RAMADHAN 2021
Ramadhan 2021, Inilah Sejarah dan Asal-usul Sarung, Ternyata Bukan Asli Indonesia
Ramadhan 2021, Inilah Sejarah dan Asal-usul Sarung, Ternyata Bukan Asli Indonesia
TRIBUNBATAM.id - Sarung yang banyak dijumpai di Indonesia memiliki sejarah dan asal-usul tersendiri.
Biasanya, sarung digunakan untuk salat maupun beraktivitas santai di rumah.
Penggunaan sarung terbilang saat sederhana.
Selembar kain tradisional ini dililitkan di bagian bawah tubuh sebagai pengganti celana.
Panjang aslinya dari ketiak orang dewasa hingga menjuntai ke bawah mata kaki.
Agar tak kepanjangan, sarung dilipat hingga pinggang dan dikencangkan sehingga nyaman dipakai.
Saat Ramadhan tiba, sarung menjadi pakaian yang lazim dikenakan saat salat tarawih.
Kain ini sudah menjadi ciri khas umat muslim di Nusantara.
Lantas, bagaimana sejarahnya?
Apakah sarung berasal dari Indonesia?
Baca juga: Apa Itu Telur Paskah? Ternyata Begini Sejarah dan Maknanya
Baca juga: Sejarah Ulos Kain Khas Batak, Dulu untuk Penghangat Badan kini Penghormatan dan Kasih Sayang
Baca juga: 27 Tahun Beroperasi, Inilah Sejarah Kilang Minyak Balongan, Alami 3 Kali Kebakaran
Sejarah

Menurut sumber sejarah, sarung berasal dari Yaman.
Di negeri itu sarung biasa disebut futah.
Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar atau ma’awis.
Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa.
Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat.
Penggunaan Sarung di Indonesia
Awalnya sarung diterima dan dipakai umat muslin yang berada di esisir pantai, dalam perkembangan berikutnya sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.
Walaupun sarung tidak asli dari Indonesia, akan tetapi sarung sangat identik dengan muslim yang ada di Indonesia.
Bahkan sarung menjadi bagian sejarah dari perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.
Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung, sedangkan kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan sarung. Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan budaya barat yang dibawa oleh para penjajah.
Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU).
Suatu ketika, beliau pernah diundang Presiden Soekarno.
Protokol kepresidenan memintanya untuk berpakaian lengkap dengan jas dan dasi.
Namun, saat menghadiri upacara kenegaraan, ia datang menggunakan jas tetapi bawahannya sarung.
Padahal biasanya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang.
Sebagai seorang pejuang yang sudah berkali-kali terjun langsung bertempur melawan penjajah Belanda dan Jepang, Abdul Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat.
Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.
Yang membedakan sarung Indonesia dengan sarung negara lain adalah sarung yang terbuat dari kain tenun, songket, dan tapis.
Masing-masing jenis bahan sarung tersebut berasal dari daerah yang berbeda di Indonesia.
Bahan yang terbuat dari tenun, lebih dikenal berasal dari area Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Barat, Nusat Tenggara Timur, Sulawesi, dan Bali.

Sedangkan songket, sangat identik dengan ciri khas adat Minangkabau dan Palembang.
Sementara tapis, kita mengenal bahan ini berasal dari Lampung.
Sarung tradisional tidak bermotif kotak-kotak. Sarung yang terbuat dari tenun, diciptakan paling sederhana.
Cenderung lebih bermain warna, dibanding motif yang ‘ramai’.
Sedangkan tapis dan songket, sekilas akan terlihat sama.
Hanya, motif tapis memiliki unsur alam, seperti flora dan fauna.
Sedangkan motif songket, terlihat lebih meriah dengan motif yang mengisi seluruh isi bahan.
Ada kesamaan diantara tapis dan songket, yaitu keduanya terbuat dari benang emas dan perak.
Baca juga: Apa Boleh Mencicipi Masakan saat Puasa Ramadhan? Apakah Membatalkan Puasa? Begini Hukumnya
Baca juga: 4 Tips Aman Berpuasa bagi Ibu Hamil, Perhatikan Usia Kandungan hingga Asupan Makanan
Baca juga: 4 Negara dengan Waktu Puasa Terlama di Dunia, Finlandia Sampai 23 Jam
Motif
Mengapa motif sarung kotak-kotak?
Nilai filosofis motif sarung kotak-kotak mengartikan, setiap melangkah baik ke kanan, kiri, atas ataupun bawah, akan ada konsekuensinya.
Sarung hingga kini tak hanya dipakai untuk beribadah saja, sarung orang biasa digunakan sebagai selimut,untuk melindungi dari udara dingin, bahkan ayunan untuk bayi yang baru lahir.
Bahkan umat non Islam di Indonesia juga tak dapat lepas dari sarung, yang tentu penggunaannya bukan diperuntukan untuk peribadatan.
(*)
Sumber: TRIBUNNEWSWIKI
Berita lain tentang RAMADHAN 2021
Berita lain tentang TRIBUN WIKI
Baca berita terbaru lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kjdgfdgf.jpg)