Kamis, 4 Juni 2026

Bayi 29 Hari Meninggal Dunia karena Covid-19 usai Dijenguk Keluarga

Seorang bayi berusia 29 hari meninggal dunia karena Covid-19 usai dijenguk keluarga besar.

Tayang:
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
COVID-19 - Bayi 29 hari meninggal karena Covid-19. FOTO: Tenaga kesehatan membawa bayi yang berada dalam inkubator di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes). 

TRIBUNBATAM.id - Kebahagiaan Tirsa usai melahirkan bayinya sirna sudah.

Putrinya, Beverly Alezha Marlein yang baru berusia 29 hari meninggal dunia karena Covid-19.

Beverly terpapar dari klaster keluarga yang datang menjenguk.

Memang, menjenguk bayi yang baru lahir seolah telah menjadi tradisi wajib.

Sayangnya, dari kunjungan keluarga itu, sebanyak 17 orang terpapar Covid-19, termasuk Beverly

Lahir sehat sebelum dijenguk

Beverly lahir pada 8 Juni 2021.

Dua hari kemudian, keluarga besarnya datang menjenguk.

Saat lahir, Beverly lahir dalam keadaan sehat.

Tirsa juga telah melakukan tes Covid-19 sebelum melahirkan dan hasilnya negatif.

"Lahir dengan keadaan yang bagus dan sehat. Pokoknya enggak ada penyakit apa pun," kata Tirsa bercerita kepada Kompas.com, Minggu (11/7/2021).

"Akhirnya kami pulang ke rumah. Saking senangnya, ada keluarga yang mengunjungi rumah kami (di Cengkareng, Jakarta Barat)," lanjutnya.

Seminggu setelah kunjungan tersebut, Tirsa menuturkan, ada dua anggota keluarganya yang bergejala, salah satunya suaminya.

"Tes PCR, ternyata hasil keduanya positif. Tetapi, kami enggak tahu itu virusnya dari siapa. Dari mananya enggak tahu," ujar Tirsa.

Keluarga positif

Kemudian, keluarga besar di lingkungan Tirsa melakukan tes Covid-19 massal.

Di lingkungan tersebut, ada tiga rumah dari keluarga besar Tirsa yang lokasinya berdekatan.

Setelah tes massal, diketahui banyak anggota keluarga besar itu yang terpapar Covid-19, salah satunya Beverly. "Saya, Bev, kakaknya Bev, dan beberapa anggota keluarga. Hasil positif 22 Juni 2021," ucap Tirsa.

Setelah itu, Tirsa berkonsultasi ke dokter anak terkait terpaparnya Beverly.

Diputuskanlah isolasi mandiri di rumah.

"Isolasi mandiri karena (awalnya) tidak ada gejala. Beverly juga enggak ada gejala, tapi dengan pantauan dokter anak," ucap Tirsa.

Mulai muncul gejala

Kemudian, pada 27 Juni 2021, Beverly mulai bergejala dan Tirsa berinisiatif ke dokter anak.

Namun, pada saat itu tutup karena Minggu.

Beverly baru mendapat penanganan dokter pada 29 Juni 2021 dan dinyatakan terinfeksi paru-paru.

"Ternyata Beverly infeksi paru-parunya dan direkomendasikan ke rumah sakit yang ada NICU-nya. Pada saat itu juga," kata Tirsa.

Tirsa kemudian mencari rumah sakit (RS) yang ada di Jakarta.

Hampir 10 RS yang ia kunjungi, tetapi hasilnya nihil.

"Karena kondisi seperti ini ya," tutur Tirsa. Malam harinya, ia mendapat telepon dari temannya yang mengabarkan salah satu RS di Tangerang bersedia menampung Beverly.

Tirsa kemudian berkomunikasi dengan dokter di RS tersebut.

"Dokter enggak ngomong ada NICU, 'Ke sini aja dulu, ditangani dulu. NICU-nya kami usahakan menyusul'," kata Tirsa menirukan omongan dokter.

Kemudian Beverly langsung menjalani inkubasi, saturasinya saat itu di bawah 69 persen.

Namun, berkat pertolongan dokter, kondisi Beverly kembali membaik.

Beverly juga mendapatkan ruang NICU pada hari itu juga.

Tirsa menuturkan, selama mendapatkan perawatan, kondisi Beverly naik-turun.

Kritis

Melansir artikel di Kompas.com dengan judul "Bayi Berusia 29 Hari Meninggal Dunia karena Covid-19 Setelah Dikunjungi Keluarga", pada 30 Juni 2021, Beverly sempat mengalami kritis karena saturasi oksigen di angka 30 persen.

Namun, pada Rabu (7/7/2021) siang, nyawa Beverly tidak tertolong lagi.

"Dokter ngomong, kemungkinan jantungnya berhenti mendadak karena saking capeknya," ujar Tirsa.

Setelah meninggal, Beverly menjalani hasil tes Covid-19, yakni pada 1 dan 7 Juli 2021.

Hasil tes menunjukkan negatif.

"Beverly negatif, jadi bisa dimakamkan di TPU non-Covid-19," kata Tirsa.

Tirsa tidak menyalahkan pihak keluarga.

Ia hanya mengimbau kepada masyarakat agar lebih protektif pada saat kondisi seperti ini.

"Terlebih yang punya bayi agar menjaga bayinya. Enggak usah ada kerumunan atau dikunjungi," ucap Tirsa.

Dengan kasus Beverly, Tirsa berharap ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat.

(*)

Berita lain tentang  COVID-19
Baca berita terbaru lainnya di Google
Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved