Jumat, 8 Mei 2026

Rusuh di Gedung Capitol Hill, 4 Eks Presiden AS Kompak Hujat Donald Trump

Penyerbuan Capitol Hill ini membuat anggota parlemen harus mengamankan diri, dan seorang pedemo wanita tewas ditembak. 

Tayang:
Kompas.com - (Antara Foto/Reuters/Stephanie Ke)
Pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkumpul di depan Gedung US Capitol di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Hari pengesahan kemenangan presiden terpilih Joe Biden oleh Kongres di Gedung Capitol diwarnai penyerbuan massa pendukung Donald Trump dalam upaya menggagalkan anggota parlemen dari tugas konstitusional mereka. 

TRIBUNBATAM.id, WASHINGTON - Empat mantan presiden Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/1/2021), kompak menghujat Donald Trump atas kerusuhan Gedung Capitol

Penyerbuan Capitol Hill ini membuat anggota parlemen harus mengamankan diri, dan seorang pedemo wanita tewas ditembak. 

Massa yang mendukung Trump menentang sertifikasi Joe Biden yang sedang berlangsung di Kongres, guna mengonfirmasi kemenangannya di Pilpres AS

George W Bush menyebut Trump yang merupakan sesama anggota Partai Republik telah mengobarkan pemberontakan, dan menyamakan situasi ini dengan "Banana Republic". 

"Saya syok dengan perilaku sembrono dari beberapa pemimpin politik sejak pemilu dan kurangnya rasa hormat yang ditujukan hari ini untuk institusi kami, tradisi kami, dan penegakan hukum mati," kata Bush dikutip dari AFP

Barack Obama juga menyalahkan Partai Republik dan Trump, yang bohong besar tentang hasil Pemilu AS meski salah. 

Presiden AS 2009-2017 itu menyebut penyerbuan Capitol Hill adalah aib besar bagi bangsa Amerika. 

"Tapi kita bercanda kalau melihatnya sebagai kejutan besar," ujar Obama.

Ia juga menyebut kerusuhan Capitol Hill sebagai konsekuensi dari Trump dan para pendukungnya yang menolak hasil pilpres Amerika Serikat.

Baca juga: Rekaman Donald Trump Minta Suara Viral, Pejabat Georgia Dipaksa Terima Telepon Ubah Hasil Pilpres AS

Kemudian Bill Clinton mengecam penyerbuan gedung Kongres AS tersebut sebagai serangan yang baru terjadi kali ini.

"Hari ini kita menghadapi serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Capitol kita, Konstitusi kita, dan negara kita," kata presiden AS 1993-2001 itu. 

"Api dikobarkan oleh Trump dan para pendukungnya, termasuk banyak orang di Kongres, untuk membatalkan hasil pemilu di mana dia kalah."

Kemudian Jimmy Carter (96) presiden ke-39 yang menjabat pada 1977-1981 mengatakan, dia kecewa dengan kerusuhan massa di Capitol yang dia sebut tragedi nasional. 

"Kami bergabung dengan rakyat dalam mendoakan resolusi damai, agar bangsa kita bisa sembuh dan menyelesaikan perpindahan kekuasaan seperti yang kita lakukan selama lebih dari 2 abad," ucap Carter. (*) 

Simak berita Tribunbatam.id lainnya di Google News

Baca juga: Viral di Medsos, Remaja Berjilbab Jadi Korban Bully, Kepalanya Dipukul dan Ditendang

Baca juga: Pengakuan Haico Soal Rangga Azof, Pemeran Bucin Samudra Cinta Ternyata Tidak Suka TikTokan

Baca juga: IHSG Perdagangan Sesi II, Kamis 7 Januari 2021 Ditutup Melesat Naik  1,45% ke Level 6.153

Baca juga: Awas! 7 Kebiasaan di Pagi Hari Ini Bisa Bikin Berat Badan Cepat Naik

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved