Bukan China Apalagi Amerika, Negara Kecil Ini Justru Pemberi Utang Terbanyak pada Indonesia
Menurut statistik ULN Indonesia edisi Juni, setidaknya ada 21 negara yang memberikan utangan pada Indonesia.
TRIBUNBATAM.id - Di era pemerintahan Presiden Jokowi utang luar negeri Indonesia mengalami kenaikan cukup signifikan.
Sejak menjabat sebagai Presiden sejak tahun 2014 hingga saat ini lonjakan utang Indonesia naik dua kali lipat.
Catatan yang dirangkum Tribunbatam.id, jelang masa transisi kekuasaan, utang Indonesia menjelang akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tercatat sebesar Rp 2.440 Triliun.
Utang Rp 2.440 tercatat pada April 2014.
Namun utang Indonesia perlahan mengalami kenaikan sejak Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai Presiden.
Tercatat utang Indonesia naik Rp 2.608 Triliun pada penghujung tahun 2014 dengan rasio utang terhadap PDB 24,7 persen.
Lalu pada akhir tahun 2015 atau setahun pertamanya menjabat sebagai Presiden RI, utang pemerintah di era Presiden Jokowi sudah melonjak menjadi Rp 3.089 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 27 persen.
Pada akhir 2017, utang pemerintah menembus Rp 3.938 triliun dengan rasio terhadap PDB juga menanjak menjadi 29,2 persen.
Di tahun 2021, posisi utang pemerintah di akhir Mei 2021 mencapai Rp 6.418,5 triliun atau 40,49 persen dari PDB.
Utang meningkat 22 persen dibandingkan dengan Mei 2020 yang senilai Rp 5.258,57 triliun
Baca juga: Singapura Larang Warga Indonesia ke Negeri Singa Mulai Besok
Baca juga: Ekonomi Indonesia Turun Kelas, Bank Dunia Kategorikan Negara Berpendapatan Menengah ke Bawah
Ada beberapa sumber untuk mendapatkan ULN, antara lain dari utang antar negara, dari lembaga keuangan dunia seperti Asian Development Bank (ADB) dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Menurut statistik ULN Indonesia edisi Juni, yang dirilis Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan setidaknya ada 21 negara yang memberikan utangan pada Indonesia.
Dari daftar itu, ternyata bukanlah China atau Amerika yang menjadi pemberi utang terbanyak pada Indonesia.
Melainkan Singapura yang memberikan utang hingga 68,02 miliar dollar AS.
Baru setelah Singapura, ada Amerika yang memberikan utang sebesar 30,82 miliar dollar AS untuk Indonesia.
Dikutip Tribunbatam.id dari Kompas.com, berikut ini daftar 10 negara pemberi utang terbanyak pada Indonesia.
1. Singapura dengan 68,02 miliar dollar AS
2. Amerika Serikat dengan 30,82 miliar dollar AS
3. Jepang dengan 28,15 miliar dollar AS
4. China dengan 21,45 miliar dollar AS
5. Hong Kong dengan 13,24 miliar dollar AS
6. Negara Asia Lainnya dengan 10,39 miliar dollar AS
7. Korea Selatan dengan 6,48 miliar dollar AS
8. Negara sindikasi dengan 5,85 miliar dollar AS
9. Belanda dengan 5,74 miliar dollar AS
10. Jerman, dengan 5,57 miliar dollar AS
Mengenai persoalan itu, Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna mengatakan pembengkakan utang pemerintah akibat Pandemi Covid-19.
Pertumbuhan utang dan biaya ditanggung pemerintah pun sudah melampaui pertumbuhan PDB Nasional.
Menurutnya ini mengkhawatirkan, karena bisa membahayakan kemampuan pemerintah dalam membayar utang.
"Ini memunculkan kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan pemerintah dalam membayar utang dan bunga utang," kata Agung, dilansir Harian Kompas.
Janji kampanye
Saat masih menjadi calon Presiden dari PDI Perjuangan, Jokowi mempunyai visi misi untuk mengurangi utang negara.
Salah satu caranya, Jokowi ingin merubah Indonesia sebagai negara produsen dan mengurangi konsumsi terutama dari barang impor.
"Dilarikan ke produksi, Indonesia jadi negeri produsen," ujar Jokowi dikutip dari pemberitaan Tribunnews, 5 Juni 2014.
Untuk meningkatkan produksi, Jokowi berharap produk dalam negeri bisa banyak di ekspor. Karena Jokowi sudah berpengalaman sebagai pengusaha kayu selama 24 tahun.
"Harus dibarengi dengan peningkatan produksi, dan produksi arahkan ke pasar ekpsor, kebetulan saya eksportir bagaimana memasarkan," jelas Jokowi.
Mantan walikota Solo itu menjelaskan semakin tinggi angka ekspor cadangan devisa semakin besar. Otomatis neraca perdagangan negara menjadi lebih baik.
"Kuncinya hanya disitu, cadangan devisa meningkat jika bisa ditingkatkan. Mengurangi hal-hal dengan impor, neraca kita semakin baik. Jangan jadi negara konsumen," papar Jokowi.
Hal yang sama juga diutarakan Ketum Tim Ekonomi Pasangan Jokowi-JK saat itu, Arif Budimanta. Kata Arief, jika terpilih menjadi Presiden RI, Jokowi akan secara bertahap mengurangi utang pemerintah.
"Utang harus dikurangi perlahan, agar menciptakan keseimbangan primer di APBN," jelas Ketua Tim Ekonomi pasangan Jokowi-JK, Arif Budimanta dikutip dari Kontan, 8 Juni 2014.
Pasangan ini juga akan mengalihkan utang baru hanya untuk pembiayaan produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Sedangkan utang yang berbasis program bakal dihentikan.
Sebagai ganti sumber pendanaan APBN, mereka menjanjikan peningkatan penerimaan pajak. dengan optimalisasi penerimaan pajak, serta pencegahan pengemplangan pajak.
(*)
Sumber: Intisari.grid.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/presiden-joko-widodo-utang-luar-negeri-indonesia.jpg)