Minggu, 19 April 2026

Efek Samping Disuntikan Vaksin Sinovac, Demam hingga Diare

Timbulnya efek samping setelah disuntikan vaksin Covid-19 merupakan hal yang lumrah terjadi.

SHANGHAI DAILY
VAKSIN - Efek Samping Disuntikan Vaksin Sinovac, Demam hingga Diare FOTO: produk vaksin corona Sinovac 

TRIBUNBATAM.id, BATAM- Berikut ini efek samping setelah disuntikan vaksin Sinovac.

Mulai dari demam hingga diare.

Saat ini pemerintah tengah menggesa program vaksinasi kepada semua masyarakat.

Ada beberapa merek vaksin yang disediakan Pemerintah.

Vaksin-vaksin tersebut dibuat oleh beberapa negara yang berbeda.

Indonesia mayoritas menggunakan vaksin Sinovac.

Masing-masing vaksin pun memiliki efek sampingan kepada masing-masing orang yang disuntikan.

Timbulnya efek samping setelah disuntikan vaksin Covid-19 merupakan hal yang lumrah terjadi.

Tak terkecuali pada vaksin Sinovac.

Vaksin buatan China itu pun memiliki efek samping.

Namun, berdasarkan hasil uji klinik fase 3 yang dilakukan di Bandung efek samping vaksin Sinovac bersifat ringan hingga sedang.

Berikut efek samping vaksin Sinovac menurut BPOM:

Nyeri

Iritasi

Pembengkakan

Nyeri otot

Demam

Adapun efek samping vaksin Sinovac dengan derajat berat seperti sakit kepala, gangguan di kulit atau diare yang dilaporkan hanya sekitar 0,1 sampai dengan 1 persen.

Vaksin Sinovac mengandung virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif.

Penyuntikan vaksin Sinovac akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali virus yang sudah tidak aktif ini dan memproduksi antibodi untuk melawannya, sehingga tidak terjadi infeksi Covid-19.

Setiap orang mendapatkan dua dosis vaksin, masing-masing 0,5 ml dan tiap dosis diberikan dengan interval 28 hari.

Sementara efikasi vaksin Sinovac yang diuji di Indonesia sebesar 65,3 persen. Angka ini memiliki patokan di atas 50 persen yang sudah ditentukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Vaksin ini dapat diberikan kepada orang berusia 18–59 tahun yang sedang dalam kondisi sehat. Pemberian vaksin akan ditunda jika Anda sedang demam (suhu tubuh >37,5 derajat celcius) atau memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg.

Cara pemberian vaksin ini adalah dengan menyuntikannya ke dalam otot atau intramuskular.

Selain vaksin Sinovac, jenis lain yang telah mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM adalah vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneca dan Sinopharm.

Sama seperti Sinovac, masing-masing dari vaksin tersebut pun memiliki efek samping yang berbeda-beda.

Kritikan WHO

Badan kesehatan PBB atau World Health Organization (WHO) mengkritik keras kebijakan Indonesia yang berencana memberikan opsi vaksin covid-19 berbayar kepada individu.

Vaksin berbayar itu akan tersedia di beberapa klinik Kimia Farma.

Namun, pada Senin (12/7/2021) lalu, manajemen menunda pelaksanaannya karena perlu menyosialisasikan lebih lanjut.

Kepala Unit Program Imunisasi WHO, Dr Ann Lindstrand mengatakan, setiap warga negara harus memiliki akses yang setara untuk vaksin Covid-19.

Apalagi, varian delta yang tengah membludak di Indonesia membutuhkan cakupan vaksin yang perlu menjangkau semua warga yang paling rentan.

Hal ini membuat kebijakan memberikan vaksin berbayar dinilai tidak tepat.

"Penting bahwa setiap warga negara memiliki kemungkinan yang sama untuk mendapatkan akses, dan pembayaran apapun dapat menimbulkan masalah etika dan akses (vaksin tersebut)," kata Ann dalam konferensi pers WHO dikutip Kompas.com, Jumat (16/7/2021).

Ann menuturkan, Indonesia bisa mengakses lebih banyak vaksin gratis dari kerja sama internasional seperti Covax Facility alih-alih memungut pembayaran dari vaksin Covid-19.

Adapun Covax Facility merupakan kerja sama di bawah WHO, yang bakal memberikan jatah vaksin secara cuma-cuma kepada negara yang membutuhkan.

Jika masalah anggaran jadi pemicu adanya vaksin gotong royong individu, Indonesia bisa mengakses fasilitas ini.

"Mereka memiliki vaksin yang gratis, hingga 20 persen dari populasi yang didanai oleh para penyandang dana kerjasama COVAX, yang membuatnya sama sekali tidak mungkin untuk mengambil pembayaran dalam perjalanannya," beber Ann.

Terkait biaya pengiriman dan biaya lain-lain yang membebani, seperti biaya transportasi, logistik, hingga tempat penyimpanan vaksin, Indonesia bisa mengakses pendanaan dari berbagai lembaga internasional.

"Jadi dananya jangan terlalu banyak. Yang penting di sini adalah bahwa setiap orang memiliki hak dan harus memiliki hak akses ke vaksin ini terlepas dari masalah keuangan," tandas Ann.

Direktur Eksekutif Program Darurat WHO Mike Ryan menambahkan, Indonesia tengah dilanda peningkatan penularan varian Delta yang sangat intens selama beberapa minggu terakhir

Faktanya, tingkat kematian dan kasus positif melebihi tingkat kasus di India.

Kematian ini banyak dihadapi oleh masyarakat dengan kondisi rentan sehingga vaksin menjadi satu-satunya yang perlu diberikan.

"Jadi tidak diragukan lagi bahwa Indonesia menghadapi situasi yang sangat sulit. Sekali lagi jelas peningkatan kasus yang didorong oleh varian (Delta) sekarang mengakibatkan sejumlah besar kematian setiap hari," pungkas dia.

Sebelumnya, manajemen Kimia Farma memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan vaksinasi berbayar, yang semula akan mulai dilaksanakan pada Senin, (12/7/2021).

Keputusan tersebut diambil karena perseroan melihat tingginya respons dari berbagai pihak terkait pelaksanaan vaksinasi individu.

Begitupun karena banyaknya pertanyaan yang masuk membuat manajemen memutuskan untuk memperpanjang masa sosialisasi vaksinasi gotong royong individu maupun pengaturan pendaftaran calon peserta.

Intinya, manajemen Kimia Farma menyatakan, penyediaan layanan vaksin berbayar di sejumlah kliniknya tidak untuk mengejar keuntungan alias tujuan komersial.

Kimia Farma Tunda Vaksinasi Berbayar

PT Kimia Farma (Persero) Tbk memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan vaksinasi individu atau vaksinasi berbayar, yang semula akan mulai dilaksanakan pada hari ini, Senin (12/7/2021).

Terkait pembatalan tersebut, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno Putro mengatakan, perseroan bakal menunda pelaksanaan vaksinasi berbayar hingga waktu yang tidak ditentukan.

“Kami mohon maaf karena jadwal Vaksinasi Gotong Royong Individu yang semula dimulai hari Senin, 12 Juli 2021, akan kami tunda hingga pemberitahuan selanjutnya,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin.

Ganti menjelaskan, keputusan tersebut diambil karena perseroan melihat tingginya respons dari berbagai pihak terkait pelaksanaan vaksinasi individu.

“Serta banyaknya pertanyaan yang masuk membuat manajemen memutuskan untuk memperpanjang masa sosialisasi vaksinasi gotong royong individu serta pengaturan pendaftaran calon peserta,” tuturnya.

“Terima kasih atas pemahaman para pelanggan serta animo untuk bersama-sama mendorong tercapainya kekebalan komunal yang lebih cepat di Indonesia,” tambahnya.

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian BUMN mengeklaim, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 individu dari Kimia Farma dilakukan untuk mempercepat penerapan vaksinasi gotong royong.

Manajemen Kimia Farma menyatakan, penyediaan layanan vaksin berbayar di sejumlah kliniknya tidak untuk mengejar keuntungan alias tujuan komersial.

Layanan penyuntikan vaksin yang menyasar individu itu semata dilakukan untuk mendukung program percepatan vaksinasi nasional dari pemerintah.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Kimia Farma Diagnostik Agus Chandra mengatakan, harga vaksin per dosis dalam program Vaksinasi Gotong Royong (VGR) individu sudah ditetapkan oleh pemerintah.

"Harga vaksin untuk VGR individu/perorangan sama dengan harga vaksin untuk VGR badan usaha/badan hukum, yaitu sudah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, termasuk tarif layanan penyuntikannya," ujar Agus.(*)

Baca berita terbaru lainnya di Google

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Efek Samping Setelah Disuntikan Vaksin Sinovac, Demam hingga Diare

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved