Rabu, 29 April 2026

Jangan Keliru! Penderita Diabates Tidak Perlu Stop 100 Persen Konsumsi Nasi Putih

Pengidap diabetes seharusnya memang menerapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari kondisi semacam itu

|
KOMPAS.COM
Ilustrasi Nasi Putih 

TRIBUNBATAM.id -  Diabetes atau gula darah merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya.

Hal ini karena tidak sedikit pengidap diabetes yang juga mengidap berbagai penyakit lainnya sehingga mengalami komplikasi.

Pengidap diabetes seharusnya memang menerapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari kondisi semacam itu.

Mengutip laman Tribun Jogja, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebut bahwa prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10,9 persen dan diprediksi terus meningkat.

Diabetes sendiri terdiri atas empat tipe, yaitu diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes tipe 3, dan diabetes gestasional (kehamilan).

Saat ini, kasus yang paling banyak ditemukan adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh faktor genetik (keturunan) dan gaya hidup tidak sehat.

"Diabetes tipe 2 mulanya hanya pada orang dewasa. Tapi sekarang pada usia lebih muda lagi, bisa di bawah 30 tahun."

Hal itu dijelaskan oleh Ketua Umum Perkeni, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, dalam acara virtual beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, banyak orang meyakini bahwa pasien diabetes tidak boleh mengonsumsi nasi putih karena dianggap memiliki Glycemic Index/GI yang tinggi.

Namun, faktanya bukan berarti pasien diabetes harus berhenti sama sekali mengonsumsi nasi putih.

Menurut Chairman Diabetes Connection Care, Eka Hospital, Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE menekankan, pentingnya mengontrol porsi nasi putih yang dikonsumsi agar tidak berlebihan.

Ini juga berlaku untuk jenis karbohidrat lain, seperti mie, roti, bihun, singkong, hingga nasi merah.

"Memang dikatakan beras merah GI-nya lebih rendah. Tapi, kalau makan nasi merah dua piring? Tetap gulanya naik," katanya dalam konferensi pers, seperti Grid.ID kutip dari Kompas.com.

"Jadi sebetulnya prinsipnya tidak ada yang tidak boleh. Cuma, ada yang boleh banyak, ada yang boleh sedikit," lanjutnya.

Adapun GI adalah standar pengukuran seberapa cepat karbohidrat dalam makanan diubah menjadi gula (glukosa) untuk dipakai sebagai energi.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved