Kamis, 7 Mei 2026

India Pecah Rekor Covid-19, Dalam 24 Jam Positif Tembus 20 Juta Kasus, RS Menyerah: Butuh Oksigen

total infeksi di India mencapai 19,93 juta dan kematian bertambah 3.417 menjadi 218.959.

Tayang:
AFP
India Pecah Rekor Covid-19, Dalam 24 Jam Positif Tembus 20 Juta Kasus, RS Menyerah: Butuh Oksigen 

TRIBUNBATAM.id, BATAM- India memecahkan jumlah kasus Covid-19.

Dalam kurun waktu 24 jam, negara Bollywood itu menembus angka positif sebanyak 20 juta kasus.

Rumah sakit yang ada di sana pun menyerah.

Pihak rumah sakit menyatakan membutuhkan Oksigen untuk menolong para warganya yang terpapar Covid-19.

Jumlah kasus Covid-19 di India terus melonjak.

Baca juga: India Tembus 20 Juta Kasus Sehari, Ini Negara yang Katanya Paling Sukses Redam Covid-19

Baca juga: Jangan Ada Lagi yang Mati Anak Muda India seperti Virus Lawan Covid-19, tanpa Nama tanpa Label

Berdasarkan dana otoritas kesehatan India pada Senin (3/5/2021), dalam 12 jam terjadi penambahan lebih dari 300.000 kasus.

Dengan begitu, total infeksi akan menembus angka 20 juta dalam 24 jam ke depan.

Dilansir dari Reuters, sebanyak 368.147 kasus baru tercatat dalam 24 jam terakhir.

Akibat lockdown, seorang pria India nampak memungut makanan di tumpukan sampah.
Akibat lockdown, seorang pria India nampak memungut makanan di tumpukan sampah. (India.com)

Pakar medis mengatakan, jumlah sebenarnya bisa lebih tinggi dari data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan India, yakni 5 hingga 10 kali lipat.

Menurut perhitungan tim ilmuwan Pemerintah India, jumlah infeksi Covid-19 di India akan mencapai puncaknya antara 3 hingga 5 Mei nanti.

Waktu tersebut beberapa hari lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Lonjakan kasus Covid-19 di India diperburuk oleh kurangnya ruang di rumahsakit, menipisnya pasokan oksigen, serta padatnya fasilitas kamar mayat serta krematorium.

Setidaknya ada 11 negara bagian dan wilayah telah memberlakukan pembatasan untuk membendung infeksi.

Sayangnya, Perdana Menteri Narendra Modi masih enggan menerapkan lockdown nasional karena khawatir dengan dampak ekonominya.

Modi dianggap lalai karena tidak mengambil langkah cepat untuk mengekang penyebaran dan membiarkan jutaan orang yang sebagian besar tidak bermasker menghadiri festival keagamaan dan kampanye politik di lima negara bagian selama Maret dan April.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved