HUMAN INTEREST
Cerita Devita Nirmalasari, Lima Tahun Periksa Makanan Takjil Setiap Ramadhan di Batam
Sudah 5 tahun, Devi berurusan dengan makanan takjil.Devi bertugas memeriksa apakah makanan itu mengandung zat kimia berbahaya.Dia analis di BPOM Kepri
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Dewi Haryati
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, Devita Nirmalasari akan dihadapkan dengan puluhan bahkan ratusan dagangan makanan di pasar 'takjil'.
Bukan tanpa alasan, Devi bertugas memeriksa makanan yang dijajakan di berbagai pasar yang menjual makanan berbuka puasa di Batam.
Ya, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, wanita 31 tahun ini selalu berurusan dengan beragam jenis makanan. Devi merupakan pegawai analisis kesehatan di Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kepri.
"Ya, Alhamdulillah puasa lancar mas," jawabnya singkat saat ditemui di Pasar Mega Legenda, Rabu (21/4/2021) sore.
Di dalam sebuah mobil laboratorium yang terparkir di pasar bazar Ramadhan Mega Legenda, Devi tampak sibuk meracik sejumlah zat untuk memeriksa makanan 'takjil' yang dikumpulkan pegawai BPOM dari pasar.
Baca juga: RAMADHAN 2021 - Cegah Penggunaan Zat Kimia Berbahaya, BPOM Kepri Sidak Lokasi Bazar
Baca juga: Polemik Vaksin Nusantara Warisan Eks Menkes Terawan, 100 Tokoh Dukung BPOM
"Kita periksa semua makanan, beragam jenis, supaya tahu mana makanan yang mengandung zat kimia dan pengawet lainnya yang berbahaya untuk dikonsumsi," ucap Devi.
Tak sendirian, Devi saat itu ditemani seorang rekannya Hanifa (24). Kedua wanita ini punya tugas masing-masing. Jika Devi mengecek hasil pemeriksaan, sementara Hanifa memeriksa makanan melalui alat rapid test.
Devi mengaku sebagai petugas analis pengawas makanan, BPOM Kepri bertanggung jawab untuk mengawasi kondisi makanan.
"Namanya analis, beragam makanan udah kita periksa, semuanya harus uji klinis. Mulai dari es cendol, gorengan, sate dan beragam lainnya yang ada di pasar takjil," kata Devi.
Bekerja sebagai analis, tak ada kendala yang dihadapi Devi. Hanya saja ia harus mampu menahan dahaga dan rasa lapar.
"Haus, lapar itu sudah biasa. Cuma kalau periksa makanan, ya agak sedikit tergiur. Apalagi saat akan memeriksa makanan yang lezat, ingin cepat beli bukaan," ujarnya sembari tersenyum.
Devi menyebut, dari hasil pemeriksaannya sepekan terakhir, ia belum menemukan makanan yang mengandung zat kimia.
"Alhamdulillah, semua makanan yang kita periksa masih jauh dari zat-zat kimia," katanya.
Diketahui, bertugas menjadi analis memang cita-cita yang diinginkan Devi sejak kecil. Berkecimpung di laboratorium dan melakukan uji klinis.
Pada kesempatan itu, Devi juga membagikan tips bagi warga yang akan membeli makanan berbuka puasa.
"Kalau produk olah dalam kemasan jangan lupa cek klik, cek kemasannya. Apakah masih dalam kondisi yang baik? Tidak rusak? Jangan lupa juga cek izin edarnya dan tanggal kedaluwarsa," kata Devi.
Sementara untuk makanan takjil, pembeli harus memperhatikan warna makanan. Jangan membeli warna-warna yang mencolok, merahnya mencolok atau putihnya mencolok. Karena biasanya itu yang menggunakan bahan berbahaya dalam pangan.
Cegah Penggunaan Zat Kimia Berbahaya
Diberitakan, untuk mencegah makanan takjil yang dijual di pasaran dicampur zat kimia, Badan Pengawas Obat dan Makanan Kepri melakukan sidak berbagai jenis makan di pasar takjil Mega Legenda, Batam, Rabu (21/4/2021) sore.
Kepala BPOM Kepri, Bagus Heri Purnomo, mengatakan, kegiatan ini dilalukan pihaknya dalam rangka pengawasan pangan pada bulan suci Ramadan dan Idulfitri.
"Hari ini sampel yang kita ambil langsung kita uji di mobil lab yang kita bawa. Ke depannya nanti ada beberapa titik yang akan kita lakukan pengawasan, baik di Batam maupun di wilayah kabupaten," ujarnya.
Sejauh ini, menurutnya tidak ada ditemukan zat berbahaya dalam sampel makanan yang telah diperiksa oleh timnya.
"Semua hasil uji menggunakan rapid test. Makanan yang mengandung bahan berbahaya, Alhamdulillah tidak ada," kata dia.
Selama melakukan pengawasa di Kota Batam sudah ada empat tempat yang didatangi oleh pihaknya sejak satu minggu sebelum masuknya bulan suci Ramadan.
"Ini yang keempat dan kita belum ada temuan penggunaan zat berbahaya," kata Bagus.
Jika ke depan pihaknya menemukan ada makanan yang dijual mengandung zat berbahaya, maka pihanya akan memberi peringatan kepada penjual tersebut dan akan dilakukan pembinaan.
"Nanti kita juga minta keterangan dari penjual untuk pangan tersebut dapat dari mana? Apakah buat sendiri atau beli dari suplier? Sehingga kita bisa menelusuri sampai ke pembuatnya," katanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada sebelum membeli dan mengonsumsi produk pangan, baik produk kemasan.
"Kalau produk olah dalam kemasan jangan lupa cek klik, cek kemasannya, apakah masih dalam kondisi yang baik? Tidak rusak? Jangan lupa juga cek izin edarnya dan tanggal kedaluwarsa," ungkapnya.
Sementara untuk makanan takjil, lanjut dia pembeli harus memperhatikan warna makanan, jangan membeli warna-warna yang mencolok, merahnya mencolok atau putihnya mencolok, biasa itu yang menggunakan bahan berbahaya dalam pangan.
(Tribunbatam.id/bereslumbantobing)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Batam
Berita tentang Human Interest Story
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/2204analis-bpom-kepri-devita-nirmalasari.jpg)