Rabu, 29 April 2026

China Peringatkan AS Soal Boikot Olimpiade Beijing 2022, Siap Ambil Tindakan Tegas

China berang dengan sikap Amerika Serikat memboikot diplomatik pelaksanaan Olimpiade Beijing 2022.

Tayang:
VCG via GLOBALTIME
China peringatkan Amerika Serikat soalnya sikap boikot diplomatiknya terkait Olimpiade Beijing 2022. Foto atlet China saat mengikuti olimpiade. 

TRIBUNBATAM.id - China memberi peringatan keras kepada Amerika Serikat yang mengumumkan pemboikotan diplomatik terhadap Olimpiade Beijing 2022.

Sikap ini setelah disampaikan beberapa jam setelah muncul laporan jika pemerintahan Joe Biden akan mengumumkan boikot.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki pada Senin (6/12) mengatakan jika Amerika Serikat (AS) mengumumkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.

Alasan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjadi salah satu hal yang mendasari AS memboikot Olimpiade Beijing itu.

Dengan sikap Amerika Serikat ini, para pejabat AS termasuk presiden tidak akan datang ke Olimpiade Beijing, tetapi para atletnya tetap bertanding.

Baca juga: Perusahaan China hingga Amerika Serikat Sahamnya Rontok Imbas Covid-19 Varian Omicron

Baca juga: Cadangan Migas Laut Natuna Utara yang Diklaim China, Singapura Sempat Dibuat Pusing

Selama berbulan-bulan, Pemerintah AS berusaha menemukan cara terbaik untuk memosisikan diri sehubungan dengan Olimpiade Beijing, yang diselenggarakan pada 4-20 Februari 2022.

Beberapa organisasi hak asasi manusia menuduh Beijing telah menahan setidaknya satu juta warga Muslim di Xinjiang di kamp re-edukasi.

"Pemerintahan Biden tidak akan mengirim perwakilan diplomatik atau resmi ke Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade Beijing 2022, mengingat genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan RRC yang sedang berlangsung di Xinjiang dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psak.

Menurutnya, mengirim perwakilan pemerintah ke Olimpiade akan menandakan bahwa terlepas dari pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan dan kekejaman di Xinjiang, Olimpiade itu bisnis seperti biasa.

"Dan kami (Amerika Serikat) tidak bisa melakukan itu," lanjutnya.

Menanggapi laporan tadi, Beijing mengatakan langkah seperti itu untuk mencari panggung.

"Saya ingin tekankan bahwa Olimpiade Musim Dingin bukanlah panggung untuk sikap dan manipulasi politik," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, dalam konferensi pers reguler pada Senin waktu setempat.

Baca juga: Penjara Super Ketat China Kebobolan oleh Orang Ini Hanya Hitungan Menit, Siapa Dia?

Baca juga: China Usik Laut Natuna Utara Kepri, Desak Indonesia Stop Pengeboran Migas

Ia pun memperingatkan AS agar berhenti membesar-besarkan isu boikot.

"Jika AS bertekad menempuh caranya sendiri, China akan mengambil tindakan balasan yang tegas," lanjut Zhao dikutip dari AFP.

Para aktivis mengatakan, setidaknya satu juta orang Uighur dan lainnya yang berbahasa Turki, sebagian besar minoritas Muslim, dipenjara di kamp-kamp Xinjiang.

China juga dituduh mensterilkan wanita secara paksa dan menerapkan kerja paksa di sana.

Digelar hanya enam bulan setelah Olimpiade Tokyo yang tertunda akibat pandemi, Olimpiade Beijing akan diadakan pada 4-20 Februari dengan pembatasan Covid-19.

NASIB Petenis China

Tidak hanya nasib Olimpiade Beijing 2022, publik sebelumnya sempat dibuat geger dengan pengakuan petenis China, Peng Shuai.

Ia bahkan sempat dikabarkan hilang selama beberapa pekan, meski akhirnya kembali muncul di publik.

Peng Shuai membuat gempar beberapa bulan lalu setelah mengungkap jika dirinya mengalami pelecehan seksual.

Tak tanggung-tanggung. Sosok yang disebutnya merupakan petinggi Partai Komunis China.

Sekaligus mantan Ketua Partai Komunis China, Zhang Gaoli.

Peng Shuai mengungkapkan pelecehan seksual itu lewat media sosial, Weibo.

Meski akhirnya dihapus oleh otoritas negeri tirai bambu itu.

Baca juga: China Buat AS hingga Inggris Cemas, Kembangkan Senjata Mematikan sampai Kecerdasan Buatan

Baca juga: Janji China Bantu Negara di Afrika Terkait Covid-19, Vaksin hingga Investasi Fantastis

Langkah negeri yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping tak sampai di situ.

Pencarian Peng Shuai di internet mendapat sensor oleh Pemerintah China.

Ketua sekaligus Asosiasi Tenis Perempuan (WTA), Steve Simon pun bereaksi terkait apa yang dialami Peng Shuai.

Ia pun mengambil langkah tegas dengan menangguhkan sejumlah turnamen yang rencananya diadakan di China tahun depan, termasuk turnamen akhir musim, WTA Finals.

Seperti dikutip Kompas.tv, Simon pun juga meminta agar diadakan investigasi yang transparan dan menyeluruh tanpa adanya sensor terkait tuduhan Peng Shuai.

Steve Simon mengkhawatirkan keselamatan Peng Shuai.

Ia juga menilai Pemerintah China tak serius menangani kasus ini.

"Meski kami tahu di mana Peng berada, saya sangat ragu ia dalam kondisi bebas, aman, dan tak menjadi korban dari sensor, intimidasi dan paksaan. Dengan hati nurani, saya tak bisa melihat bagaimana saya dapat meminta atlet kami untuk bersaing di sana, ketika Peng Shuai tak diizinkan untuk berkomunikasi secara bebas, dan tampaknya telah ditekan untuk menentang tuduhannya mengenai kekerasan seksual,” ujarnya katanya dikutip dari Sky News.

“Mengingat keadaan saat ini, saya juga prihatin dengan risiko yang dapat dihadapi semua pemain dan staf kami jika mengadakan acara di China pada 2022,” tambah Simon.(TribunBatam.id) (Kompas.com/Aditya Jaya Iswara/Haryo Jati/Ervan Yudhi Tri Atmoko)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang China

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved