TRIBUN WIKI
Gejala Covid-19 Varian Delta, Badan Terasa Sehat padahal Paru-paru Penuh Virus
Covid-19 varian Delta saat ini masih menjadi ancaman baru di Indonesia. Varian ini menimbulkan sejumlah gejala khusus.
TRIBUNBATAM.id - Covid-19 varian Delta yang disinyalir lebih ganas menimbulkan sejumlah gejala khusus.
Bedanya, gejala ini baru dirasakan saat virus sudah menyerang paru-paru.
Meski tubuh terasa sehat, virus itu mengintai dan memenuhi paru-paru secara diam-diam.
Saat ini, varian Delta masih menjadi ancaman baru di Indonesia.
Lantas, apa saja gejalanya?
Daftar gejala varian Delta
Varian Delta Covid-19 menghasilkan gejala yang berbeda.
Varian Delta lebih mirip flu daripada jenis virus corona sebelumnya, termasuk varian Alpha yang pertama kali ditemukan di Inggris.
Dilansir Mirror, Studi Gejala Covid ZOE baru-baru ini mengonfirmasi, gejala varian Delta yang dominan saat ini yaitu:
- sakit kepala,
- sakit tenggorokan,
- pilek, dan
- demam.
Gejala-gejala ini berbeda dengan varian Covid-19 sebelumnya.
Selama pandemi, gejala utama Covid biasanya meliputi batuk kering terus-menerus, demam, dan kehilangan rasa dan penciuman.
Namun, varian Delta tampaknya 'bertindak berbeda' dan menghasilkan gejala yang berbeda pada orang yang terinfeksi.
Varian yang pertama kali diidentifikasi di India ini, juga cenderung menginfeksi orang yang lebih muda yang belum divaksin.
Tim Spector, profesor epidemiologi genetik di King's College London, dan seorang peneliti dengan studi ZOE mengatakan dalam briefing YouTube:
"Gejala nomor satu adalah sakit kepala, kemudian diikuti oleh sakit tenggorokan, pilek, dan demam."
Melansir artikel di Tribunnews.com dengan judul Daftar Gejala Covid-19 Varian Delta dan Perbedaannya dengan Mutasi Lain: Lebih Terasa Seperti Flu, ia menjelaskan bahwa pada orang yang lebih muda, varian Delta lebih terasa seperti pilek.
Hilangnya penciuman dan rasa tidak lagi sebagai gejala umum menurut penelitian, begitu pula dengan batuk.
Namun demam masih mungkin terjadi.
Ada kekhawatiran yang berkembang, karena perubahan gejala dan kemiripan dengan flu biasa, orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka terpapar Covid.
CDC di Amerika bahkan telah memperbarui daftar gejala mereka.
Studi ZOE adalah aplikasi yang mengumpulkan data langsung dan berkelanjutan dari empat juta pengguna di seluruh dunia, yang kemudian dianalisis oleh King's College London.
Analisis data telah menunjukkan bagaimana virus "berperilaku berbeda" sekarang.
Dr Abdul Ghafur, seorang dokter penyakit menular di India, mengatakan kepada Bloomberg bahwa dia melihat lebih banyak pasien Covid-19 dengan diare.
Varian Delta 60% lebih mudah menular daripada strain dominan sebelumnya, termasuk varian Kent (Alpha).
Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, varian Delta telah terdeteksi di lebih dari 80 negara.
Namun, dua dosis vaksin masih efektif melawan varian baru.
Kelabui imun tubuh
Virus Corona varian Delta jauh lebih berbahaya dan penyebarannya sangat cepat.
Dalam waktu yang singkat, varian Delta mampu membuat kondisi seseorang menjadi sangat buruk.
Saat ini, varian virus asal India ini sudah banyak memenuhi paru-paru.
Hingga saat ini, puluhan warga dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), telah tertular oleh virus asal India tersebut.
Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tonang Dwi Ardyanto, mengimbau masyarakat untuk menyadari bahayanya penyebaran varian Delta ini.
Menurutnya, virus covid dari India ini memiliki penularan yang sama dengan varian lainnya.
Hanya saja yang harus diwaspadai varian Delta ini dapat mengelabui sistem imun tubuh manusia.
“Sampai saat ini cara penularan belum berubah, tetap lewat mata, mulut, dan hidung. Hanya bedanya mutasi ini bisa mengelabui sistem imun kita. Diam-diam menempel pada sel tubuh kita, maka tidak bergejala di awal kalau yang sebelumnya kan begitu nampak langsung bereaksi, tapi yang ini tidak,” ujar Tonang dilansir dari laman UNS.
Melansir artikel di Kompas.com dengan judul "Pakar UNS: Awas, Ini Bahaya Virus Covid Varian Delta", Tonang menjelaskan, pasien yang terpapar virus ini baru diketahui setelah virus masuk ke paru-paru, baru lah si pasien bergejala.
Kondisi ini membuat pasien Covid-19 semakin cepat memburuk dan membuat tingkat keefektifan vaksin yang sudah diproduksi sebelum varian ini muncul menjadi berkurang.
“Nggak ketahuan dia (varian Delta) menyebar banyak sampai ke paru-paru. Baru di paru-paru menimbulkan gejala dan baru kerasa. Sehingga, orang mengatakan, ‘Kok sekarang cepat sekali memburuk ya?’ Ya, karena ketahuannya pas sudah masuk paru-paru,” terang Tonang.
Ditemukan di Kudus
Sejauh ini, varian Delta baru ditemukan pada pasien Covid-19 asal Kabupaten Kudus yang diisolasi di Asrama Haji, Donohudan.
Dari hasil pemeriksaan terhadap 34 sampel whole genome sequencing (WGS), sudah dikonfirmasi jika 28 pasien Covid-19 asal Kabupaten Kudus terjangkit varian Delta.
Tonang mengatakan beragamnya varian SARS-CoV-2 yang muncul di sejumlah negara, seperti di Inggris dan Brasil, terjadi karena tujuan dari virus bermutasi adalah untuk mempertahankan hidupnya.
Dalam ilmu medis, virus dapat hidup dengan cara menempel pada sel inang.
Apabila, virus masuk ke dalam tubuh manusia yang menjadi inangnya, virus akan terus berkembang biak dengan menyalurkan materi genetik, baik RNA maupun DNA, ke sel sehat dalam tubuh manusia.
Virus yang bertahan hidup dalam tubuh manusia, harus beradaptasi dengan selalu bermutasi untuk mengelabui sistem kekebalan tubuh inangnya.
Setelah virus bermutasi, sistem kekebalan tubuh akan lebih sulit mengenali virus, sehingga virus dapat tetap bertahan dan menyerang sel inangnya.
Dengan adanya mutasi juga dapat membuat virus semakin kuat dan lebih mudah berkembang biak.
Hal ini berpotensi menyebabkan munculnya varian SARS-CoV-2 yang baru, seperti varian Delta.
“Semakin ke sini maka berarti terjadi suatu varian yang semakin kompleks mutasinya. Tapi, ada sebagian mutasi yang tidak signifikan dalam arti tidak mengubah kemampuan tubuh kita untuk menghadang,” jelasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-demam2.jpg)