BATAM TERKINI
Ruslan Berharap Tradisi Mandi Safar Masuk Agenda Wisata Batam
Wakil Ketua II DPRD Kota Batam, Ruslan Ali Wasyim mengatakan tradisi mandi Safar harus tetap dilestarikan dan dijadikan agenda wisata.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Wakil Ketua II DPRD Kota Batam, Ruslan Ali Wasyim mengatakan tradisi mandi Safar harus tetap dilestarikan dan dijadikan agenda wisata.
Mengingat tradisi mandi Safar yang digelar oleh LAM Kecamatan Nongsa dan masyarakat Kampung Terih, Sambau, Nongsa, Rabu (6/10/2021) berjalan lancar dan khidmat.
"Kegiatannya bagus tapi memang harus dikemas lagi. Jangan tanggung-tanggung karena tempat (Kampung Terih) sudah dijadikan objek wisata itu, dari hulu dan hilir," ujar Ruslan saat berada di ruangannya, Kamis (7/10/2021).
Diakuinya jika tempat tersebut ditata menjadi baik tentunya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Karena, Nongsa menjadi salah satu destinasi wisata yang selama ini sering dikunjungi wisatawan mancanegara dan nusantara.
"Ini tentunya meningkatkan PAD kita. Kemarin, ada beberapa hal yang disampaikan Kepala Dispar Batam (Ardi) terkait menyambut geliat ekonomi wisata. Di mana masyarajat di minta membuat homestay yang sederhana tapi menyatu dengan alam," ucapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan, kegiatan masyarakat Melayu Mandi Safar ini hakikatnya untuk memohon perlindungan.
Karena digelar dengan rangkaian doa bersama usai prosesi mandi tersebut.
Baca juga: CATAT! Kendaraan Mati Pajak di Batam tak Akan Dilayani SPBU
Baca juga: INI Dia Harga Tanah Termahal di Batam 2021, Per Meter Persegi Rp 12,2 Juta
Mandi Safar sudah berlangsung sejak lama, sejak Kesultanan Riau Lingga.
Sebelum Mandi Safar ada ritual Besapa yakni meminta doa selamat.
Mandi Safar terbagi tiga tata cara yakni berbedak langi yang terbuat dari beras yang digiling dan dijadikan tepung basah, dicampur kunyit dan limau purut sebagai pewangi.
Tatacara ini bertujuan untuk membersihkan jasmani.
Setelah itu dilanjutkan dengan berenang ke laut melewati Wapak yang bertuliskan huruf Arab. Filosofinya untuk menghilangkan hal negatif pada diri manusia.
Dan ketiga mandi tolak balak. Acara ditutup dengan berdoa bersama dan menikmati sajian juada khas Melayu.
"Kegiatan ini menarik wisatawan. Tradisi ini masih ada dan dilestarikan oleh masyarakat melayu. Kalau di bidang kebudayaan dinamakan ritus," kata Ardi. (TRIBUNBATAM.id/ Roma Uly Sianturi)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/07102021mandi-safar-di-batam.jpg)