Kamis, 16 April 2026

VIRUS CORONA

Penyebaran Varian Delta Sama Seperti Penyakit Cacar Air: Menyebar Cepat, Infeksi Lebih Parah

Presentasi CDC mengatakan varian Delta sama menularnya dengan cacar air, dengan setiap orang yang terinfeksi, rata-rata, menginfeksi delapan atau semb

TANGKAP LAYAR ALJAZEERA
Ilustrasi - Peta sebaran Covid-19 varian Delta di dunia. FOTO: PETA 

TRIBUNBATAM.id - Kasus aktif Covid-19 di Indonesia melonjak signifikan selama beberapa pekan terakhir ini.

Salah satu faktor yang berkontribusi dalam peningkatan kasus Covid-19 adalah virus corona varian Delta yang memiliki sifat mudah menular.

Tak hanya Indonesia, virus corona varian Delta yang melonjak di seluruh Amerika Serikat menyebabkan penyakit yang lebih parah dan menyebar semudah penyebaran cacar air.

Ini terungkap dalam dokumen internal dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

Dokumen berbentuk presentasi slide itu menguraikan data yang tidak dipublikasikan yang menunjukkan orang yang divaksinasi lengkap mungkin menyebarkan varian Delta pada tingkat yang sama dengan orang yang tidak divaksinasi.

Dikutip dari CNN, Direktur CDC Dr Rochelle Walensky mengkonfirmasi keaslian dokumen tersebut, yang pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.

Baca juga: Cincau Hijau dan Hitam Ternyata Efektif Menurunkan Kolesterol, Ini Nutrisi yang Ada pada Cincau

"Saya pikir masyarakat perlu memahami bahwa kami tidak berbohong. Ini serius," katanya kepada CNN.

"Ini salah satu virus paling menular yang kita ketahui. Campak, cacar air, ini -- semuanya ada di sana,” katanya.

CDC dijadwalkan akan mempublikasikan data tersebut Jumat (30/7/2021) ini.

Pengumuman ini akan mendukung keputusan Walensky yang mengubah pedoman bagi masyarakat yang sudah divaksinasi penuh.

Sebelumnya, pada Selasa (27/7), CDC merekomendasikan bahwa warga yang sudah divaksin sepenuh sekali pun harus memakai masker di dalam ruangan di tempat-tempat di mana penularan virus tinggi atau berkelanjutan.

Dan dia mengatakan semua orang di sekolah, siswa, staf, dan pengunjung, harus memakai masker setiap saat.

"Langkah-langkah yang kita perlukan untuk mengendalikan ini, itu ekstrem. Tindakan yang Anda butuhkan ekstrem," kata Walensky kepada CNN.

Dia mengatakan data dalam laporan itu tidak mengejutkannya. "Itu adalah sintesis data semua di satu tempat yang serius," katanya.

Cacar Air

Presentasi CDC mengatakan varian Delta sama menularnya dengan cacar air, dengan setiap orang yang terinfeksi, rata-rata, menginfeksi delapan atau sembilan lainnya.

Garis keturunan aslinya hampir sama menularnya seperti flu biasa, dengan setiap orang yang terinfeksi menularkan virus ke sekitar dua orang lainnya rata-rata.

Baca juga: Havis Clean Bikin Hunian Lebih Higienis dan Nyaman, Ada Spesial Diskon untuk Layanan Disinfektan

Infektivitas itu dikenal sebagai R0.

"Ketika Anda berpikir tentang penyakit yang memiliki R0 delapan atau sembilan, tidak banyak," kata Walensky kepada CNN.

Dan jika orang yang divaksinasi tetap terinfeksi, mereka memiliki virus dalam tubuh mereka sebanyak orang yang tidak divaksinasi. Itu berarti mereka cenderung menginfeksi orang lain seperti orang yang tidak divaksinasi yang terinfeksi.

"Intinya adalah, berbeda dengan varian lain, orang yang divaksinasi, bahkan jika mereka tidak sakit, terinfeksi dan menyebarkan virus pada tingkat yang sama dengan orang yang tidak divaksinasi yang terinfeksi," sebut Dr Walter Orenstein, yang mengepalai Pusat Vaksin Emory dan yang melihat dokumen itu, mengatakan kepada CNN.

Tetapi dokumen itu menyebutkan orang yang divaksinasi lebih aman.

"Vaksin mencegah lebih dari 90 persen penyakit parah, tetapi mungkin kurang efektif dalam mencegah infeksi atau penularan," tulisnya.

Oleh karena itu, katanya, lebih banyak penularan komunitas dan terobosan meskipun telah divaksinasi.

Dikatakan, vaksin mengurangi risiko penyakit parah atau kematian 10 kali lipat dan mengurangi risiko infeksi tiga kali lipat.

Presentasi tersebut juga mengutip tiga laporan yang mengindikasikan varian Delta, awalnya dikenal sebagai B.1.617.2, dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Dokumen itu menyarankan vaksinasi dan pemakaian masker universal.

Data Universitas Johns Hopkins menyebutkan, AS mencatatkan rata-rata lebih dari 61.300 kasus harian baru selama seminggu terakhir.

Angka ini meningkat sejak negara itu mencapai level terendah pada  2021 dari 11.299 kasus harian pada 22 Juni.

"Jumlah kasus yang kami miliki sekarang lebih tinggi daripada jumlah yang kami miliki pada hari tertentu musim panas lalu," kata Walensky kepada CNN.

John Hopkins juga menyebutkan, pada hari Rabu (28/7/2021), kasus telah meningkat di semua kecuali satu negara bagian dalam tujuh hari terakhir dibandingkan dengan minggu sebelumnya.

Presiden Joe Biden Kamis (29/7/2021) mengumumkan sejumlah langkah baru yang akan diambil pemerintahannya untuk mencoba membuat lebih banyak orang Amerika divaksinasi,

termasuk mengharuskan semua pegawai federal harus membuktikan divaksinasi terhadap Covid-19 atau menghadapi protokol yang ketat.

"Baca beritanya. Anda akan melihat cerita pasien yang tidak divaksinasi di rumah sakit, ketika mereka terbaring di tempat tidur sekarat karena Covid-19, mereka bertanya, 'Dok, bisakah saya mendapatkan vaksinnya?' Para dokter harus berkata, 'Maaf, sudah terlambat.,” kata Biden dalam sambutannya di Gedung Putih. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved