Kamis, 14 Mei 2026

Sosok Wanita Minang Roehana Koeddoes yang Jadi Google Doodle Hari Ini

Google Doodle hari ini merayakan hari bersejarah bagi Roehana Koeddoes yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2019 lalu.

Tayang:
Editor: Eko Setiawan
Istimewa
Roehana Koeddoes Jadi Google Doodle Hari Ini 

TRIBUNBATAM.id - Google Doodle hari ini, Senin (8/11/2021) meilustrasikan wajah Roehana Koeddoes.

Roehana Koeddoes adalah sosok jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang asal Sumatera Barat.

Berdarah Minang Kental, Roehana Koeddoes menjadi pelopor jurnalis perempuan di Indonesia.

Dia juga diketahui merupakan kakak tiri dari Sultan Syahrir tokoh pergerakan Indonesia.

Google Doodle hari ini merayakan hari bersejarah bagi Roehana Koeddoes yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2019 lalu.

Roehana dikenal atas prestasi kepeloporannya pada saat pemerintah Indonesia dan juga telah mendapatkan juara seumur hidup kesetaraan dan kebebasan berekspresi perempuan.

Google Doodle 8 November, mengenang Roehana Koeddoes. (google doodle)

Profil Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes lahir dan memiliki nama asli Siti Roehana pada tanggal 20 Desember 1884.

Dilansir google.com, Roehana Koeddoes lahir di kota kecil Koto Gadang, Sumatera Barat, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Roehana Koeddoes ternyata adalah kakak tiri dari Sultan Syahrir tokoh pergerakan Indonesia.

Roehana Koeddoes tumbuh besar ketika era perempuan Indonesia umumnya masih belum mendapat pendidikan formal.

Roehana Koeddoes pada saat usia tujuh tahun mulai mengembangkan kecintaan membacanya dengan membaca halaman-halaman surat kabar lokal dan berbagi berita lokal dengan teman-temannya.

Karier Roehana Koeddoes

Pada tahun 1911, Roehana mulai resmi berkarir di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah pertama di Indonesia yang khusus diperuntukkan bagi perempuan. 

Sekolah Koeddoes yang ia dirikan ini memberdayakan perempuan melalui berbagai program, mulai dari pengajaran literasi bahasa Arab hingga moralitas.

Kemudian Roehana berpindah ke Bukittinggi, disana iamenjadi salah satu jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Roehana memainkan peran kunci dalam perintis surat kabar wanita bernama “ Soenting Melajoe.”

Roehana menjadi pelopor yang menginspirasi perkembangan beberapa surat kabar perempuan Indonesia.

Sepanjang karirnya, Roehana terus menulis artikel yang mendorong perempuan untuk membela kesetaraan dan melawan kolonialisme, dengan beberapa mencapai pengakuan nasional.

Usaha Roehana dalam memajukan kesetaraan perempuan membuahkan hasil.

Banyak yang menganggap perempuan dalam jurnalisme Indonesia lebih kritis dan berani dari sebelumnya.

Roehana dikenang hingga saat ini sebagai seorang pionir yang berpengaruh dan terus membentuk media Indonesia saat ini.

Awal Berdirinya Soenting Melajoe

Roehana mendirikan Soenting Melajoe karena pada saat itu marak kabar mengenai kesewenang-wenangan terhadap kaum perempuan.

Dikutip dari grid.id, saat itu Roehana mencari cara untuk menyuarakan suara kaum perempuan dan kemudian mencoba berkorespondensi dengan sejumlah pemimpin surat kabar, salah satunya adalah Soetan Maharadja, pemimpin redaksi surat kabar Utusan Melayu.

Kemudian Roehana menyampaikan keinginannya kepada Soetan untuk memperjuangkan nasib perempuan.

Kemudian Soetan bersimpati dan keduanya bertemu lalu bersepakat mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama di Sumatera Barat.

Kemudian surat kabar itu diberi nama Soenting Melajoe yang bermakna sebagai "Perempuan Melayu", pada tahun 1912, silam.

Roehana Koeddoes kemudian menjadI Pemimpin Redaksi pada surat kabar yang ia dirikan.

Roehana Koeddoes Menikah

Kemudian pada tahun 1908, Roehana menikah dengan seorang aktivis pergerakan yang juga notaris dan penulis, Abdoel Koeddoes.

Setelah menikah Roehana semakin aktif berjuang bersama suaminya pada bidang jurnalistik.

Selain itu Roehana juga bergerak di bidang pendidikan, khususnya pemberdayaan perempuan.

Roehana bersama suaminya mendirikan sekolah Kerajinan Amal Setia (KAS) pada 11 Februari 1911, lalu.

Sekolah tersebut ditujukan untuk anak-anak perempuan dan akan dididik dengan sejumlah pengajaran berupa kerajinan tangan, tulis baca huruf Arab dan Latin, pendidikan rohani dan keterampilan rumah tangga.

Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1972, Roehana Koeddoes meninggal dunia pada usia 87 tahun.

Karena perjuangan Roehana Koeddoes yang luar biasa maka ia dikenang hingga saat ini terutama pada bidang jurnalis.

(Tribunnews.com/Oktavia WW)(Grid.id/Mia Della Vita)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul PROFIL Roehana Koeddoes, Sosok Jurnalis Perempuan yang Diilustrasikan dalam Google Doodle Hari Ini

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved