Breaking News:

BERITA CHINA

Tipu-tipu Media Pemerintah China? Pakai Ilmuwan Fiktif Lawan Teori Kebocoran Laboratorium Wuhan

Media pemerintah China kedapatan berbohong soal seseorang yang disebut ilmuan Swiss yang ternyata fiktif mengkritik pesan AS dalam penyelidikan Covid

AFP/HECTOR RETAMAL via Kompas.com
Petugas keamanan berpatroli di pasar ikan tradisional Huanan di kota Wuhan, China, Jumat (24/1/2020). Pasar ikan itu ditutup setelah virus corona yang mematikan dideteksi berasal dari pasar itu. 

TRIBUNBATAM.id - Media pemerintah China kedapatan berbohong soal seseorang yang disebut ilmuan Swiss.

Dengan cepat dua media pemerintah negara komunis itu menghapus artikel tersebut, dan yang lain merevisinya.

Wilson Edwards yang disebut media pemerintah China sebagai ilmuan Swiss ahli biologi ternyata fiktif.

Sosok itu digambarkan mengkritik posisi Amerika Serikat (AS) dalam penyelidikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di China. 

Media pemerintah China, termasuk China Daily dan Global Times, dengan cepat menggunakan pernyataan Edwards, yang sejalan dengan pendirian Beijing.

China sejak lama menolak upaya AS dan WHO melanjutkan penyelidikan di Wuhan, tempat pandemi pertama kali dimulai dan menjadi rumah kedua laboratorium penelitian biosekuriti tingkat tinggi.

Ahli biologi yang diduga diidentifikasi sebagai Wilson Edwards itu disebutkan menulis unggahan pada Juli di Facebook.

Baca juga: Bukan Amerika Ataupun China, 2 Negara Kecil Ini Menjelma Jadi Negara Paling Kaya di Dunia

Dalam kutipan yang digunakan media pemerintah China, Edwards mengatakan: bertentangan dengan yang dilaporan, bukan China tetapi AS yang telah mempolitisasi penyelidikan.

Dia melanjutkan dengan mengklaim bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden berusaha merebut kembali pengaruhnya di WHO, setelah pendahulunya Donald Trump menarik keanggotaan AS dari badan internasional pada April 2020 ketika pandemi dimulai.

"Saya mendapat kesan bahwa rencana baru WHO, yang mencakup audit laboratorium, sebagian besar bermotif politik," tulis Edwards di platform media sosial yang dikutip media pemerintah China, menurut laporan Al Jazeera pada Rabu (11/8/2021).

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved