA) Vivian Balakrishnan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, di Singapura, 25 Agustus lalu.
Dari pertemuan itu disepakati, kedua belah pihak memulai diskusi tentang jalur hijau atau Travel Corridor Arrangement (TCA) untuk memungkinkan perjalanan penting dilanjutkan secara bertahap.
Menkumham menyebutkan, layanan visa elektronik juga hampir selesai.
Rencananya akan beroperasi pada 15 Oktober 2020.
“ Tapi kami mungkin masih perlu berkoordinasi dengan Kementerian BUMN terkait Pengambilan Data Elektronik untuk pembayaran dengan debit atau kartu kredit,” kata Laoly.
Yasonna memastikan jajarannya sudah menyiapkan segala perangkat, termasuk revisi Peraturan Menkumham Nomor 11 Tahun 2020, untuk mendukung rencana Indonesia membuka akses perjalanan terbatas lewat “Travel Corridor Arrangement” (TCA) dengan Singapura.
Hal itu dia sampaikan dalam pertemuan virtual bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dan Menteri BUMN Erick Thohir, Kamis (1/10).
Yasonna mengatakan revisi Permenkumham Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Negara Republik Indonesia juga sudah final dan telah dibahas secara bersama lintas kementerian/lembaga, termasuk Kementerian Luar Negeri.
“Dalam waktu dekat akan diumumkan dan sudah memenuhi persyaratan untuk TCA, jadi tidak ada masalah,” ucap dia.
Mengingat tujuan utama dari TCA adalah pemulihan ekonomi, maka kriteria subyek dalam perjanjian ini adalah “business essential”, yakni pebisnis, tenaga kerja ahli, investor, atau pejabat publik.
Terkait dengan hal tersebut, dia mengatakan Direktorat Jenderal Imigrasi akan mewajibkan setiap orang asing yang akan berkunjung ke Indonesia melalui mekanisme TCA mengajukan visa dan memiliki penjamin di Indonesia.
Kemenkumham, kata dia, akan menyediakan loket khusus untuk TCA di Bandara Soekarno-Hatta dan Batam sehingga tidak bercampur dengan yang lain.
Sejak April, pemerintah melarang orang asing masuk ke Tanah Air untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Namun, pemegang izin jangka panjang dikecualikan.
Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) pada 25 Agustus mengatakan bahwa kedua belah pihak akan memulai diskusi tentang jalur hijau atau TCA untuk memungkinkan perjalanan penting dilanjutkan secara bertahap.
Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan dan Menlu Indonesia Retno Marsudi sepakat bahwa kedua negara harus bekerja sama erat untuk memperkuat kerja sama kesehatan masyarakat.
Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi, memperdalam kerja sama keuangan dan memfasilitasi perjalanan yang aman, kata pernyataan itu.
“Mengingat hubungan bisnis yang kuat antara Singapura dan Indonesia, kedua menteri luar negeri menugaskan para pejabat untuk memulai diskusi tentang ‘jalur hijau timbal balik’ untuk memungkinkan perjalanan penting dilanjutkan secara bertahap,
dengan cara yang akan menjaga kesehatan dan keselamatan publik di kedua negara,” papar Vivian dilansir Channel News Asia.
Singapura telah menjadi investor terbesar di Indonesia selama lima tahun terakhir.
Bulan lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan harapannya agar kedua belah pihak segera memiliki jalur hijau timbal balik, mengingat hal itu dapat membuka jalan bagi investasi yang masuk ke Indonesia.
Pada kuartal pertama tahun 2020, Singapura merupakan investor asing terbesar di Indonesia, dengan total realisasi investasi sebesar USD2,7 miliar, menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Saat ini, Singapura memiliki pengaturan jalur hijau timbal balik dengan China, Malaysia, Brunei, Korea Selatan, dan Jepang. Indonesia memiliki kesepakatan serupa dengan China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Di sisi Singapura, denyut kehidupan mulai bergerak sejak akhir September.
Straits Times pada Rabu (24/9/2020) lalu melaporkan, Menteri Kesehatan Singapura Gan Kim Yong, mengumumkan sebagian warganya mulai bisa kembali bekerja di kantor, perjalanan luar negeri dan regional, termasuk acara resepsi pernikahan.
Kebijakan otoritas kesehatan ini juga sudah ditindaklanjuti oleh aturan detail dari kementerian tenaga kerja.(Tribunnews/ant/bec/zil)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/pertemuan-retno-marsudi-menteri-luar-negeri-indonesia-dengan-pemerintah-singapura.jpg)