Terpaksa Makan Lumpur dan Dedaunan, Madagaskar Dilanda Kelaparan Hebat
Sebagian masyarakat Madagaskar terpaksa memakan belalang, kaktus, dedaunan hingga lumpur karena negara tersebut mengalami perubahan iklim yang ekstrem
TRIBUNBATAM.id - Tanpa perang, tanpa konflik, sebuah negara di kawasan afrika mengalami kriris pangan.
Perubahan iklim ekstrem membuat masyarakat Madagaskar tersiksa dan kesulitan mendapatkan makanan.
Sebagian masyarakat di negara itu terpaksa memakan belalang, kaktus, dedaunan hingga lumpur.
WFP mengatakan, Madagaskar di lepas pantai tenggara Afrika, adalah negara pertama di dunia yang mengalami kondisi seperti kelaparan sebagai akibat dari krisis iklim.
Situasi paling mengerikan terjadi di Madagaskar selatan.
Lebih dari sebulan yang lalu, PBB memperingatkan bahwa lebih dari satu juta orang di selatan menghadapi kerentanan pangan akut.
Sebagian besar penduduk Madagaskar selatan bergantung pada pertanian, peternakan dan perikanan.
Produksi pangan turun drastis sejak 2019 di sana.
Masyarakat sulit memberikan bantuan ke negara kepulauan itu, termasuk wartawan kesusahan mengakses daerah-daerah paling parah terkena dampak kekeringan karena pembatasan terkait virus corona.
Baca juga: Cerita Purom Wenda Kembali ke NKRI, Kelaparan di Hutan Saat Jadi Pemimpin KKB
Organisasi bantuan juga telah berjuang untuk menarik perhatian publik terhadap krisis yang dihadapi Madagaskar, saat dana bantuan kurang.
Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa bencana kelaparan yang melanda Madagaskar akibat dari perubahan iklim ekstrem, membuat kekeringan berkepanjangan selama bertahun-tahun.
Situasi yang memprihatinkan di Madagaskar mendorong Direktur eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley berkunjung dan menggambarkan situasi negara itu.
Dikutip dari kompas.com, Ia mengatakan melihat sesuatu yang layaknya seperti di film horor.
Direktur regional WFP untuk Afrika Selatan, Lola Castro yang menemani Beasley ke Madagaskar, menyebut krisis kelaparan di Madagaskar sangat dramatis.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara video dengan wartawan di markas besar PBB di New York.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kelaparan-di-afrika.jpg)