Selasa, 5 Mei 2026

CORONA KEPRI

Wali Kota Batam: Tak Ada Lagi Pasien Covid-19 Isolasi Mandiri, Semua Akan Dikarantina

Terkait rencana pemindahan pasien covid-19 isolasi mandiri, Pemko Batam menyiapkan asrama haji dan sejumlah rusun termasuk milik BP Batam.

Tayang:
ISTIMEWA
ISOLASI MANDIRI - Salah seorang petugas dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam memberikan paket bantuan sembako kepada pasien isolasi mandiri di kediamannya. Pemko Batam berencana memindahkan ribuan pasien covid-19 isolasi mandiri ke fasilitas karantina. 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Ribuan pasien covid-19 di Batam isolasi mandiri bakal dibawa ke tempat karantina.

Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Pemko Batam, Yusfa Hendri mengatakan, setidaknya ada 2.500 pasien virus corona di Batam yang menjalani isolasi mandiri.

Saat ini, pihaknya memprioritaskan untuk mendata pasien covid-19 di Batam yang merupakan masyarakat biasa.

Sementara untuk pekerja, menurutnya akan diserahkan kepada perusahaan masing-masing.

Selain Asrama Haji Batam Center, penggunaan rusun Pemko Batam dan rusun BP Batam bakal digunakan sebagai lokasi karantina.

Ilustrasi isolasi mandiri
Ilustrasi isolasi mandiri (kompas)

Menurut Yusfa Hendri, dibutuhkan tiga sampai 4 rusun untuk tempat karantina pasien covid-19 di Batam yang semula menjalani isolasi mandiri.

"Sesuai arahan pimpinan demikian.

Perwakilan perusahaan juga hadir dalam rapat tadi.

Mereka akan mengakomodir pekerja yang saat ini menjalani isolasi mandiri," ungkapnya, Kamis (22/7/2021).

Wali Kota Batam Muhammad Rudi menuturkan, Penanganan Covid bagi pasien isolasi mandiri nantinya akan sama dengan pasien tanpa gejala virus corona.

Pasien akan dijemput dan menjalani karantina.

Baca juga: Satgas Covid-19 Natuna Tambah Kamar Isolasi bagi Pasien di Asrama Haji

Baca juga: Pemko Batam Tarik Nakes Hinterland ke Asrama Haji, Kini Mulai Hitung Biaya Tenaga Medis

Rudi pun telah meminta Sekretaris Daerah Kota dan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menyediakan lokasi khusus atau Rumah Susun (Rusun) agar para pasien isolasi mandiri dapat menjalani karantina selama seminggu.

"Sebagian di Asrama Haji, sebagian lagi di lokasi baru yang akan disediakan nanti," ucapnya.

Ia berharap dengan pemisahan pasien isolasi mandiri ini dapat mengendalikan penyebaran.

Ia melanjutkan persoalan lain adalah biaya makan pasien selama di karantina, Pemko Batam tengah mencari jalan keluar, agar akomodasi mereka dapat dipenuhi selama menjalani isolasi mandiri.

"Jadi kami akan asingkan dulu mereka ini dari keluarganya.

Tujuannya baik, agar tidak menjadi carrier bagi keluarganya yang ada di rumah.

Untuk akomodasi, ini sedang kami upayakan. Uang dari mana lagi yang harus kami ambil untuk bisa menutupi kebutuhan pasien isolasi mandiri yang akan dijemput dan menjalani karantina nanti.

Kami berharap dengan langkah yang diambil ini bisa membuat kasus turun dan memutus mata rantai penyebaran," sebutnya.

Kata Kepala Bapelkes RI di Batam

Kepala Balai Pelatihan Kesehatan RI di Batam, Asep Zaenal Mustofa mengungkap risiko pasien covid-19 di Batam yang menjalani isolasi mandiri.

Ia khawatir, jika Penanganan Covid dengan isolasi mandiri berpotensi menjadi bom waktu penyebaran virus corona di Batam, khususnya di permukiman.

"Isolasi mandiri yang dilaksanakan Pemko Batam belum jelas aturan mainnya.

Ini yang sangat dikhawatirkan," ungkap Asep, Rabu (5/5/2021).

Kepala Bapelkes RI Kota Batam, Asep Zaenal Mustofa.
Kepala Bapelkes RI Kota Batam, Asep Zaenal Mustofa. (TribunBatam.id/Istimewa)

Dia menjelaskan jika isolasi mandiri dilaksanakan di suatu tempat, seperti rusun atau hotel.

Maka Penanganan Covid bisa diawasi dan lebih mudah dikontrol.

Berbeda jika isolasi mandiri dilakukan di rumah.

Jika di tengah pemukiman padat penduduk, ini akan sangat berbahaya,"kata Asep.

Dia berharap pemerintah membuat aturan yang jelas agar isolasi mandiri yang dilaksanakan tidak berdampak dan tidak menjadi bom waktu di Kota Batam.

"Nah ini perlu dijelaskan juga, bagaimana pengawasanya, bagaimana dampaknya terhadap tetangga,"kata Asep.

Rumah pasien dimana, apakah di tengah permukiman padat penduduk, atau gimana," sebutnya.

RENCANA Rumah Sakit Darurat

Pemerintah Kota/ Pemko Batam berencana menyiapkan Asrama Haji Batam Center sebagai rumah sakit darurat.

Ini terkait Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit rujukan Penanganan Covid yang semakin sedikit.

Dalam rapat yang dipimpin Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad bersama pihak rumah sakit dan Dinkes Batam, perkembangan BOR isolasi dan ICU yang sudah mendekati angka 80 persen.

Dalam sekepan terakhir, total kasus positif covid-19 di Batam mencapai 1.876 kasus.

Dengan kebutuhan bed dalam satu hari rata-rata 321 tempat tidur.

"Persoalan BOR sudah sangat krusial.

Sekarang persoalan yang terjadi adalah pasien bergejala kesulitan mendapatkan rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Setiap mereka ke rumah sakit selalu tak ada. Padahal di rilis yang dikeluarkan masih tersedia," ujar Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, Jumat (16/7/2021).

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyapa pasien covid-19 yang menjalani karantina di Asrama Haji Batam
Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyapa pasien covid-19 yang menjalani karantina di Asrama Haji Batam (Tribunbatam.id/Istimewa Humas Pemko Batam)

Amsakar Achmad tak mengelak jika dalam pendirian rumah sakit darurat membutuhkan alat kesehatan, tenaga medis berikut obat-obatan yang memadai.

Terkait hal ini, menurutnya ada yang bisa langsung dipenuhi, ada juga yang melalui pengadaan.

Opsi lainnya menjadikan Asrama Haji Batam Center sebagai tempat transit atau IGD bagi pasien.

Sambil menunggu tersedia ruang perawatan di rumah sakit, tim yang bertugas di Asrama Haji akan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, dan mendistribusikan pasien nanti ke rumah sakit yang kosong.

"Ini tadi juga masih kami bahas bersama dengan tenaga kesehatan, dan OPD yang mengatur soal anggaran.

Tentu kami juga harus menyiapkan peralatan selama mereka ada di IGD Asrama Haji," ungkapnya.

Untuk mengetahui detail informasi ketersediaan ruang perawatan di rumah sakit, pihaknya akan membahas hal ini dengan pemilik fasilitas kesehatan (Faskes) atau rumah sakit yang ada di Kota Batam.

"Kami minta pihak rumah sakit menyajikan data terbaru terkait jumlah tempat tidur yang kosong saat ini.

Sehingga kami bisa melihat berapa sebenarnya tempat perawatan yang masih ada.

Jangan kosong terus tapi kami tak ada data.

Selain itu, kami juga harus mencari tahu alasan rumah sakit tidak bisa mengambil pasien sebanyak tempat yang tersedia," papar Amsakar.

Amsakar berharap dengan keputusan yang diambil nanti, bisa memberikan kemudahan bagi pasien bergejala untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad.
Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. (TRIBUNBATAM.id/ROMA ULY SIANTURI)

Karena lonjakan kasus cukup tinggi, dan belum bisa dihentikan sampai saat ini.

Mengenai pemusatan perawatan bagi pasien bergejala di RSUD Embung Fatimah dan RSBP Batam, Amsakar Achmad mengungkapkan hal tersebut perlu dibahas lebih lanjut.

Menurutnya, jika penunjukkan 2 rumah sakit besar tersebut diperuntukan bagi pasien Covid-19, tentu pemerintah juga harus menentukan rumah sakit lainnya untuk dijadikan rujukan pasien umum.

Sedangkan hampir seluruh rumah sakit saat ini melayani pasien Covid-19.

"Antisipasi kami saat ini adalah meningkatkan BOR dari 30 menjadi 40 persen.

Di samping mempersiapkan Asrama Haji sebagai tempat transit pasien bergejala sambil menunggu ruang perawatan di rumah sakit," katanya.

Ia menambahkan ke depan Pemko Batam berharap angka kasus turun, sehingga ruang perawatan di rumah sakit juga lowong, dan angka kesembuhan meningkat.(TribunBatam.id/Roma Uly Sianturi/Ian Sitanggang)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Corona Kepri

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved