TRIBUN WIKI
Sejarah Panjang di Balik Renyahnya Kerupuk, Simbol Keprihatinan di Zaman Penjajahan
Salah satu kerupuk yang paling tua dan sudah lama dikonsumsi adalah rambak. Dulu rambak dibuat dari kulit sapi atau kerbau.
Editor: Widi Wahyuning Tyas
TRIBUNBATAM.id - Sebagai salah satu kudapan dan teman makan, kerupuk terbilang cukup populer di Indonesia.
Bahkan, bagi sebagian orang, makan tanpa kerupuk terasa kurang.
Kerupuk hadir dengan tekstur renyah dan rasanya yang gurih.
Kudapan ini sering kali menjadi teman santap untuk makanan apa saja.
Kerupuk bisa dibuat dari berbagai bahan seperti bawang, tepung, ikan, udang, bahkan dari nasi sisa.
Ternyata, sejak zaman dulu, kerupuk telah ada sebagai makanan pendamping.
Ada sejarah panjang di balik renyahnya kerupuk.
Sejarah kerupuk dijabarkan oleh sejarawan dan penulis buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Nakanan Indonesia, Fadly Rahman.
Artinya kerupuk sudah menjadi makanan pendamping untuk masyarakat kuno pada saat itu.
Salah satu kerupuk yang paling tua dan sudah lama dikonsumsi adalah rambak.
Dulunya rambak dibuat sebagai makanan yang memanfaatkan kulit sapi atau kerbau.
Namun berbeda dengan kerupuk aci, kerupuk ini dibuat karena banyaknya produksi singkong di tanah Jawa pada abad ke-19.
Baca juga: 7 Hidangan Lezat saat Perayaan Diwali di India, Ada yang Mirip Bakwan Indonesia
Kerupuk aci
Kerupuk bulat dan berwarna putih itu terbuat dari olahan singkong atau terkenal dengan sebutan “aci” dalam bahasa Sunda.