Jumat, 10 April 2026

TRIBUN WIKI

Sejarah Hari Pendidikan Nasional, Perjuangan Ki Hajar Dewantara hingga Bangun Sekolah

Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang selalu diperingati setiap 2 Mei menyimpan sejarah panjang.

ISTIMEWA
Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang selalu diperingati setiap 2 Mei menyimpan sejarah panjang. 

TRIBUNBATAM.id - Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang selalu diperingati setiap 2 Mei menyimpan sejarah panjang.

Pendidikan adalah salah satu hal paling penting dalam kehidupan manusia.

Dengan pendidikan, manusia dibentuk menjadi lebih berilmu dan bermartabat.

Melihat betapa pentingnya pendidikan bagi manusia, dibentuklah peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Lantas, bagaimana sejarahnya?

Sejarah Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas

Secara singkat, penetapan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional diambil dari hari kelahiran tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara.

Sosok tokoh asal Yogyakarta ini meninggalkan begitu banyak warisan bagi dunia pendidikan nasional, mengutip Kompas.com (2/5/2020).

Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa yang merupakan sebuah tempat yang memberikan kesempatan bagi penduduk pribumi biasa untuk dapat menikmati pendidikan yang sama dengan orang-orang dari kasta yang lebih tinggi.

Ki Hajar Dewantara juga terkenal dengan tulisannya, dimana seringkali terlibat masalah dengan Belanda akibat dari tulisan-tulisan yang tajam yang ditujukan untuk pihak Belanda.

Salah satu tulisan yang terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was, yang dalam bahasa Indonesia berarti Seandainya Saya Seorang Belanda.

Karena tulisan tersebut Ki Hajar Dewantara akhirnya dibuang ke Pulau Bangka oleh Belanda.

Namun pada akhirnya Ki Hadjar Dewantara mendapatkan bantuan dari Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo yang meminta agar dipindahkan ke Belanda.

Semboyannya yang paling terkenal berbunyi: "Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani", yang artinya "Di depan (guru) harus memberi contoh yang baik, di tengah-tengah (muridnya) harus menciptakan ide dan prakarsa, di belakang harus bisa memberi dorongan dan arahan).

Semboyan tersebut hingga saat ini masih digunakan dalam sistem pendidikan di Tanah Air, misalnya "Tut wuri handayani" yang dituliskan di dalam logo Kemendikbud.

Tidak hanya semboyan, Ki Hajar Dewantara di sepanjang hidupnya juga telah memperjuangkan hak belajar kaum Pribumi di masa penjajahan Belanda dengan mendirikan lembaga Taman Siswa di Jogja.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved