Oknum Pemuka Agama Perdaya 7 Murid SD, Dibujuk Pakai Ayat Kitap Suci Agar Korban Luluh
Arist Merdeka Sirait menyebutkan awal mula kasus ini terjadi saat pihaknya menerima laporan dari orangtua korban pada 9 April 2021 lalu melaporkan ada
TRIBUNBATAM.id |MEDAN - Oknum pendeta ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian terkait kasus pencabulan yang dilakukannya.
Setidaknya ada sekitar 7 orang siswi di sekolah dasar yang menjadi korban nafsu birahi tersangka tersebut.
Ketua Komnas Perlindungan Anak menyebutkan ada 7 siswi sekolah dasar yang menjadi korban keganasan oknum pendeta dan kepsek BS di SD Swasta di Medan Selayang.
Arist Merdeka Sirait menyebutkan awal mula kasus ini terjadi saat pihaknya menerima laporan dari orangtua korban pada 9 April 2021 lalu melaporkan adanya percabulan ke kantornya.
"Jadi awalnya ada dua orang tua datang pada hari Jumat lalu mengabarkan peristiwa pencabulan ini. Dan menyampaikan dokumen-dokumen. Sebenarnya ada tujuh korban," ungkapnya kepada tribunmedan.com, Senin (12/4/2021).
"Tapi ada enam keluarga melakukan upaya perdamaian, terus saya tanya siapa pelakunya, ada seorang kepala sekolah dan berprofesi juga sebagai pendeta berinisial BS," beber Arist.
Dari ketujuh korban tersebut ada satu orangtua anak yang melaporkan kasus tersebut ke Polda Sumut.
Namun, ia menegaskan bahwa dari 6 keluarga anak yang sudah berdamai tersebut bisa dijadikan saksi karena tidak mungkin ada perdamaian kalau tidak ada masalah.
"Satu sudah malapor ke Renakta Poldasu, tapi ada dokumen yang disampaikan kepada saya. Ada 6 lagi melakukan perdamaian saya sampaikan itu juga bisa jadi saksi. Kenapa mungkin bisa ada perdamaian kalau tidak ada persoalan," tegasnya.
Arist menyebutkan bahwa dari keterangan orang tua korban anak berumur 13 tahun tersebut, kepala sekolah tersebut sudah merusak kemaluan anaknya.
Bujuk Korban Pakai Ayat
Ketua Komite Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menjelaskan selain menjabat kepala sekolah pelaku pencabulan ternyata berprofesi sebagai pendeta.
"Itu profesinya pendeta kita tahu dari keluarga korban bahwa dia selain dia kepala sekolah tetapi dia juga seorang pendeta di salah satu gereja di Medan," bebernya kepada tribunmedan.com, Senin (12/4/2021).
Yang lebih menyeramkan, Arist menyebutkan menyebutkan bahwa pelaku menggunakan modus ayat kitab suci untuk membujuk rayu para pelaku.
"Pelaku selalu menggunakan kitab suci untuk merayu dan bujuk rayunya lewat pendekatan-pendekatan ayat di kitab suci dan sebagainya," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/29-3-2021-ilustrasi-mandi-pemerkosaan-perselingkuhan-pencabulan.jpg)