Breaking News:

HUMAN INTEREST

Siti Khoiriyah, Janda 74 Tahun Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19: Beli Kue Ibu, Nak

"Beli kue ibu, Nak. Beli, Nak." Tawaran tersebut terdengar berulang kali ketika Siti berpapasan dengan siapapun.

Penulis: Thom Limahekin | Editor: Thom Limahekin
TRIBUNBATAM.id/Thomm Limahekin
JANDA - Siti Khoiriyah, janda berusia 74 tahun melanjutkan hidupnya selama pandemi Covid-19 dengan berjualan kue. Dia tinggal di rumah nomor 3, Jalan Poros Kampung Tua Kampung Harapan Swadaya, RT 02/RW 05, Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong. 

Editor: Thomm Limahekin

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Sore itu hujan baru saja reda. Jalanan masih juga basah. Embusan angin mengandung embun membuat bulu kuduk bergidik. Kendaraan mulai ramai melintas.

Di pinggir Jalan Cikpuan, tak jauh dari Vihara Maitreya Sei Panas, Kota Batam, seorang wanita renta berdiri. Tangannya menenteng sebuah keranjang anyam berbahan plastik.

Di dalam keranjang berukuran besar itu, dia menyisipkan satu lagi keranjang lain. Ukurannya memang lebih kecil, namun bahannya sama.

Lengannya seolah tak sanggup menahan keranjang. Akibatnya bagian bawah barang bawaannya itu nyaris menyentuh tanah.

Urat-urat mencuat di balik kulit dari lengan tangannya yang sudah keriput. Warnanya biru kelabu.

Yah, menahan beban keranjang yang tidak begitu berat itu membuat urat tangannya keluar.

Baca juga: KISAH Suhardi, Sulap Lahan Fasum Mangkrak di Batam Jadi Kebun Sayuran

JANDA - Siti Khoiriyah, janda berusia 74 tahun melanjutkan hidupnya selama pandemi Covid-19 dengan berjualan kue. Dia tinggal di rumah nomor 3, Jalan Poros Kampung Tua Kampung Harapan Swadaya, RT 02/RW 05, Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong.
JANDA - Siti Khoiriyah, janda berusia 74 tahun melanjutkan hidupnya selama pandemi Covid-19 dengan berjualan kue. Dia tinggal di rumah nomor 3, Jalan Poros Kampung Tua Kampung Harapan Swadaya, RT 02/RW 05, Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong. (TRIBUNBATAM.id/Thomm Limahekin)

Matanya menatap satu demi satu kendaraan yang melintas. Dia coba mendapatkan tatapan dari setiap pengendara. Ketika mereka beradu pandang, dia lalu mengangguk pelan.

Dia memiringkan sedikit lehernya. Lalu matanya yang sayu coba meminta reaksi dari pengendara.

Ini bahasa isyaratnya. Dia hendak meminta tumpangan untuk membantu sedikit langkahnya yang kian lelah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved