Hari Paling Berdarah Myanmar! Aparat Mengganas Tembaki Warga, Belasan Mayat Jatuh
Begini suasana hari paling berdarah Myanmar! Aparat mengganas tembaki warga, belasan mayat jatuh bergelimpangan
Di Mandalay, seorang pria ditembak mati saat mengendarai sepeda motornya.
Para pengunjuk rasa menggotong jenazah pria itu ke ambulans.
Peluru menembus helm merahnya, membuatnya bersimbah darah, gambar di media sosial menunjukkan.

Seorang reporter di garis depan membuat unggahan di Facebook bahwa polisi telah memberi tahu orang-orang bahwa mereka tidak menembak karena mereka diperintahkan.
“Kami menembak karena kami ingin. Masuklah ke dalam rumah kalian jika kalian tidak ingin mati," tulis reporter itu mengutip salah satu polisi yang berteriak.
Meski ada tindakan keras, pengunjuk rasa menyebar ke berbagai distrik, memasang penghalang jalan dengan tempat sampah beroda, tiang lampu, dan balok beton.
Beberapa orang memegang tameng antihuru hara buatan sendiri dari lembaran timah dan distensil dengan tulisan “PEOPLE” agar kontras dengan tameng yang berlabel “POLICE”.
Para pengunjuk rasa menulis golongan darah mereka dan nomor kontak kerabat terdekat di lengan mereka jika mereka terluka.
“Kaum muda melawan penindasan negara dengan apa pun yang mereka miliki. Kami tidak akan membiarkan militer memerintah kami lagi. Tidak akan lagi,” kata aktivis pemuda, Thinzar Shunlei Yi.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Paling Berdarah sejak Kudeta Militer Myanmar, 18 Orang Tewas dalam Sehari".
Baca berita terbaru lainnya di Google!