Kamis, 23 April 2026

BATAM TERKINI

Dalam 3 Hari, Satu Blok Makam Khusus Covid-19 Isi 60 Liang di Sei Temiang Batam Langsung Penuh

Lokasi pemakaman Covid-19 untuk umat Muslim di Sei Temiang, satu blok berisi sekitar 60 makam terisi penuh hanya dalam waktu 3 hari.

|
Penulis: Beres Lumbantobing |
TRIBUNBATAM.id/BERES LUMBANTOBING
Lokasi pemakaman Covid-19 untuk umat Muslim di Sei Temiang, satu blok berisi sekitar 60 makam terisi penuh hanya dalam waktu 3 hari. 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Lokasi tempat pemakaman umum (TPU) Sei Temiang, Sekupang kebanjiran jenazah Covid-19 dalam beberapa hari terakhir ini. 

Sehari petugas pemakaman bisa memakan hingga belasan jenazah pasien Covid-19

Lokasi pemakaman Covid-19 untuk umat Muslim yang berada di Sei Temiang, satu blok yang isinya sekitar 60 an makam terisi penuh hanya dalam waktu tiga hari.

Ini artinya sehari petugas pemakaman memakamkan lebih dari 20 jenazah. 

"Iya satu blok ini, baru tiga hari yang lalu buka dan sudah mau penuh hari ini. Pagi tadi yang sudah kami makamkan ada empat orang, empat lainnya sore nanti," ujar petugas penggali makam, ujar petugas gali kubur, Suherwansyah saat ditemui TRIBUNBATAM.id di pemakaman Covid-19 untuk umat Muslim, Kamis (8/7/2021) siang.

Tak hanya pagi dan siang, kata dia, bahkan malam pun biasanya tiba-tiba datang begitu saja, bisa tiga sampai empat ambulance sekali antre.

Baca juga: KESAKSIAN Tukang Gali Kubur di Batam, Sehari Siapkan 10 Liang Mayat Pasien Covid-19

Suherwansyah dan kawan-kawan penggali kubur lainnya mengakui, jika jenazah pasien Covid-19 meningkat dalam beberapa pekan terakhir ini.

Khusus untuk pemakaman Muslim, sehari rata-rata di atas sepuluh jenazah yang dimakamkan. 

"Paling sedikit 12 jenazah. Kalau banyak bisa sampai 20 an jenazah," ujarnya. 

Ini baru untuk pemakaman Muslim, belum lagi pemakaman umat Nasrani dan masyarakat Tionghoa di blok lain tentu jumlahnya bisa mencapai 30 hingga 40 orang dalam sehari. 

"Rata-rata sama semua. Kayak ginilah kondisinya. Kadang kewalahan kami  dengan makam-makam pasien Covid-19 ini," ujar Suherwansyah.

Pantauan TRIBUNBATAM.id petugas gali kuburan itu terus bekerja menggali liang kubur.

Kuburan yang digali bervairiasi. Ada yang panjang hingga 2 meter dengan lebar 1 meter serta kedalaman kubur rata rata 1 meter. 

Dalam satu hari, petugas gaki kubur dapat menggali 10 hingga 15 kubur setiap harinya.

Mereka bekerja tak kenal waktu, sampai tengah malam. 

Penggali Kubur Mulai Kelelahan

Sementara itu, Zailani, seorang penggali kubur di TPU Sei Temiang Batam mengaku mulai kelelahan dengan banyaknya jenazah pasien covid-19 yang akan dimakamkan.

Dalam sehari, para petugas makam menguburkan sedikitnya 8 orang jenazah.

"Udah gawat ini pak, sudah mengerikan. Kalau begini terus kita tak sanggup lagi pakai tenaga menggalinya. Kemarin saja ada 8 jenazah yang dikubur," ujar petugas makam, Zailani saat ditemui di blok C tempat pemakaman khusus covid-19 Sei Temiang, Kamis (8/8/2021) siang.

Dalam sepekan terakhir, jumlah mayat covid-19 yang dimakamkan oleh yayasan Khairul Umma selaku pengelola makam di TPU Sei Temiang terus meroket.

Zailani mengatakan, harus menambah jumlah petugas gali kuburan untuk dapat mengejar jumlah liang kubur yang harus ditempati mayat.

"Kejar-kejaran lah pak, petugas gali kubur kita ada sepuluh orang, lima untuk makam umum dan lima untuk makam khusus covid-19," ucapnya.

Baca juga: DAFTAR Aturan di Mal hingga Tempat Kerja Selama PPKM Mikro Batam hingga 20 Juli 2021

"Jujur aja pak, kita sudah nggak sanggup. Kerja dari pagi menggali sampai malam, kemarin sampai ada yang dikubur jam 21:00 WIB," ungkapnya.

Di pekuburan khusus covid-19 ada 5 orang petugas gali terus menggali kubur.

Beberapa makam terlihat masih basah, pagi ino ada 3 pasien covid-19 yang baru dikubur.

Ada sebanyak 3 blok makam yang sudah diisi oleh jenazah covid-19.

Di lokasi itu juga satu alat berat melakukan pekerjaan penambahan lahan kuburan.

Pengakuan Petugas di Kamar Jenazah

Nurdin, seorang petugas kamar mayat Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Sekupang mengakui jumlah kematian pasien covid-19 di Batam belakangan mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

“Ini puncak covid mas, parah ini. Mayat akibat covid makin tinggi, mau percaya atau tidak tapi ini udah sangat mengerikan,” ujar Nurdin saat ditemui Tribun di kamar mayat Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Sekupang, Selasa (7/7/2021) malam. 

Nurdin baru saja selesai melakukan wraping terhadap seorang mayat covid-19.

Mayat covid itu akan dimakamkan pada malam ini juga.

Baca juga: Pasien Covid-19 Meninggal Makin Banyak, Walikota Batam Undang Tokoh Agama

“Capek bangat mas, ini mayat ke-6 yang sudah selesai di-wraping. Masih ada satu jenazah lagi, masih di IGD. lagi diambil,” ucap Nurdin.

Nurdin terlihat lelah, lekuk raut wajahnya terlihat mulai keriput, matanya sayu.

Ia seakan tak kuat lagi, namun pekerjaan belum usai, Nurdin pun harus menahan lelah. 

Meski wajah sudah terbilang tua, paras wajahnya tak lagi seperti dulu, dahi pipinya terlihat keriput namun semangatnya tak pernah pudar.

Laiaknya petarung action sampai titik darah penghabisan itulah yang menggambarkan pekerjaan Nurdin. 

Nurdin mengaku sudah 5 hari tidak kembali ke rumah.

“Sudah 5 hari belum pulang mas, nggak sempat balik. Jumlah mayat meningkat terus, sehari bisa sampai 6 orang bahkan lebih,” ungkap Nurdin. 

Bekerja di kamar mayat, bagi Nurdin sudah menjadi hal biasa, memandikan mayat, mengkafaninya hingga menguburkan.

Namun berbeda dengan pasien covid-19.

Ia harus mengenakan APD lengkap.

Bekerja dengan APD dengan waktu lama mulai dari mewraping, memuat ke peti mayat akan membuat tubuh Nurdin penuh keringat.

“Panas mas, pakai APD berjam jam bekerja, berkeringat. Kadang APD itu pengen kita lepaskan saja. Tapi yo nggak bisa, bahayanya justru kita yang terpapar,” kata Nurdin. 

Nurdin bersama dua rekan kerjanya pun terpaksa harus menginap di kamar mayat itu. Mereka istirahat di ruang mayat bersama mayat.

Menurut Nurdin dalam dua pekan terakhir merupakan puncak dari kasus covid-19.

Hal itu terlihat dari banyaknya jumlah pasien covid-19 yang meninggal.

Tak hanya pasien covid-19, sejumlah pasien umum pun terpapar covid.

“Gak pernah sampai sebanyak ini mayat mas. Ini sudah sangat mengerikan. Mayat datang tak hanya dari rumah sakit lagi, udah dari mana-mana,” kata Nurdin.

Bertugas di kamar mayat, Nurdin tak sendirian. Ia ditemani 2 orang rekannya, mereka tim yang solid bak keluarga dekat.

Tiga sekawan petugas kamar jenazah ini tak punya banyak kosakata untuk menceritakan perjalanan pekerjaan yang mereka lalui setiap hari.

Yang mereka tahu, hanya bergelut dengan jenazah. Memandikan mayat, mengkafani, mewrapping hingga menguburkannya di pemakaman.

Dia, Nurdin (50) tahun, Ninuk alias Siti Aminah (55) serta Syukur Latif (40) mereka sudah menua. 

Tiga sekawan ini punya sederet cerita perjalanan yang hampir sama bak kisah sinetron 'persahabatan bagai kepompong'.

Kurun waktu 20 an tahun lamanya, ketiga sekawan ini telah melewati hari hari kerja bersama-sama di kamar mayat Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam yang berada di Tanjung Pinggir, Sekupang itu.

Jika Nurdin sudah 20 tahun bertugas, rekannya Ninuk juga sudah 21 tahun sementara Syukur baru 17 tahun rentang waktu kerja mereka tidak begitu jauh.

Puluhan tahun bertugas bersama, bukanlah waktu yang singkat bagi Nurdin, Ninuk dan Syukur.

Bahkan perjalanan kerja bersama dan kerjasama yang dilalui mereka melahirkan persahabatan yang erat bagi ketiga orang tua ini.

Nurdin seakan ingin mengungkapkan pengalaman mendalam yang dialaminya, namun ia terlihat lelah.

“Mas itu ada kopi, diminum loh,” ucap Nurdin menawarkan kopi yang di dalam teko.

Nurdin orangnya pendiam, senyumannya mahal.

Jika orang pertama kali mengenalinya, Nurdin akan terlihat ‘jutek’ namun ternyata ia pria yang baik dan ramah.

Nurdin mengaku bekerja sebagai petugas kamar jenazah merupakan pekerjaan yang butuh pengorbanan dan hati yang ikhlas.

Bukan tanpa alasan, selain bertugas mengurusi mayat hingga ke pemakaman ia juga merangkap tugas sebagai supir mobil jenazah, ambulance.

Setiap kali ada pasien darurat dan penemuan mayat, ia harus terlibat.

Bekerja tak kenal waktu, bahkan hari weekend Sabtu dan Minggu pun harus masuk jika ada jenazah.

"Bersyukur saja, semua ada hikmahnya. Tuhan maha tau, berbuatlah yang terbaik selagi kita masih diberi kesehatan," ujar Nurdin penuh rasa bersyukur.

Diusianya yang tak lagi muda, Nurdin harus menghabiskan waktu dihari tuanya untuk bekerja bersama tiga rekan sejawatnya.

"Udah dulu iya, saya mau membersihkan jenazah kembali," tutup Nurdin mengakhiri perbincangan bersama Tribun malam itu. (TRIBUNBATAM.id/Beres Lumbantobing)

*Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Corona Kepri

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved