Dari Buka Bengkel Sepeda, Ini Aktivitas Pencari Suaka di Hotel Kolekta Batam
Ratusan pencari suaka di Batam masih berada di Hotel Kolekta. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sudah tinggal belasan tahun. Simak kesehariannya
Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Dewi Haryati
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Pengungsi Afghanistan dan beberapa pencari suaka dari negara lain hingga kini masih menempati Hotel Kolekta Batam.
Mereka sudah lama tinggal di hotel tersebut. Beberapa di antaranya bahkan sudah belasan hingga puluhan tahun tinggal di hotel yang terletak di Kecamatan Lubuk Baja itu.
Pantauan TribunBatam.id, Selasa (24/8/2021), tampak ratusan penghuni hotel tersebut berada di dalam hingga luar hotel.
Kesehariannya, beberapa di antara mereka mengisi hari-harinya dengan buka service sepeda dari terkecil hingga paling besar.
Baca juga: DEMI Bertahan Hidup, Seorang Imigran Asal Afrika Buka Bengkel Sepeda di Batam, Simak Kisahnya
Baca juga: Kisah Suami Selalu Antar Jemput Istri Pakai Sepeda selama 28 Tahun
Awalnya mereka membeli sepeda seken yang dijual murah di beberapa tempat di Batam dan memperbaiki kembali.
Selanjutnya mengecat kembali hingga tampak seperti baru. Lantas dijual lagi dengan harga sedikit mahal.
Uang hasil penjualan sepeda itu mereka gunakan untuk bertahan hidup di Batam.
Setiap sore, aktivitas tersebut terus dilakukan dan berlangsung di halaman hotel hingga ke emperan hotel tersebut.
Khusus hari ini karena kondisi hujan, mereka terpaksa melakukan aktivitas perbaikan sepeda di dalam dan emperan Hotel Kolekta.
Ketika menjelang sore, beberapa anak-anak dan remaja mulai memadati emperan hotel dan juga lobi hotel dengan cat biru bercampur putih itu.
Sedangkan beberapa orang tua bersantai sembari mengawasi masing-masing anak mereka yang sedang bermain.
Sesekali terdengar suara teriakan dari dalam hotel tersebut. Teriakan tersebut tertuju kepada sang buah hati mereka, sebagai tanda peringatan kepada sang anak yang sedang berlarian di dalam lobi agar berhenti berlarian.
Terdengar juga mereka sedang melakukan obrolan ringan menggunakan bahasa Afghanistan dan beberapa bahasa lain dan sesekali menggunakan Bahasa Indonesia.
Pada umumnya, para pengungsi Afghanistan dan beberapa lagi dari negara lain belum fasih berbahasa Indonesia..
Ketika diajak bicara, mereka sedikit kebingungan. Selain itu sulit untuk berkomunikasi dan menjawab pertanyaan tersebut..
Kendati demikian, mereka tampak akur dan saling menghormati satu dengan yang lain..
(TRIBUNBATAM.id/ Ronnye Lodo Laleng)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Batam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/2408pengungsi-afghanistan-di-batam.jpg)