Jokowi Ingin Bertemu PM Singapura di Bintan, Ini Tanggapan Legislator Kepri
Legislator Kepri Rudy Chua memberikan tanggapannya terkait harapan Presiden Jokowi ingin bertemu PM Singapura Lee Hsien Loong di Bintan.
Penulis: Endra Kaputra | Editor: Dewi Haryati
TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Presiden RI Joko Widodo ingin bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.
Harapan itu disampaikan Jokowi dalam sebuah wawancara dengan Channel News Asia.
Pertemuan itu pun direncanakan membahas Vaccinated Travel Lane (VTL).
Dimintai tanggapannya, Staf Menteri Pariwisata RI, Yuga menyampaikan pihaknya belum mendapatkan konfirmasi terkait hal itu.
"Ini belum bisa dikonfirmasi, bapak masih cuti," jawabnya dalam pesan whatsApp saat awak Tribunbatam mencoba mengonfirmasi, Senin (15/11/2021).
Rencana pertemuan itu juga didengar legislator Kepri, Rudy Chua.
"Ya kita dengar dari salah satu media di Singapura, kalau akan ada pertemuan antara Presiden kita dengan Perdana Menteri Singapura pada akhir tahun nanti. Membahas soal VTL itu," ujarnya.
Baca juga: Kabar Baik, Malaysia Siap Buka Diri untuk Wisatawan Mancanegara Mulai 1 Januari 2022
Ia mengatakan, tentu yang ditunggu bila pertemuan itu benar terjadi yakni terkait pola atau teknis VTL itu bisa dilakukan atas kesepakatan 2 negara.
"Pola kerjanya bagaimana, belum kita ketahui. Yang jelas dengan kondisi sekarang tentunya belum bisa dilakukan tanpa karantina," ucapnya.
Ia pun mengingatkan, permasalahan covid-19 bukan hanya soal pariwisata semata. Jangan sampai lupa selalu waspada terkait penyebaran yang masih mungkin terjadi.
"Kita tahu sampai saat ini pandemi belum berlalu. Kita sangat mendukung dilakukan dengan karantina kawasan saja. Kalau pakai kebijakan harus karantina hotel sampai 2 atau 3 hari, saya rasa sangat berat itu. Pasti banyak wisatawan yang berpikir jadi tidak mau berwisata. Sudah banyak habiskan waktu," ujarnya.
Ia menilai, untuk wisata di kawasan Lagoi sangat berpotensi dan sudah siap menerima wisatawan dengan kebijakan karantina kawasan.
"Jadi kalau untuk daerah Lagoi, kita sangat yakin kalau sekarang pun sudah sangat siap dibuat karantina kawasan. Lagoi itu kawasannya sangat tertutup dan prokesnya sangat ketat," ujarnya.
Bahas Pembukaan Perbatasan 2 Negara
Sebelumnya diberitakan, Presiden Joko Widodo ingin bertemu dan berdiskusi dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong untuk membahas pembukaan perbatasan kedua negara yang masih tertutup akibat pandemi Covid-19.
Dalam sebuah wawancara dengan Channel News Asia, Jokowi bahkan berharap pertemuan ke dua kepala negara bisa dilangsungkan di Bintan, Provinsi Kepri.
Jokowi ingin pertemuan terkait travel corridor agreement tersebut dibahas ke dua kepala negara akhir tahun ini.
“Kita akan bahas penataan koridor perjalanan yang kita harapkan bisa dibuka, tapi tidak di seluruh Indonesia. Mungkin antara Bintan dan Singapura, atau Bali dan Singapura, Jakarta dan Singapura, misalnya. Tapi sekali lagi, semua itu harus secara bertahap," kata Jokowi dalam wawancara khusus yang berlangsung di sela-sela pembukaan Sirkuit Internasional Mandalika, Jumat (12/11/2021) lalu.
Indonesia telah membuka kembali pintu masuk bagi 19 negara sejak sebulan lalu, yang diharapkan bisa mengangkat sektor pariwisata.
Namun, dalam daftar tersebut belum termasuk Singapura karena negara tersebut menghadapi gelompang kedua Covid-19.
Dalam tiga hari terakhir, kasus di Singapura sudah semakin turun hingga di bawah 2.000 kasus per hari.
Pada Jumat lalu, kasus harian mencapai 3.009 kasus.
Baca juga: KIRIM Kamus Berisi Sabu, Anjing K-9 Bea Cukai Endus 249 Gram Sabu dalam Paket ke Lombok
Baca juga: SEORANG Warga Batuaji Batam Meninggal Dunia Kena Covid-19, Tak Miliki Komorbid
Sehari kemudian turun menjadi 2.304 kasus dan laporan terbaru, Minggu (14/11/2021) malam, turun lagi menjadi 1.723 kasus dalam 24 jam terakhir.
Jokowi terakhir kali bertemu dengan PM Long pada 8 Oktober 2019 dalam pertemuan tahunan untuk membina hubungan bilateral ke dua negara.
Namun, pertemuan tahun berikutnya belum terwujud lagi akibat pandemi.
Pada 25 Oktober lalu, status Covid-19 Indonesia turun menjadi level satu oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Namun Jokowi mengatakan, pihaknya masih berhati-hati untuk menghadapi kemungkinan terjadinya gelombang ketiga pada liburan akhir tahun ini.
Jokowi menyebutkan, tingkat vaksinasi Indonesia saat ini belum cukup untuk mencegah lonjakan kasus baru.
"Vaksinasi di Indonesia, dosis pertama masih 61 persen. Itu masih belum cukup. Kita sudah membagikan 211 juta dosis, tetapi itu belum cukup. Karena itu, protokol kesehatan yang ketat akan tetap kita berlakukan,” katanya dalam wawancara yang diterbitkan Sabtu lalu.
Jokowi juga tidak terburu-buru mengubah situasi pandemi ini ke endemi atau hidup berdampingan dengan virus.
Ia telah memerintahkan otoritas kesehatan untuk menyusun strategi untuk itu, tetapi belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Semua akan dilakukan secara bertahap. Kami Indonesia tidak ingin terburu-buru menuju endemic state. Kami ingin merencanakan dengan matang. Ada transisi dari pandemi ke endemik. Kami akan pindah ke situasi endemik begitu kita benar-benar siap,” kata Jokowi.
Pintu dengan Malaysia
Pada Rabu lalu, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk memulai pengaturan koridor perjalanan antarakedua negara melalui mekanisme Vaccinated Travel Lane (VTL).
Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan antara Jokowi dengan PM Malaysia di Istana Bogor.
Malaysia yang juga mengalami penurunan kasus secara signifikan hingga pekan pertama November 2021, kembali mengalami kenaikan kasus pada pekan terakhir, dari rata-rata 4.000-an kasus per hari menjadi 6.500-an kasus.
Namun dua hari terakhir, Menteri Kesehatan Malaysia Dr Noor Hisham menyebutkan kembalinya trend penurunan pada dua hari terakhir.
Pada Minggu (14/12) siang, kasus harian terbaru 5.162 kasus. Jumlah ini turun 647 kasus dibanding Sabtu, 5.809.
“Saat ini ada 524 pasien yang dirawat di ICU, 486 di antaranya positif, sedangkan 38 lainnya suspek,” katanya, seperti dilansir Berita Harian Online.
Dalam jumpa pers bersama, PM Ismail Sabri mengatakan, koridor perjalanan kedua negara akan diutamakan bagi mereka yang divaksinasi lengkap.
VTL ini untuk tahap awal akan diujicoba untuk kategori kunjungan resmi, perdagangan, pengobatan serta kemanusiaan. Kunjungan VTL tanpa karantina ini diharapkan mulai dilaksanakan awal tahun 2022. (tribunbatam.id/endra kaputra/yan)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google