Varian Terbaru Corona Muncul, Bernama Mu Lebih Bahaya Mana dengan Delta?
SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 telah bermutasi menjadi 9 jenis, sejak awal kemunculannya di Wuhan, China akhir 2019 silam. Yang terbaru adalah varian Mu
TRIBUNBATAM.id - SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 telah bermutasi menjadi 9 jenis, sejak awal kemunculannya di Wuhan, China akhir 2019 silam.
Dari seluruh varian itu, Delta paling kesohor karena dampak dan efek yang ditimbulkannya sangat luar biasa.
Tragedi tsunami corona di India adalah contoh kengerian serangan varian Delta, di mana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkannya dalam variants of concern, yang berpotensi memperburuk pandemi.
Setidaknya ada tiga varian yang tingkat kengeriannya sama seperti Delta dan masuk variants of concern, yaitu varian Alpha, pertama kali terdeteksi di Inggris pada September 2020.
Lalu ada varian Beta yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada Mei 2020, serta varian Gamma yang pertama kali terdeteksi di Brasil pada November 2020.
Baca juga: Cegah Corona dengan 7 Cara, Ahli Beberkan Bahaya Mutasi Covid-19 Sembilan Varian
Di tengah kengerian empat variants of concern yang dinilai WHO berpotensi memperburuk pandemi, terdapat lima varian lain hasil mutasi dari Covid-19.
Salah satunya adalah varian Mu, yang pertama kali terdeteksi di Kolombia pada bulan Januari 2021 lalu.
Varian Mu disejajarkan dengan empat varian lain yang dikategorikan WHO sebagai variant of interest (VOI).
Mu, yang secara ilmiah dikenal sebagai B.1.621, saat ini sedang dipantau oleh Organisasi Kesehatan Dunia.
Mengutip Channel News Asia, WHO menjelaskan varian itu memiliki mutasi yang menunjukkan risiko resistensi terhadap vaksin, dan menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahaminya.
Mengerikannya, varian Mu dilaporkan telah terdeteksi di negara-negara seperti Amerika Selatan (AS) dan Eropa.
"Varian Mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan," kata WHO, Selasa (31/8/2021) dalam buletin pandemi mingguannya.
Baca juga: Ramai Twet Covid-22, Lebih Ganas dari Varian Delta? Pakar Kesehatan Buka Suara
Seperti diketahui, semua virus termasuk SARS-CoV-2 dilaporkan bermutasi dari waktu ke waktu.
Adapun selain Mu, empat variants of interest yang sedang dipantau WHO antara lain:
1. Eta, pertama kali terdeteksi di beberapa negara pada Desember 2020
2. Lota, pertama kali terdeteksi di AS pada November 2020
3. Kappa, pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020
4. Lambda, pertama kali terdeteksi di Peru pada Desember 2020
5. Mu, pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021
Jumlah varian SARS-CoV-2 diperkirakan akan berubah seiring waktu, karena semakin banyak virus menyebar, maka akan semakin banyak peluang untuk bermutasi.
Dr Griffin, seorang ahli penyakit menular dari Mater Health Services dan University of Queensland mengatakan, bahwa cara terbaik untuk membatasi mutasi virus adalah dengan membatasi penyebarannya.
"Semakin banyak orang yang divaksinasi, semakin sedikit inang yang memungkinkan virus dapat terus hidup dan menjalani evolusi, serta menjadi lebih kuat," katanya.
WHO menyatakan sejak terdeteksi di Kolombia, varian Mu layak untuk masuk pemantauan khusus pihaknya.
Varian Mu dipandang sebagai masalah potensial yang lebih kecil daripada strain Delta atau Alpha dari virus SARS-CoV-2, yang telah ditetapkan sebagai varian yang menjadi perhatian.
Baca juga: Covid-19 Varian Delta Teror Dunia, Simak 10 Cara Pencegahan Terhindar dari Virus Corona
Ini adalah varian pertama yang masuk dalam kategori variants of interest yang ditambahkan ke daftar sejak Juni, ketika varian Lambda dimasukkan dalam daftar.
Melansir ABC News, menurut laporan epidemiologi terbaru WHO, varian Mu telah terdaftar sebagai varian "menarik", karena memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan, yang perlu dipelajari lebih lanjut.
Paul Griffin, seorang ahli penyakit menular dari Mater Health Services dan University of Queensland, mengatakan para ahli kesehatan terus-menerus mencari varian yang mungkin lebih mudah menginfeksi orang yang divaksinasi, melalui mutasi pada protein lonjakan virus.
"Jika protein lonjakan itu berubah secara signifikan, maka pasti ada potensi vaksin Covid-19 bekerja kurang baik," katanya.
"Kami pikir akan ada waktu di mana itu menjadi sangat mungkin, tetapi kami belum benar-benar melihatnya," imbuh Griffin, seperti dikutip dari Kompas.com.
WHO menekankan, bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami efek varian Mu, tetapi Dr Griffin mengatakan, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Mu cocok sebagai varian pelarian.
Menurut WHO, prevalensi varian Mu dalam infeksi Covid-19 global sebenarnya telah menurun sejak pertama kali terdeteksi, namun prevalensi di Kolombia (39 persen) dan Ekuador (13 persen) secara konsisten meningkat.
Varian ini menyumbang kurang dari 0,1 persen dari semua infeksi Covid-19 global, tetapi wabah B.1.621 juga telah dilaporkan di beberapa bagian AS dan Eropa.
Laporan epidemiologi WHO mengatakan, bahwa data awal menunjukkan varian Mu tampaknya lebih resisten terhadap antibodi.
Tapi Dr Griffin mengatakan, tes laboratorium itu tidak memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana kekebalan manusia bekerja di dunia nyata.
"Studi penetralisir itu sangat berguna, karena cukup mudah dilakukan dan cukup cepat, tetapi itu hanyalah bagian dari cerita, bukan keseluruhan cerita," katanya.
"Kita perlu melihatnya secara klinis.
Sehingga, di dunia nyata, kita akan melihat apakah ada perubahan sifat, yang berarti vaksin benar-benar kehilangan kemanjurannya."
Baca juga: Varian Mu: Mutasi Terbaru Covid-19, Apa Bedanya dengan Delta? Simak 7 Cara Pencegahan Virus Corona
Strategi Indonesia menghalau Mu
Wakil Presiden Maruf Amin mengatakan, pengawasan pintu masuk wilayah Indonesia perlu diperketat.
"Saya kira sementara diperketat saja pintu masuknya.
Supaya mereka yang masuk, kalau memang nanti membawa varian baru itu sudah bisa dicegah lebih awal, baik di lapangan udara maupun pintu laut semua dilakukan pengetatan," kata Maruf.
Saat meninjau pelaksanaan PTM di SMP Negeri 1 Citeureup dan vaksinasi Covid-19 di SMK Kesehatan Annisa, Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/9/2021), ia juga menekankan soal disiplin protokol kesehatan.
Kemudian, peningkatan testing, pelacakan atau tracing, dan perawatan terhadap pasien positif Covid-19.
"Terus dilakukan penelusuran kepada mereka yang terpapar sehingga tidak ada lagi yang tidak tertangani dengan baik," kata Maruf, dikutip dari Kompas.com.
Selain itu, ia menuturkan, vaksinasi juga tak kalah penting dalam mencegah penularan varian baru virus corona.
Menurutnya, vaksinasi merupakan kunci paling penting dalam menekan laju penyebaran Covid-19.
Baca juga: Capaian Vaksinasi Corona di Tanjungpinang Dosis 2 Usia 12-17 Tahun Baru 47,2 Persen
Baca juga: SMPN 27 Batam Kejar Belajar Tatap Muka, Capaian Vaksinasi Corona Dosis 2 Sudah 80 Persen
Baca juga: Update Corona Kepri, Jumlah Kasus Baru Covid-19 dan Pasien Sembuh Berimbang
.
.
.
(TRIBUNBATAM.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1408nakes-rsud-encik-mariyam-lingga.jpg)