BATAM TERKINI
RUSUN BP Batam dan Pemko Batam Nihil Tampung PMI, Sebut Nakes Tak Ada Positif Covid-19
Ratusan PMI yang sebelumnya dikarantina di rusun BP Batam dan Pemko Batam sudah dipulangkan ke daerahnya masing-masing.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Sudah tiga hari terakhir rusun BP Batam dan Pemko Batam di Kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam nihil Pekeja Migran Indonesia atau PMI.
Seluruh PMI yang sebelumnya menjalani karantina pada dua rusun tersebut, sudah selesai menjalani karantina.
Mereka bahkan sudah dipulangkan ke daerahnya masing-masing.
Tenaga kesehatan di dua rusun itu, dr Jee Airo Farullah membenarkan kondisi itu.
"Kami bersyukur dari ratusan PMI yang dipulangkan dari Singapura dan Malaysia, sudah selesai menjalani masa karantina dan sudah pulang ke daerah asal masing-masing," katanya kepada TribunBatam.id, Minggu (21/2/2021).
dr Jee mengatakan sejak 22 Januari 2021 lalu, setidaknya 1.000 PMI yang dipulangkan dari Singapura dan Malaysia.

Dari 1.000 lebih PMI itu, terdapat lima orang yang dinyatakan positif Covid-19.
Mereka dipindahkan ke RSKI Covid-19 Galang.
Dia mengatakan seluruh PMI yang dipulangkan sebelum masuk ke Indonesia terlebih dulu menjalani swab test.
"Setelah hasil swabnya keluar, maka PMI tersebut bisa pulang ke daerah asalnya,"kata dr.Jee.
Dia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh PMI yang pernah menjalani karantina di Rusun BP Batam dan Rusun Pemko Batam.
Selama PMI menjalani karantina, semuanya mengikuti aturan yang kita buat, seperti tidak keluar dari komplek rusun.
Dia juga menegaskan, selama merawat dan mengawasi PMI di Rusun BP Batam dan Rusun Pemko Batam, para perawat tidak ada yang terpapar covid-19.
"Kami berharap pandemi Covid-19 ini, secepatnya berlalu, agar situasi kembali normal," kata dr Jee.
Baca juga: Dinkes Minta Warga Anambas Tak Ragu soal Vaksin Corona
Baca juga: KEPRI Jadi Pintu Masuk PMI dari Luar Negeri, Kemenaker Diminta Bantu Anggaran Pemda

300 PMI Jalani Karantina
Ribuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) alias TKI yang dipulangkan dari negara tetangga sebelumnya telah menjalani masa karantina di Rusun Pemko Batam dan Rusun BP Batam.
Sejak 22 Januari 2021 lalu, kedua rusun ini telah menampung lebih dari 1.000 PMI.
"Dua rusun ini disiapkan pemerintah daerah untuk menampung para PMI yang dipulangkan ke Indonesia melalui Batam," ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Batam Hasyimah ditemui di kantornya, Jumat (10/2/2021).
Menurutnya, program ini telah berjalan sejak 2020 lalu. Pekerja migran yang dideportasi ke Indonesia lewat Batam akan menjalani swab tes sebelum dipulangkan ke daerah asalnya.
Selama menunggu hasil swab ini, Pemko Batam menyiapkan lokasi karantina bagi mereka.
"Selain tempat kita juga menyediakan makanan bagi mereka.
Ini sebagai bentuk tanggung jawab Pemko Batam terhadap pekerja migran.

Bagaimana pun mereka tetap saudara kita," ucap Hasyimah.
Ia melanjutkan, rata-rata pekerja migran yang dikarantina di rusun ini selama tiga sampai empat hari, tergantung berapa lama hasil swabnya keluar.
Selama itulah Pemko Batam memberikan tempat sekaligus memberikan makan para pekerja migran ini.
"Kalau hasil swabnya negatif biasanya langsung dipulangkan. Tapi kalau positif kita kirim ke RSKI Galang," ujarnya.
Ia mengatakan, tak semua pekerja migran memilih karantina di rusun.
Ada juga yang memiliki uang lebih memilih tinggal di hotel sambil menunggu hasil swabnya selesai.
"Yang di rusun ini bagi mereka yang tak mampu.

Kita berikan pilihan, kebanyakan dari mereka memilih menggunakan fasilitas pemerintah," kata Hasyimah.
Seorang Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinsos Batam Yena mengatakan, sejauh ini ia bersama enam orang rekannya membantu para pekerja migran selama di lokasi karantina.
Setiap rusun disiapkan tujuh orang Tagana. Merekalah nantinya yang diperuntukkan membantu kebutuhan para pekerja.
"Kita bantu untuk konsumsi, sehari tiga kali," kata Yana.
Yana melanjutkan, penghuni Rusun BP Batam dan Rusun Pemko Batam dipisah antara perempuan dan laki-laki.
Setiap kamar berisikan dua pekerja migran.
Sebagian besar pekerja, mengaku tertipu oleh calo, sehingga mereka berangkat menggunakan dokumen ilegal.
"Banyak juga yang curhat, kapok dan merasa tertipu," sambungnya.
Saat ini tambahnya, dari 1.000 PMI yang masuk ke rusun, 700 pekerja di antaranya sudah dipulangkan ke daerahnya masing-masing.
Pemulangan menggunakan biaya sendiri. Meski begitu bagi mereka yang betul-betul tak mampu akan dicarikan solusi oleh dinsos.
"Ada juga di antara mereka patungan atau kasih sumbangan agar teman yang lain bisa pulang. Saat ini yang ada di rusun sekitar 300 pekerja saja.
Informasinya malam ini juga akan ada tambahan baru," tuturnya.(TribunBatam.id/Ian Sitanggang/Bereslumbantobing)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google