Kim Jong Un Menangis Ceritakan Kesulitan Korea Utara, Karena Sanksi, Pandemi Hingga Bencana Alam
Selain karena sanksi internasional akibat uji coba senjata, Pyongyang juga didera bencana banjir, terjangan topan, hingga dampak virus corona
TRIBUNBATAM.id, PYONGYANG - Momen emosional terjadi dalam acara parade militer merayakan 75 tahun berdirinya Partai Buruh di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menangis saat berpidato di acara itu.
Kim Jong Un berurai airmata saat menceritakan kesulitan yang dialami negara itu sepanjang tahun 2020 ini.
Kim nampak emosional dalam pidatonya tersebut.
Selain karena sanksi internasional akibat uji coba senjata, Pyongyang juga didera bencana banjir, terjangan topan, hingga dampak virus corona.
"Berapa orang yang sudah bertahan dan menderita dengan kondisi sulit saat ini?" kata Kim Jong Un dalam pidatonya, di mana dia mulai menangis.
• Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un Berharap Donald Trump Cepat Sembuh dari Covid-19
Kim menyatakan, adalah tentara Korut yang dia sebut patriotik sudah bergerak cepat dalam mencegah penyebaran corona maupun pemulihan akibat bencana alam.
"Perjuangan mereka tak bisa dibalas hanya dengan air mata terima kasih."
"Saya menyesal dan sakit karena tak bisa bersama mereka di malam penuh kemenangan ini," kata Dia.
Generasi ketiga dari Dinasti Kim itu menyatakan, kesigapan pasukannya membuat Korea Utara hingga saat ini, belum menemukan satu kasus virus corona.
Dia lalu menawarkan kata-kata lebih bersahabat kepada Korea Selatan, di mana dia berharap bisa "menggenggam tangan" tetangga jika pandemi berakhir.
Dilansir Bloomberg Sabtu (10/10/2020), Kim menegaskan bahwa pemerintahannya akan terus meningkatkan kemampuan tempur mereka.
Mnegenakan setelah abu-abu, pria yang dijuluki "Pria Roket" oleh Presiden AS Donald Trump itu berujar peningkatan itu demi mencegah adanya ancaman.
"Termasuk ancaman nuklir yang secara terus menerus digaungkan oleh kekuatan musuh," jelas pemimpin Korut sejak 2011 tersebut.
Berbicara kepada kerumunan dari balkon, Kim menuturkan Korea Utara bukanlah negara pertama kali menggunakan senjata nuklir jika terjadi konflik.