HUMAN INTEREST
Jadi Dokter Spesialis Mata di Batam, Ini Kisah Nurul Widiati Ikut Jejak sang Ayah
Dari ketekunannya mendalami spesialis penanganan mata, menjadikan Nuri sebagai satu-satunya dokter spesialis mata sub vitreo retina di Batam
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Dewi Haryati
Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Nama Nurul Widiati yang akrab disapa Nuri, mungkin sudah tak asing bagi warga Batam. Terkhusus, penderita mata. Sedikitnya sudah ada puluhan ribu pasien dengan gejala penyakit mata yang ia tangani.
Ya, cerita Nuri memang tak seperti kisah perjuangan melawan peliknya kehidupan. Yang Nuri tahu, hanya mendorong kemampuannya untuk mengembangkan penanganan penyakit mata di Batam.
Alhasil, dari ketekunannya mendalami spesialis penanganan mata, menjadikan Nuri sebagai satu-satunya dokter spesialis mata sub vitreo retina di Batam.
Bagi dunia medis, Nuri memang masih terbilang muda, bahkan masih baru jika dibanding dokter-dokter lainnya.
Fokus menangani pasien gejala penyakit mata, Nuri memulainya sejak tahun 2015 lalu.
• Simak Tips Praktis dan Sederhana Mengatasi Kesehatan Mata
• Khasiat Luar Biasa Sayur Bayam Bagi Tubuh, Mulai dari Jaga Kesehatan Mata hingga Jantung
"Masih bisa dibilang kerupuk bawanglah saya ini. Kemampuan juga tak jago-jago kalilah dibanding senior-senior saya," ucap Nuri sembari melemparkan senyuman, Rabu (7/10/2020) lalu.
Nuri memang orang yang sederhana.
Layaknya pekerja ulet kebanyakan, Nuri tak punya banyak kosa kata untuk menjelaskan detail pekerjaan dan perjalanan hidup yang dilaluinya.
Jadi dokter spesialis mata, sebenarnya bukan cita-cita yang diimpikan Nuri dari kecil. Malahan dia sempat berpikir ingin menjadi seorang arsitek.
Namun ia mengukur kemampuan dirinya.
"Gambar saja tak bisa, bagaimana mau jadi arsitek," kata Nuri sambil tertawa.
Di sela waktu menangani pasien di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, tepatnya di gedung lantai 3 RSBP, Nuri menceritakan secara singkat perjalanannya menjadi dokter spesialis mata.
"Dokter justru bukan cita-cita saya. Tapi ada rasa tanggungjawab dalam diri saya waktu itu untuk melanjutkan pekerjaan ayah yang mulai pensiun, dr Hariyono," ceritanya.
"Waktu itu saya sering melihat ayah menangani pasien penyakit mata, bahkan seharian. Jadi waktu saya masih kecil, saya sering ikut. Kebetulan ayah saya dokter mata di RSBP tahun 90an.
Jadi ibarat cerita dokter mata, ikut jejak sang ayah," sambung Nuri menceritakan awal ia memilih kuliah di fakultas kedokteran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1010dokter-spesialis-mata-di-rsbp-batam.jpg)