BERKAH Pandemi, Inilah 8 Ilmuwan dan Pebisnis Kesehatan yang Kaya Raya Selama 2020

BERKAH Pandemi, Inilah 8 Ilmuwan dan Pebisnis Kesehatan yang Kaya Raya Selama 2020.

IST
KAYA RAYA - BERKAH Pandemi, Inilah 8 Ilmuwan dan Pebisnis Kesehatan yang Kaya Raya Selama 2020. FOTO: ROBERT LANGER 

TRIBUNBATAM.id - BERKAH Pandemi, Inilah 8 Ilmuwan dan Pebisnis Kesehatan yang Kaya Raya Selama 2020.

Pandemi Covid-19 telah membuat banyak sektor dalam kehidupan lumpuh.

Ada banyak hal yang pada akhirnya tak bisa dilakukan demi menghindari penularan virus.

Kini, setelah setahun berjuang melawan pandemi, harapan itu mulai ada.

Beberapa vaksin yang telah beberapa kali diuji tinggal menunggu waktu untuk digunakan.

Vaksin ini dirasa menjadi jawaban dari segala kesulitan selama setahun belakangan.

Di tengah melumpuhnya beragam sektor akibat pandemi, ada satu sektor yang nyatanya justru bersinar.

Ya, sektor kesehatan mungkin menjadi satu-satunya bidang yang tak tumbang karena pandemi.

Sejumlah miliarder baru muncul pada 2020 dari jagat kesehatan.

Adapun kekayaan mereka didorong oleh lonjakan pasar saham saat investor berbondong-bondong ke perusahaan dalam pengembangan vaksin, perawatan, perangkat medis, dan hal lain yang berkaitan dengan kesehatan.

Secara keseluruhan, Forbes menemukan 50 miliarder baru yang muncul di sektor perawatan kesehatan pada 2020 ini.

Berikut ini adalah 8 miliarder baru yang mendapatkan penghasilannya dari usaha peralatan medis hingga pengembangan vaksin dari Covid-19, seperti dilansir dari Forbes:

Baca juga: Tajir Melintir, Inilah 2 Sosok Konglomerat Wanita Terkaya di Indonesia

1. Ugur Sahin

Kekayaan bersih: 4,2 miliar dollar AS (Rp 59,4 triliun)

Dokter kelahiran Turki ini mendirikan BioNTech di Mainz, Jerman pada 2008 bersama istrinya, Ozlem Tureci, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Petugas Medis perusahaan.

Sahin, kini memiliki 17 persen saham dari perusahaan bioteknologi tersebut.

Saham dari BioNTech telah meningkat 160 persen sejak Januari didukung keberhasilan vaksin Covid-19 yang dikembangkan dalam kemitraan dengan Pfizer.

Pengembangan vaksin dari kedua perusahaan tersebut, sudah dinyatakan FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat) 95 persen efektif dalam melawan virus Covid-19.

Dosis pertama dari vaksin itu sendiri diluncurkan di Inggris pada 8 Desember dan di AS pada 14 Desember, dengan lebih banyak dosis disediakan untuk Uni Eropa, Jepang dan Kanada.

Sebelumnya, Sahin dan sang istri mendirikan perusahaan biofarma Ganymed Pharmaceuticals pada 2001.

Namun, perusahaannya itu mereka jual ke Astellas Pharma yang berbasis di Jepang pada 2016.

Baca juga: 4 Konglomerat Indonesia yang Masuk Daftar 500 Orang Terkaya di Dunia, Berapa Total Kekayaannya?

2. Stephane Bancel

Kekayaan bersih: 4,1 miliar dollar AS (Rp 57,9 triliun)

Pria kelahiran Perancis ini adalah CEO dari Moderna yang berbasis di Massachusetts, AS.

Sebelum menjadi CEO dari Moderna, Bancel sebelumnya pernah menjadi CEO dari perusahaan diagnostik Prancis BioMérieux.

Saat ini, Bancel memiliki 6 persen saham Moderna, walaupun turun sekitar 9 persen saat pertama kali dirinya menjadi miliarder pada Maret lalu.

Pada 18 Desember sendiri, vaksin Covid-19 Moderna merupakan vaksin kedua yang sudah disetujui regulator di AS.

Vaksin Moderna juga sudah dinilai efektif sebesar 95 persen dalam menangkal virus Covid-19.

Dosis pertama vaksin dari Moderna akan diberikan ke AS, yang memesan 200 juta dosis dengan opsi untuk 300 juta lebih.

Baca juga: Mengintip Pembuatan dan Cara Kerja Novavax, Vaksin Terbaru Pilihan RI Buatan AS

3. Yuan Liping

Kekayaan bersih: 4,1 miliar dollar AS (Rp 57,9 triliun)

Yuan memiliki 24 persen saham dari salah satu produsen vaksin terkemuka di China, Shenzhen Kangtai Biological Products usai perceraian dengan ketua perusahaan Du Weimin pada Juni.

Perpisahan tersebut seketika menjadikan penduduk Shenzhen itu sebagai wanita terkaya di Kanada.

Saham dari Kangtai naik 90 persen sejak awal 2020, dimana Yuan sendiri sudah bekerja di perusahaan tersebut dari 2012-2015 sebagai manajer dan direktur.

Sejak 2017, Yuan ditunjuk menjadi direktur di anak perusahaan Kangtai, Beijing Minhai Biotechnology.

Kangtai sendiri adalah pabrikan eksklusif dari China yang bekerja sama denganAstraZeneca dan Universitas Oxford, untuk mengembangkan vaksin.

Tetapi perusahaan ini sendiri mempunyai catatan sejarah yang kurang baik.

Pada 2013, vaksin hepatitis B-nya dikaitkan dengan kematian 17 bayi, walaupun pada akhirnya penyidikan dari pemerintah berujung buntu dan beberapa pihak kritikus mendapatkan tekanan untuk menarik artikel tersebut.

Sampai saat ini, perwakilan dari Shenzhen Kangtai tidak belum memberikan pernyataan soal isu tersebut.

Baca juga: 8 Konglomerat Pemilik Bank Swasta Besar di Indonesia, BCA hingga Bank Mega

4. Hu Kun

Kekayaan bersih: 3,9 miliar dollar AS (Rp 55,1 triliun)

Hu Kun merupakan ketua dari Contec Medical Systems, produsen perangkat medis yang berlokasi di kota Pelabuhan Qinhuangdao di timur laut China.

Dia membawa perusahaan itu ke melantai di pasar saham Shenzhen pada Agustus 2020.

Selain itu, Hu menguasai hampir setengah dari saham perusahaan, yang naik hampir 150 persen sejak IPO.

Sekitar 70 persen pendapatan Contec sendiri datang dari produk-produk medis rumah sakit seperti nebulizer, stetoskop, dan monitor tekanan darah.

Baca juga: Adu Harta Kekayaan 4 Konglomerat Pemilik Stasiun TV, Siapa Paling Tajir?

5. Carl Hansen

Kekayaan bersih: 2,9 miliar dollar AS (Rp 40,9 triliun)

Hansen adalah CEO dan salah satu pendiri AbCellera yang berlokasi di Vancouver.

AbCellera sendiri adalah perusahaan bioteknologi yang menggunakan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi perawatan antibodi paling efektif.

Hansen mendirikan perusahaanya pada 2012.

Hingga 2019, dia juga bekerja sebagai profesor di University of British Columbia, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk berfokus penuh di AbCellera.

Keputusan tersebut tampaknya tepat mengingat kepemilikan sebesar 23 persen di perusahaan tersbut membuat dirinya masuk klub pendatang miliarder terbaru.

AbCellera sendiri berhasil melantai di Nasdaq pada 11 Desember 2020.

Pemerintah AS telah memesan 300.000 dosis bamlanivimab, antibodi yang ditemukan AbCellera dalam kemitraan dengan Eli Lilly yang menerima persetujuan FDA sebagai pengobatan Covid-19 pada November.

Baca juga: 40,2 Juta Orang Akan Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama, Berlangsung 2 Tahap

6. Timothy Springer

Kekayaan bersih: 2 miliar dollar AS (Rp 28,2 triliun)

Sebagai ahli imunologi dan profesor kimia biologi dan farmakologi molekuler di Universitas Harvard, Springer adalah investor pendiri di Moderna pada 2010.

Saat itu, dia menanamkan modal sekitar 5 juta dollar AS untuk perusahaan tersebut.

Satu dekade kemudian, 3,5 persen sahamnya sekarang bernilai sekitar 1,6 miliar dollar AS.

Springer dikenal sebagai sosok yang aktif berinvestasi di bidang biotek, di mana dirinya memiliki saham kecil di perusahaan publik Scholar Rock and Morphic Therapeutic.

Springer berhasil mendapatkan bayaran terbesarnya pada 1999.

Saat itu, dia menjual LeukoSite, perusahaan bioteknologi yang dia dirikan pada 1993 kepada Millennium Therapeutics seharga 635 juta dollar AS.

Baca juga: 4 Konglomerat Indonesia yang Miliki Bisnis Rumah Sakit Mewah, Salah Satunya Ada di Batam

7. Sergio Stevanato

Kekayaan bersih: 1,8 miliar dollar AS (Rp 25,4 triliun)

Stevanato adalah presiden dari perusahaan kemasan medis Italia Stevanato Group.

Perusahaan tersebut adalah produsen botol kaca terbesar kedua di dunia dan pemasok botol kaca terkemuka untuk lebih dari 40 vaksin Covid-19.

Didirikan di pinggiran Venesia pada 1949 oleh ayahnya yang bernama Giovanni, perusahaan itu saat ini dijalankan anak-anak Sergio, yakni Franco dan Marco, yang masing-masing menjabat sebagai CEO dan wakil presiden.

Perusahaan yang sekarang bernilai 700 juta dollar AS ini pun juga merupakan produsen pena insulin terbesar di dunia.

Selain itu, juga membuat mesin yang mampu mensterilkan, dan mengemas miliaran botol, jarum suntik, dan produk kaca lainnya.

Baca juga: 4 Konglomerat Tertua di Indonesia, Diberkahi Umur Panjang Lebih dari 90 Tahun

8. Robert Langer

Kekayaan bersih: 1,5 miliar dollar AS (Rp 21,2 triliun)

Dikenal sebagai "Edison of Medicine" untuk pekerjaannya di bidang teknis biomedis, Langer sendiri adalah profesor teknik kimia di Institut Teknologi Massachusetts.

Dia merupakan investor awal dari Moderna pada 2010, di mana hingga kini, dia belum pernah menjual sahamnya.

Setidaknya, 3 persen saham yang dimiliki Langer saat ini dilaporkan sudah bernilai sekitar 1,5 miliar dollar AS.

Langer juga memiliki investasi kecil di perusahaan rintisan bioteknologi SQZ Biotechnologies dan Frequency Therapeutics yang diperdagangkan secara publik, dimana keduanya didirikan mahasiswa pascadoktoral dari labnya.

Sekarang ini, Langer sudah memegang lebih dari 1.400 paten yang telah dilisensikan lebih dari 400 kali kepada perusahaan farmasi dan medis.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "10 Ilmuwan dan Pengusaha Kesehatan yang Jadi Miliarder 2020, Siapa Saja Mereka?".

Baca berita terbaru lainnya di Google!

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved