Jumat, 8 Mei 2026

BATAM TERKINI

Kepala Staf Presiden Moeldoko Ziarahi Makam Birgaldo Sinaga di TPU Sei Temiang Batam

Kepala Staf Presiden Moeldoko didampingi Gubernur Kepri saat ziarah makam Birgaldo Sinaga di TPU Sei Temiang Batam.

Tayang:
TribunBatam.id/Bereslumbantobing
MAKAM BIRGALDO SINAGA - Rombongan Kepala Staf Presiden Moeldoko berziarah ke makam Birgaldo Sinaga di TPU Sei Temiang, Batam, Provinsi Kepri, Jumat (28/5/2021). 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Kepala Staf Kantor Kepresidenan RI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengunjungi makam Birgaldo Sinaga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sei Temiang, Sekupang, Jumat (28/5/2021).

Dengan mengenakan pakaian hitam putih, Moeldoko tampak menaiki mobil Toyota Alphard warna hitam.

Tak sendirian, Moeldoko didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad beserta beberapa staf pegawai kepresidenan.

Moeldoko juga dikawal Polisi Militer AD hingga memasuki kawasan TPU.

Moeldoko menyempatkan diri untuk berziarah di sana.

Ia tampak berdoa meski singkat.

MAKAM BIRGALDO SINAGA - Rombongan Kepala Staf Presiden Moeldoko berziarah ke makam Birgaldo Sinaga di TPU Sei Temiang, Batam, Provinsi Kepri, Jumat (28/5/2021).
MAKAM BIRGALDO SINAGA - Rombongan Kepala Staf Presiden Moeldoko berziarah ke makam Birgaldo Sinaga di TPU Sei Temiang, Batam, Provinsi Kepri, Jumat (28/5/2021). (TribunBatam.id/Bereslumbantobing)

Moeldoko juga langsung menabur bunga dan menaruh satu buket bunga diatas liang makam Birgaldo Sinaga.

Kunjungan Moeldoko berziarah ke makam Birgaldo Sinaga merupakan bentuk penghormatan dirinya kepada almarhum Birgaldo semasa hidup.

Menurut Moldoko, Birgaldo merupakan sosok aktivis pemuda yang sangat luar biasa.

Sebab, banyak hal yang diperjuangkannya semasa hidup.

Usai melakuian ziarah, Moeldoko menyerahkan santunan kepada keluarga Birgaldo Sinaga.

SOSOK Birgaldo Sinaga

Birgaldo Sinaga meninggal dunia karena Covid-19, Sabtu (15/5/2021).

Dia mengembuskan napas terakhirnya di RS Awal Bros Batam pukul 06.00 WIB.

Sosok Birgaldo Sinaga selama ini dikenal sebagai pegiat media sosial, pembela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga salah satu Staf Khusus Gubernur Kepulauan Riau (Kepri).

Sebelumnya, Birgaldo Sinaga sempat mengabarkan jika dirinya terkena Covid-19.

Dirinya mengalami sejumlah gejala seperti demam tinggi, mual, nyeri linu, pusing dan batuk.

Makin hari kondisinya kian menurun, hingga mengalami batuk darah.

Setelah beberapa hari berjuang melawan Covid-19, Brigaldo pun wafat meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang beranjak remaja.

Melansir artikel TribunManado.co.id dengan judul Sosok Birgaldo Sinaga Penulis Buku Mengapa Aku Membela Ahok, Ikut Demo Tuntut Keadilan untuk Ahok, sahabatnya denny siregar menulis status di Facebook tentang kepergian sahabatnya ini.

Bro Birgaldo Sinaga maafkan temanmu ini. Selamat jalan, kawan..

Baca juga: Kejadian Populer Batam: Dari Berita Meninggalnya Birgaldo Sinaga hingga Operasi Yustisi

Baca juga: Kadinkes Batam Sebut Istri dan Anak Almarhum Birgaldo Sinaga Jalani Isolasi Mandiri

Selama ini, Birgaldo Sinaga dikenal pegiat media sosial yang aktif mengkampanyekan toleransi di Tanah Air.

Ia bersama sahabat-sahabatnya di antaranya denny siregar, Abu Janda, Eko Kunthadi hingga Niluh Djelantik.

Stafsus Gubernur Kepri dan pencetus 'Sani Ayah Kita'

Sejak Ansar Ahmad menjabat Gubernur Kepri, Brigaldo Sinaga ditunjuk untuk menjadi salah satu Staf Khusus (stafsus).

Semasa hidup, sosoknya dikenal cerdas dan kritis.

"Kita kehilangan orang cerdas. Dia aset Kepri yang tak tergantikan."

Ungkapan itu keluar dari hati dan batin Husnizar Hood, Sekretaris Partai Demokrat Provinsi Kepri tentang Brigaldo M Sinaga.

Husnizar lalu mengucapkan kata duka cita dan mendoakan sahabatnya yang meninggal Sabtu (15/5/2021) pukul 06.00 WIB itu.

Brigaldo selama ini ditunjuk H. Ansar Ahmad sebagai Staf Khusus Gubernur Kepri.

Namun, jauh sebelum itu, Husnizar sudah mengenal sosok penggiat media sosial ini.

Bagi Husnizar, pengalaman yang tak terlupakan antara dirinya dengan Brigaldo terlahir ketika keduanya berjuang mendukung almarhum HM. Sani.

SUASANA MAKAM BIRGALDO SINAGA - Suasana pilu ketika istri dan putri Birgaldo Sinaga meratap dan menabur bunga di atas pusara almarhum, Sabtu (15/5/2021) sore.
SUASANA MAKAM BIRGALDO SINAGA - Suasana pilu ketika istri dan putri Birgaldo Sinaga meratap dan menabur bunga di atas pusara almarhum, Sabtu (15/5/2021) sore. (TRIBUNBATAM.id/Pertanian Sitanggang)

Kala itu HM Sani dan H. Nurdin Basirun berkontestasi melawan HM Soerya Respationo dan H. Ansar Ahmad pada Pemilihan Gubernur Kepri.

"Saya mengenal sejak 5 tahun lalu. Waktu itu kami sama-sama membela Pak Sani," ungkap Husnizar.

Husnizar mengenang, satu ide brilian dari Brigaldo yang akhirnya memantik gelombang dukungan kepada HM. Sani adalah tagline 'Sani Ayah Kita'.

"Wah, itu ide luar biasa. Tidak semua orang berpikir tentang ini. Tetapi Brigaldo mencetuskannya," ujar Husnizar.

Ide itulah yang kemudian membuat HM. Sani-H. Nurdin Basirun mendapat dukungan luar biasa dari seluruh masyarakat Kepri.

"Karena itu, kita kehilangan orang cerdas. Dia aset Kepri yang tak tergantikan," tegas Husnizar lagi.

Tidak hanya itu, Husnizar juga mengakui, Brigaldo juga dikenal hampir di seluruh Indonesia ide-idenya.

Dia sering menulis di akun-akun media sosial miliknya dan idenya selalu bernuansa keberagaman.

"Dia selalu melihat Indonesia dalam keberagaman. Makanya dia dikenal banyak orang," ungkap Husnizar.

Di mata Husnizar, Brigaldo juga selalu hadir sebagai figur tukang kritik.

Namun, dia senantiasa mengkritik dengan katamata Indonesia dalam keberagaman.

Dia misalnya membela Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Eko Kuntadhi, Denny Siregar, Niluh Djelantik, Permadi Arya atau Abu Janda, dan Birgaldo Sinaga
Eko Kuntadhi, Denny Siregar, Niluh Djelantik, Permadi Arya atau Abu Janda, dan Birgaldo Sinaga (facebook/ Denny Siregar)

"Ide-idenya membela Ahok itu sangat logis. Saya selalu ikuti setiap tulisannya," ungkap Sekretaris Partai Demokrat Provinsi Kepri itu.

Penulis Buku Mengapa Aku Membela Ahok

Sosok Birgaldo Sinaga adalah relawan yang aktif membela Ahok.

Ia bahkan turun ke jalan mengorganisir relawan demonstrasi agar Ahok diperlakukan sama di hadapan hukum.

Dokumentasi Birgaldo Sinaga membela Ahok dirangkum menjadi sebuah buku berjudul "Mengapa Aku Membela Ahok".

Berikut tulisan denny siregar tentang sahabatnya itu:

BIRGALDO SINAGA

Namanya Birgaldo Sinaga....

Aku kenal dengannya di fesbuk. Meski sudah lama berteman, kami baru bertatap muka beberapa hari ini.

Ia mengaku suka dengan stensilan Enny Arrow. Tapi itu dulu, waktu remaja. Sekarang mungkin sudah dalam bentuk video. "Kurang menarik.." Katanya. "Stensil itu imajinatif. Kalau video langsung gitu, pam pam pam.. terlalu relijius. Ada oh god, oh yes, oh no.."

Ah, saya tidak ingin membicarakan itu. Saya hanya ingin memberikan apresiasi yang tinggi untuknya.

Sejak menulis tentang Ahok, bro Bir - saya menyebutnya begitu meski ia peminum kopi bukan beer - sudah sering juga menuangkan tulisannya tentang Ahok. Dalam hal ini pandangan kami sama, bahwa membela Ahok bukan membela sosok, tetapi membela hak seseorang yang ingin dicerabut karena ia berbeda dari calon lainnya. Ahok seorang Kristen - agama yang sama dengan bro bir dan ia dari ras China.

Lalu kenapa Ahok tidak boleh punya hak untuk ikut membantu negara ini ? Dalam Undang2 ia adalah warga negara yang mempunyai hak yang sama. Bukan salahnya ia terlahir seperti itu, sama dengan bukan salahku terlahir sebagai orang Batak yang ke Madura2an.

Politik-lah yang ingin membunuh karakter Ahok, karena ia terlalu ketat dalam anggaran. Hal yang tidak pernah terjadi dalam carut marutnya administrasi DKI selama puluhan tahun yang dipelihara.

Bro Bir pernah ditanya "dapat apa kamu membela Ahok ?", pertanyaan yang sama yang selalu kudapatkan ketika menulis tentang Ahok. "Dapat apa.." itu biasanya pertanyaan mereka yang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang, sedangkan kami melihatnya sebagai sebuah perjuangan.

Bro Bir ini orang pemberani. Ia bukan saja suka menulis di fesbuk sebagai pelampiasan gelisahnya. Ia tidak tanggung2 berjuang dengan turun ke jalan, meski harus berpanas2an.

Halaman fesbuknya banyak bercerita tentang perjalanannya. Ketika ia sedang pasang badan di depan pengadilan Ahok, berhadapan langsung dengan para gamis putih yang sulit ditemui sifat keramahannya. Ketika ia membagi2kan baju kotak dan bertemu dengan calon pemilih di gang2 Jakarta, dengan resiko diusir oleh para pembenci Ahok.

Saya belum tentu seberani dia dalam berjuang yang langsung turun ke jalan berhadapan dengan dunia nyata. Dan bro Bir sudah memulainya. Jadi jangan pernah cerita tentang perjuanganmu mendukung Ahok di depan dia, karena pasti malu sebab kita hanya bisa berkoar di media sedangkan dia adalah petarung di garis depan.

"Darimana kamu dapat dana untuk mobilisasi ?" Tanyaku nakal. Ia lama tidak menjawab. Kulihat gundah dimatanya. Dan baru kutahu ia banyak mengeluarkan semua dari kantungnya sendiri, baik untuk dirinya maupun pasukan dibelakangnya yang - kadang - harus ia belikan makan supaya tetap tegar di jalanan.

Ah, haru benar diriku dan merasa kecil dihadapannya. Aku merasakan terbatasnya tabunganku dan harus keluar untuk segala macam hal yang tidak jelas apa yang diperjuangkan. Aku seperti mendengar istrinya berteriak marah, "Kamu dapat apa membela mati2an Ahok di jalan ? Belum tentu ia menang pun kamu diperhatikan.." dan suara tangis anaknya yang jarang bertemu dengan ayahnya karena di medan perang seharian.

Aku yakin bro Bir berada pada titik terlemahnya sekarang. Ia harus memilih terus berjuang atau kembali pada kehidupan nyata menjadi seseorang yang hidup normal dengan situasi yang belum tentu membuatnya senang. Ia adalah manusia merdeka, yang tahu dimana fungsinya.

Sayangnya, militansinya tidak mendapat tempat yang sesuai. Ia bahkan kurang diperhatikan hanya karena mereka menyebutnya "relawan".

"Namanya juga relawan. Kalau rela ya jangan minta bayaran !!" Begitu hukuman sosial yang diterimanya dari banyak orang yang memakinya sambil duduk di mobil dingin ber-AC, gadgetan dan sedang siap2 goyang badan di rumah Lembang.

Ah, bro... Ampunilah mereka yang tidak mengerti apa yang sedang kau hadapi sekarang. Tidak banyak orang yang mengerti nilai.

Mereka tahunya hanya bagaimana jagoannya menang, tanpa pernah mencoba paham bahwa kemenangan itu butuh proses yang kadang menyakitkan.

Tanpa ada orang2 sepertimu, niscaya harapan mereka punah di pinggir jalan.

Semangat, bro.. Senang minum kopi bersamamu. Dan jangan mengeluh di ruang publik, karena kata Imam Ali as, "Jangan pernah ceritakan dirimu kepada siapapun.

Mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan itu dan mereka yang membencimu tidak percaya itu.."

Sini kuangkat secangkir kopi dan maaf tidak kupajang wajahmu disini, untuk mengurangi sifat narsismu.. haha.. Seruputt..

Status terakhir

Sebelum Birgaldo Sinaga meninggal ia mengunggah status terakhirnya di akun Facebook.

Ia menulis tentang keluarganya, istri dan anaknya dan mengunggah sebuah foto.

Unggahan terakhir Birgaldo Sinaga sebelum meninggal (Facebook)

I love you so much mami dan anakku Kathrine.

Maafkan kalo papi selalu buat salah ya. Meninggalkan kalian selalu.(*/TribunBatam.id/Bereslumbantobing)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Batam

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved