LINGGA TERKINI
Wisata di Lingga, Indahnya Pulau Benan, Akses Dekat Tanjungpinang dan Batam
Pulau Benan Kecamatan Katang Bidare jadi salah satu destinasi unggulan wisata di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri.
Penulis: Febriyuanda | Editor: Septyan Mulia Rohman
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Kabupaten Lingga Provinsi Kepri punya objek wisata yang menjadi destinasi unggulan.
Pulau Benan di Kecamatan Katang Bidare salah satunya.
Dengan pesona lautnya yang biru dan jernih, hingga pasir putihnya yang membentang luas, mampu memanjakan mata para pengunjung yang singgah ke surga tersembunyi tersebut.
Bahkan, pulau yang dijuluki Bali kecil ini, menjadi wisata yang sempat direkomendasikan oleh Bupati Lingga Muhammad Nizar kepada Pemprov Kepri melalui Dinas Pariwisata atau Dispar Kepri untuk merasakan sensasi pulau tersebut.
Dalam kegiatan 'Famtrip'nya, Dispar Kepri menggandeng influencer serta Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lingga dengan mengunjungi pulau tersebut, Kamis (17/6).
Dengan kenyamanan pantai wisatanya, bahkan sempat membuat rombongan pihaknya bermalam untuk menikmati indahnya wisata di Lingga.
Ditambah lagi, saat pagi hari, para pengunjung akan merasakan sensasi yang luar biasa ketika melihat keindahan berwarna jingga atau matahari terbit.
Selain itu, pulau dengan luas 190 hektare ini memiliki keindahan bakau yang hijau, makanan khas dengan hasil laut yang segar.
Tidak memiliki geografis yang indah, di dalam Pulau Benan ini terdapat masyarakat yang memiliki keramah tamahan, serta memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat dengan para pengunjung.
Tidak heran lagi, setiap pengunjung bukan hanya betah dengan keindahannya, namun juga merasa nyaman dengan masyarakat lokal yang bersuku Melayu Lingga itu.
Salah seorang pengunjung dari Kota Batam, Lena Adzahrah yang pertama kali berkunjung dan merasakan ke Pulau Benan, mengaku dibuat betah dengan keindahan dan masyarakatnya.
Baca juga: Promosi Pariwisata Lingga, Dispar Kepri Bahas Famtrip Bareng Bupati Muhammad Nizar
Baca juga: Duet Saudara Asal Lingga Rintis Usaha Camilan Kekinian, Pakai Resep Turun Temurun
"Kalau aku bilang sih pantai di Benan ini masih asri banget ya, karena pasirnya yang bersih dan terawat banget. Dan masyarakat disini juga ramah-ramah," kata Lena kepada TribunBatam.id.
Lena mengungkapkan, bahwa ia dijamu oleh masyarakat lokal dengan beberapa permainan rakyat dan membuat suasana pantai wisata menjadi lebih seru.
Ia juga melanjutkan, bahwa ia melakukan jalan santai sampai ke ujung pantai, dan merasakan sensasi pemandangan laut yang biasa.
"Aku bakal bakal balik lagi kesini, yang pastinya bawa pasangan kali ya," candanya.
"Untuk fasilitasnya sejauh ini bagus, cuma yang perlu ditambahkan mungkin wisata airnya aja sih," sambungnya.
Dinas Pariwisata Kabupaten Lingga sendiri sudah lama menyiapkan, membangun dan mengelola pulau yang sehamaparan berdekatan dengan dengan Pulau Katang, Nopong, dan Merodong.
Untuk aksesnya sendiri sangat terjangkau. Jika dari Ibukota Kepri, Kota Tanjungpinang hanya menggunakan kapal Fery tujuan ke pulau-pulau Lingga jangka waktu 60 hingga 90 menit.
Sedangkan dari Kota Batam hanya membutuhkan waktu 2 jam.
Di Pulau Benan, pengunjung tidak perlu khawatir dengan tempat tinggal. Cukup menyewa cottage kecil dengan kisaran harga Rp 250 ribu per malam untuk 1 kamar, dan Rp 350 ribu per malam untuk cottage besar dengan 2 kamar. Selain itu, pengunjung cukup mengeluarkan Rp 10 ribu untuk retribusi masuk desa wisata Benan.
Wisata Pulau Mepar
Wisata di Kabupaten Lingga tak hanya tentang khas Melayu saja. Aneka permainan rakyat mulai dari gasing menjadi daya tarik wisatawan yang datang berkunjung, termasuk permainan ambung gila.
Permainan ini disaksikan langsung saat rombongan Dispar Kepri yang membawa sejumlah influencer mengunjungi Pulau Mepar, Kecamatan Lingga.
Saat pemainan memegang ambung, Bomo (bapak) terlihat sambil membaca do’a dan mantra secara perlahan. Bacaannya tak didengar orang banyak.
Namun, perlahan ambung tersebut terasa berat dipegang oleh pemain dan mulai bergerak-gerak.
Selanjutnya ambung tersebut semakin kuat gerakannya (menggila) dan semakin lama para pemain tidak kuat memegangnya.
Dalam permainan ini, kadang-kadang ada juga ambungnya tidak mau bergerak atau menggila.
Begitu juga para pemainnya tidak merasakan apa-apa (berat) waktu memegang ambung.
Hal itu dirasakan dua pengunjung, Andri dan Rara Marcha yang mencoba memainkan ambung gila, namun tidak ada reaksi gerakan dari ambung tersebut.
"Gak ada reaksi apa-apa pas nyoba. Kata si bapak (bomo-red), dia gak mau. Padahal penasaran ingin nyoba," kata Rara.
"Iya sama, padadal berani megang, penasaran biar ambungnya gerak. Awalnya saya pegang kuat takut ambungnya lepas, tapi kata si bapak pegangnya gak usah digenggam kuat. Malah gak gerak, gak ada reaksi," kata Andri.
Namun, beberapa masyarakat berhasil dalam permainan rakyat tersebut.
Sontak, permainan tersebut membuat tontonan yang heboh bagi pengunjung ataupun para masyarakat lokal yang ikut menonton.
Kunjungan Dispar Kepri bersama rombongan lewat kegiatan Famtrip bertujuan untuk mempromosikan pariwisata di Lingga.
Bupati Lingga Muhammad Nizar saat berada di Gedung Daerah, Daik, juga sempat menawarkan wisata sejarah yang berada di Pulau Mepar.
Selain melihat aneka permainan rakyat, rombongan juga mencicipi makanan kuliner khas Lingga.
Saat menginjakkan kaki di Pulau Mepar, para rombongan dijamu dengan mencicipi beberapa makanan khas di Lingga, seperti lakse, bubur lambok, dan juga gubal sagu.
Adapun jamuan tersebut kelihatan unik, karena dijamu dengan budaya makan Saprahan atau makan beridang, yang menjadi ciri khas masyarakat Melayu dari turun temurun.
Salah seorang pengunjung, Zulfikar turut merasakan makan beridang atau makan dengan duduk bersama itu.
Zulfikar menceritakan, bahwa ia bisa merasakan nilai kekeluargaan yang kuat oleh masyarakat setempat, ketika duduk dan makan bersama mencicipi hidangan.
"Begitu saya sampai di Pulau Mepar disambut ramah dengan warga setempat. Saya juga mencicipi masakan dan makan beridang. Satu hidang kami makan berlima.
Kami disuguhkan lauk pauk makanan masyarakat Melayu, dengan duduk bersila ramai-ramai," kata Zulfikar kepada TribunBatam.id.
Akhir perjalanan di Pulau Mepar, para rombongan bergerak menuju salah satu benteng pertahanan peninggalan kerajaan Riau-Lingga, yakni Benteng Lekok.
Benteng Lekok sendiri terletak di perbukitan Pulau Mepar.
Selain dengan wisata sejarahnya, di Benteng tersebut para pengunjung bisa melihat langsung wilayah Ibukota Daik dari perbukitan.
Seorang pengunjung lain dari Jakarta, Stevent Ade mengatakan, bahwa dia cukup puas dengan sensasi wisata sejarah yang berada di Benteng Lekok tersebut.
Stevent melanjutkan, selain disuguhi dengan wisata sejarah, ia juga puas akan pemandangan di perbukitan tersebut, untuk melihat laut dan wilayah Ibukota Daik dari ketinggian.
"Ya, kalau perlu wisata ini dikasi pemandu. Jadi para pengunjung bisa tau, bagaimana sejarah atas Bendeng Lekok ini," ucapnya..(TribunBatam.id/Febriyuanda)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Lingga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/wisata-di-lingga-pulau-benan.jpg)