APA Itu Obat Covid Molnupiravir? Diklaim Paling Ampuh Atasi Virus dan Dibeli Indonesia
Indonesia memesan obat Covid-19 yang sedang populer dan diklaim ampuh mengatasi virus termasuk corona yakni molnupiravir. Apa kehebatannya?
JAKARTA, TRIBUNBATAM.id - Salah satu langkah antisipasi lonjakan kasus Covid-19 di akhir tahun dan awal tahun 2022, pemerintah memesan obat Covid-19 yang saat ini sedang populer di banyak negara.
Namanya molnupiravir. Sehebat apa obat ini melawan virus Corona?
Obat buatan Merck, Sharp & Dohme (MSD) disebut sebagai obat antivirus yang diminum.
Banyak negara sudah memesan molnupiravir, termasuk Singapura, Austarlia dan Malaysia.
Molnupiravir ini terbukti dapat mengurangi risiko rawat inap dan kematian akibat Covid-19.
Terutama sekali agar orang dengan Covid-19 ringan hingga sedang tidak semakin parah. Hasil uji klinis, pil molnupiravir paling efektif diminum saat tahap awal infeksi.
Inggris adalah negara pertama yang mengeluarkan izin obat ini. Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA) juga telah menyetujui penggunaan molnupiravir sejak awal November lalu.
MHRA menyarankan agar obat Covid-19 ini digunakan dalam waktu lima hari sejak timbul gejala Covid-19.
Pil ini sudah diizinkan digunakan pada orang yang setidaknya memiliki satu faktor risiko untuk mengembangkan penyakit parah dari Covid-19.
Baca juga: SINGAPURA Buka Pintu Perbatasan, Apakah Berlaku Untuk Warga Kepri Termasuk Batam?
Baca juga: DAFTAR 5 Tempat Wisata di Sekupang Batam Masuk Radar Pengawasan Polsek
Yakni orang-orang rentan Covid-19 dengan kondisi obesitas, usia lanjut, diabetes dan penyakit jantung.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia juga akan membeli 600 ribu hingga satu juta pil molnupiravir.
Obat ini sedang menunggu izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Amerika Serikat.
"Molnupiravir diharapkan akhir tahun bisa tiba di Indonesia, dan kita siap menggunakannya untuk tahun depan," kata Budi dalam konferensi pers secara virtual soal evaluasi PPKM, Senin (15/11/2021).
Budi mengatakan, saat melakukan kunjungan ke Amerika Serikat beberapa waktu, ia sudah meneken kerja sama dengan pihak Merck.
Apa itu obat molnupiravir?
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, mengatakan, molnupiravir adalah obat oral antivirus atau obat antivirus yang diminum.
"Molnupiravir obat antivirus yang dulunya dikembangkan oleh Emory University. Itu mereka sebetulnya mau mencari obat untuk ensefalitis virus (kondisi peradangan otak yang disebabkan virus-red)," jelas Zullies kepada Kompas.com.
Saat obat ini dikembangkan, pandemi Covid-19 kemudian menyelimuti seluruh dunia sehingga obat ini diramu lagi untuk diujikan ke virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.
Selain Emory University, perusahaan farmasi Merck, Sharp & Dohme (MSD) dan Ridgeback Biotherapeutics juga terlibat dalam pengembangan obat molnupiravir.
Mulai dari awal, hingga uji klinis 1, 2, dan 3.
Para ahli menyebut molnuporavir sebagai terobosan potensial untuk perawatan Covid-19, tapi ini bukan obat ajaib untuk mengakhiri pandemi.
"Ada banyak hal menarik dari molnupiravir. Namun sama seperti Tamiflu untuk influenze, obat ini mampu menekan risiko penyakit memburuk tapi tidak mencegah sepenuhnya," kata Peter Hotez dari Baylor College dan Texas Children's Hospital Center.
Obat ini berpotensi mengurangi risiko orang masuk rumah sakit atau kematian karena Covid-19.
Hingga saat ini, obat molnupiravir belum dipasarkan dan masih dalam tahap menyelesaikan uji klinis. Jika sudah mengantongi izin, ini akan menjadi obat antivirus oral pertama untuk Covid-19.
Melansir Science Focus, molnupiravir bekerja dengan mengganggu reproduksi virus.
Begitu virus masuk ke dalam sel-sel tubuh, ia mereplikasi genomnya, yang tidak terbuat dari DNA tetapi RNA (asam ribonukleat).
Genom yang direplikasi ini kemudian dibentuk menjadi partikel virus lengkap yang keluar dari sel dan terus menyebar ke seluruh tubuh.
Molekul molnupiravir ini kemudian diserap oleh sel yang terinfeksi virus, kemudian membuat cacat blok “bangunan” atau cangkang RNA virus.
Jadi, ketika virus mencoba untuk bereplikasi, partikel virus yang dihasilkan memiliki materi genetik yang rusak dan tidak dapat lagi bereproduksi.
Akibatnya, mengurangi risiko penyakit serius.
Karena molnupiravir menargetkan RNA yang digunakan SARS-CoV-2 sebagai bahan penyusunnya, molnupiravir harus sama efektifnya terhadap semua varian virus corona.
Hanya saja, molnupiravir punya keterbatasan.
Prof Penny Ward, Profesor di King's College London mengungkap, obat ini tidak dapat diberikan kepada wanita hamil, karena berisiko mengganggu perkembangan janin.
Menkes Budi mengatakan, harga obat itu di bawah Rp 1 juta.
”Antara 40 sampai 50 US dolar. Jadi nggak terlalu mahal, di bawah satu juta," kata Budi.
Cara pakainya, setiap pasien akan diberikan molnuvirapir delapan tablet per hari, selama lima hari.
Walau obat tersebut dipastikan segera tersedia di Indonesia, Budi berharap tak ada lonjakan kasus corona di akhir tahun hingga awal 2022 nanti.
"Mudah-mudahan tidak ada gejolak. Kalau, toh, ada gelombang baru kita siap dengan obat©obatan," katanya. (Kcm/tribun network/yud/dod)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/obat-covid-19-99898.jpg)