KISAH PERANTAU DI KARIMUN
KISAH Heriyanto Perantau di Karimun, 10 Tahun Bertahan Hidup dari Jualan Kain Lap Keliling
Berikut ini kisah perantau di Karimun. Kisah kali ini datang dari penjual kain lap keliling di Bumi Berazam. Berikut ceritanya.
Penulis: Yeni Hartati | Editor: Septyan Mulia Rohman
KARIMUN, TRIBUNBATAM.id - Sepuluh tahun merantau ke Karimun sudah dialami Heriyanto.
Pria 43 tahun ini menjadi satu dari berbagai Kisah Perantau di Karimun.
Ia tinggal di kamar indekos di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.
Pesatnya pembangunan Karimun sedikit banyak ia saksikan.
Untuk bertahan hidup di Karimun, ia menjual kain lap keliling.
Lamanya berjualan kain lap keliling, sama lamanya dengan lama ia berada di Karimun.
Perantau asal Sumatra Barat ini setiap hari mengayuh sepeda sederhana berkeliling Karimun menjajakan dagangannya.
Jangan tanya soal suka dukanya berjualan kain lap keliling.
Heriyanto pernah hanya mengantongi uang Rp 10 ribu setelah seharian berkeliling berjualan kain lap.
Kain lap warna warni yang ia jual berbentuk persegi biasanya ia jual dengan harga 3 buah 15 ribu Rupiah.
"Kondisi pandemi Covid-19 ini tambah sulit. Namanya kehidupan, begitu juga urusan nasib orang," ucapnya kepada TribunBatam.id, Kamis (4/2/2021).
Heriyanto menceritakan menginjakan kaki pertama kali di Bumi Berazam sejak 2010.
Kondisinya saat itu menurutnya banyak kekurangan dibanding sekarang.
Ia pernah menikah. Kini hampir tiga tahun ia kehilangan pendamping hidupnya itu.
Dari pernikahannya itu, ia belum dikaruniai anak.
• Kisah Perantau di Batam Babak Belur Lawan Pandemi, Usaha Tutup Hingga Kerja Serabutan
• KISAH Perantau di Batam, Sebatang Kara Ditinggal Anak Istri Hingga Tidur di Masjid
Kini Heriyanto tinggal sebatang kara di Karimun.
Meski dengan kondisi itu, Heriyanto tak patah semangat mencari rezeki.
Ia yakin rezeki sudah digariskan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ia mengaku dalam kesehariannya rezeki yang ia peroleh tidak tentu, tergantung pembeli yang silih berganti.
"Tidak hanya di Baran. Sebelumnya pernah berjualan di Pasar Puakang di jalan Nusantara.
Sekarang di sana sepi. Jadi saya jualan keliling dulunya di pasar Puakang, pasar Maimun, pasar Bukit Tembak, namun kali ini saya di Baran," tambahnya.
Hasil dari penjualan kain lap tidak menentu dalam sehari paling banyak hanya 50 ribu Rupiah.
Ia mengaku jika warga Karimun banyak mencari kain lap ketika mau hari raya.
Ini karena rata-rata orang sini beli kain lap baru.
Setiap bulan, Heriyanto wajib mengeluarkan biaya Rp 500 ribu.
Tak jarang, kondisi ini membuatnya bingung.
Sering pula ia meminta kelonggaran waktu kepada pemilik indekos.
Heriyanto mengaku bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
"Beginilah hidup merantau ke Karimun," katanya. (TribunBatam.id/Yeni Hartati)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kisah-heriyanto-perantau-di-karimun.jpg)